BolaSkor.com - Argentina meraih trofi Piala Dunia pertama kali pada edisi 1978 di mana Mario Kempes menjadi bintang kemenangan. Namun, turnamen tersebut tidak berjalan sempurna lantaran diwarnai ancaman politik.
Piala Dunia 1978 adalah pengalaman ke-11 FIFA menyelenggarakan ajang akbar sepak bola empat tahunan itu.
Argentina terpilih menjadi tuan rumah sejak Juli 1966. Lebih dari 10 tahun berselang, Piala Dunia akhirnya digelar pada 1 Juni hingga 25 Juni 1978.
Baca Juga:
Kilas Balik Piala Dunia 1974: Format Baru, Rekor Gerd Muller, dan Kejayaan Jerman Barat
Kilas Balik Piala Dunia 1966: Kontroversi Gol Hantu dan Football's Coming Home
Piala Dunia kali ini dibagi menjadi empat grup. Masing-masing grup dihuni empat tim. Kemudian, dua terbaik dari masing-masing grup melangkah ke fase grup kedua.
Berikut adalah daftar pembagian grup pada Piala Dunia 1978:
- Grup 1: Argentina, Italia, Hungaria, Prancis
- Grup 2: Jerman Barat, Meksiko, Polandia, Tunisia
- Grup 3: Brasil, Swedia, Spanyol, Austria
- Grup 4: Belanda, Peru, Skotlandia, Iran
Kontroversi Piala Dunia 1978
Sayangnya, Piala Dunia 1978 diwarnai kontroversi dari pemimpin diktator Argentina ketika itu, Jorge Rafael Videla.
Sebab, Videla dikenal sebagai pemimpin yang menyelimuti Argentina dengan rasa takut. Bagaimana tidak, menurut laporan BBC pada 2013, sekitar 30 ribu orang dihilangkan secara paksa pada periode 1976 hingga 1983.
Sebagian besar di antara mereka berasal dari serikat pekerja, mahasiswa, jurnalis, dan individu yang aktif di gereja untuk melawan kemiskinan.
Mirisnya, Piala Dunia 1978 disusupi keinginan Videla untuk memperbaiki citra diri di mata internasional.
Bukan dengan blusukan, melainkan ambisi membuat Piala Dunia berjalan sukses dan membawa Argentina juara.
Hal itu dilakukan bukan semata harapan meraih prestasi, tetapi demi kepentingan diri sendiri.
Tidak tinggal diam, kelompok oposisi pun melakukan pergerakan bawah tanah untuk membuat dunia tersadar akan perlakuan Videla selama ini.
Satu di antaranya adalah dengan mengecat setiap tiang gawang di stadion dengan lingkaran hitam pada bagian bawah.
Bahkan, sejumlah negara dikabarkan ingin memboikot Piala Dunia 1978 karena mengetahui adanya kekerasan di Argentina. Satu di antara yang paling vokal adalah Belanda.
Namun, pada akhirnya negara yang lolos memilih tetap bertanding.
Jalan Argentina Tidak Mulus
Terlepas dari kontroversi, Piala Dunia 1978 berlangsung sukses bagi sang tuan rumah. Argentina keluar sebagai pemenang.
Pelatih Argentina ketika itu, Cesar Luis Menotti, mengambil keputusan besar dengan tidak memanggil Diego Maradona.
Ia menganggap usia Maradona yang baru 17 tahun masih terlalu muda. Maradona dinilai tidak kuat memanggul beban sebagai mesin gol La Albiceleste.
Keputusan itu sempat mengundang pertanyaan dari sejumlah pihak di Argentina. Sebab, Maradona dianggap sebagai satu di antara talenta terbaik yang dimiliki Argentina.
Apalagi, kemampuan Menotti juga diragukan setelah gagal menang dalam empat pertandingan beruntun di kandang melawan tim-tim Eropa menjelang Piala Dunia 1978.
Argentina keok kontra Jerman Barat dan hanya imbang melawan Inggris, Skotlandia, dan Prancis.
Penampilan Argentina pada babak grup pun tidak meyakinkan. Argentina lolos dengan status runner-up setelah meraih empat poin dari tiga laga.
Argentina kalah saing dengan Italia yang berada di puncak klasemen.
Hal itu tidak lepas dari kekalahan Argentina 1-0 melawan Gli Azzurri pada pertandingan terakhir.
Mario Kempes Unjuk Gigi
Menghadapi sorotan besar pada babak grup kedua, Argentina mencoba mencari juru selamat. Namun, ketika itu Lionel Messi belum ada. Bahkan, La Pulga belum dilahirkan ke dunia.
Lantas, siapa yang mengambil peran sebagai tulang punggung? Jawabannya adalah Mario Kempes.
Awalnya, Menotti mengatakan berulang kali tidak ada pemain yang bermain di luar Argentina yang akan masuk dalam skuad. Namun, ia menjilat ludah sendiri dengan memanggil Mario Kempes.
Alasannya pun bisa dimaklumi. Kempes yang ketika itu membela Valencia tampil trengginas dengan meraih Pichichi secara beruntun.
Akan tetapi, Kempes terlihat tidak bertaji pada babak grup pertama. Ia selalu gagal mencatatkan namanya di papan skor pada tiga laga awal.
Untungnya, awan hitam mulai menjauh dari langit Kempes. Ia mengemas brace ketika Argentina bersua Polandia pada babak grup kedua.
Empat hari berselang, Kempes gagal memecah kebuntuan ketika Argentina hanya bermain imbang 0-0 melawan Brasil.
Ketajaman Kempes pun kembali ketika dibutuhkan. Ia mencetak dua dari enam gol Argentina melawan Peru.
Ketika itu, Argentina butuh kemenangan dengan jarak minimal empat gol untuk menjadi juara grup dan melaju ke final.
Pada akhirnya, Argentina lolos ke final dengan keunggulan selisih gol meski punya perolehan poin yang sama dengan Brasil.
Usut punya usut, kembalinya ketajaman Kempes bukan hanya soal perform yang membaik. El Flaco selaku pelatih meminta Kempes mencukur kumis menjelang pertandingan melawan Polandia. Akhirnya, keran gol Kempes terus terbuka.
Argentina Membuat Belanda Kembali Mengubur Mimpi
Pada laga puncak, Argentina ditantang Belanda yang ketika itu ditukangi Ernst Happel.
Belanda melenggang ke final usai menjadi juara Grup A dengan memenangi persaingan melawan Italia, Jerman Barat, dan Austria.
Dengan demikian, Belanda memiliki peluang membalaskan dendam setelah gagal pada final edisi sebelumnya.
Pertandingan final digelar di Stadio Monumental, Buenos Aires, 25 Juni 1978. Laga itu dipimpin wasit asal Italia, Sergio Gonella.
Publik tuan rumah bersorak setelah Kempes menorehkan gol pada menit ke-38.
Namun, menjelang peluit panjang dibunyikan, Argentina lengah dan kebobolan. Sundulan Dirk Nanninga pada menit ke-82 membawa The Oranje menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Pertandingan pun berlanjut ke babak tambahan.
Sang El Matador, Kempes, kembali mendulang gol pada menit ke-105. Ia melewati tiga bek lawan sebelum menceploskan bola ke gawang Jan Jongbloed.
Sepuluh menit berselang, Kempes melengkapi penampilan apiknya pada hari itu dengan memberikan umpan matang kepada Daniel Bertoni dan membawa Argentina unggul 3-1.
Belanda yang tidak punya banyak waktu untuk mengejar dua gol pun harus puas kembali gagal meraih mahkota.
Mario Kempes pun menjadi top skor Piala Dunia 1978 dengan enam gol. Selain itu, ia juga menjadi pemain terbaik.