Piala Dunia

Kilas Balik Piala Dunia 1978: Ketika Mencukur Kumis Mario Kempes Membawa Keberuntungan untuk Argentina

Argentina sukses menjuarai Piala Dunia 1978 berkat aksi gemilang Mario Kempes. Namun, turnamen bersejarah itu juga dibayangi kontroversi rezim Jorge Rafael Videla dan isu politik Argentina.
Johan KristiandiJohan Kristiandi - Kamis, 28 Mei 2026
Kilas Balik Piala Dunia 1978: Ketika Mencukur Kumis Mario Kempes Membawa Keberuntungan untuk Argentina
Mario Kempes (thesefootballtimes)
Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BolaSkor.com - Argentina meraih trofi Piala Dunia pertama kali pada edisi 1978 di mana Mario Kempes menjadi bintang kemenangan. Namun, turnamen tersebut tidak berjalan sempurna lantaran diwarnai ancaman politik.

Piala Dunia 1978 adalah pengalaman ke-11 FIFA menyelenggarakan ajang akbar sepak bola empat tahunan itu.

Argentina terpilih menjadi tuan rumah sejak Juli 1966. Lebih dari 10 tahun berselang, Piala Dunia akhirnya digelar pada 1 Juni hingga 25 Juni 1978.

Baca Juga:

Kilas Balik Piala Dunia 1974: Format Baru, Rekor Gerd Muller, dan Kejayaan Jerman Barat

Kilas Balik Piala Dunia 1970: Trofi Bersejarah Jules Rimet dan Kejayaan Tim Terbaik Sepanjang Masa Brasil di Azteca

Kilas Balik Piala Dunia 1966: Kontroversi Gol Hantu dan Football's Coming Home

Piala Dunia kali ini dibagi menjadi empat grup. Masing-masing grup dihuni empat tim. Kemudian, dua terbaik dari masing-masing grup melangkah ke fase grup kedua.

Berikut adalah daftar pembagian grup pada Piala Dunia 1978:

  • Grup 1: Argentina, Italia, Hungaria, Prancis
  • Grup 2: Jerman Barat, Meksiko, Polandia, Tunisia
  • Grup 3: Brasil, Swedia, Spanyol, Austria
  • Grup 4: Belanda, Peru, Skotlandia, Iran

Kontroversi Piala Dunia 1978

Piala Dunia 1978 (FIFA)

Sayangnya, Piala Dunia 1978 diwarnai kontroversi dari pemimpin diktator Argentina ketika itu, Jorge Rafael Videla.

Sebab, Videla dikenal sebagai pemimpin yang menyelimuti Argentina dengan rasa takut. Bagaimana tidak, menurut laporan BBC pada 2013, sekitar 30 ribu orang dihilangkan secara paksa pada periode 1976 hingga 1983.

Sebagian besar di antara mereka berasal dari serikat pekerja, mahasiswa, jurnalis, dan individu yang aktif di gereja untuk melawan kemiskinan.

Mirisnya, Piala Dunia 1978 disusupi keinginan Videla untuk memperbaiki citra diri di mata internasional.

Bukan dengan blusukan, melainkan ambisi membuat Piala Dunia berjalan sukses dan membawa Argentina juara.

Hal itu dilakukan bukan semata harapan meraih prestasi, tetapi demi kepentingan diri sendiri.

Tidak tinggal diam, kelompok oposisi pun melakukan pergerakan bawah tanah untuk membuat dunia tersadar akan perlakuan Videla selama ini.

Satu di antaranya adalah dengan mengecat setiap tiang gawang di stadion dengan lingkaran hitam pada bagian bawah.

Bahkan, sejumlah negara dikabarkan ingin memboikot Piala Dunia 1978 karena mengetahui adanya kekerasan di Argentina. Satu di antara yang paling vokal adalah Belanda.

Namun, pada akhirnya negara yang lolos memilih tetap bertanding.

Jalan Argentina Tidak Mulus

Piala Dunia 1978 (FIFA)

Terlepas dari kontroversi, Piala Dunia 1978 berlangsung sukses bagi sang tuan rumah. Argentina keluar sebagai pemenang.

Pelatih Argentina ketika itu, Cesar Luis Menotti, mengambil keputusan besar dengan tidak memanggil Diego Maradona.

Ia menganggap usia Maradona yang baru 17 tahun masih terlalu muda. Maradona dinilai tidak kuat memanggul beban sebagai mesin gol La Albiceleste.

Keputusan itu sempat mengundang pertanyaan dari sejumlah pihak di Argentina. Sebab, Maradona dianggap sebagai satu di antara talenta terbaik yang dimiliki Argentina.

Apalagi, kemampuan Menotti juga diragukan setelah gagal menang dalam empat pertandingan beruntun di kandang melawan tim-tim Eropa menjelang Piala Dunia 1978.

Argentina keok kontra Jerman Barat dan hanya imbang melawan Inggris, Skotlandia, dan Prancis.

Penampilan Argentina pada babak grup pun tidak meyakinkan. Argentina lolos dengan status runner-up setelah meraih empat poin dari tiga laga.

Argentina kalah saing dengan Italia yang berada di puncak klasemen.

Hal itu tidak lepas dari kekalahan Argentina 1-0 melawan Gli Azzurri pada pertandingan terakhir.

Mario Kempes Unjuk Gigi

Piala Dunia 1978 (FIFA)

Menghadapi sorotan besar pada babak grup kedua, Argentina mencoba mencari juru selamat. Namun, ketika itu Lionel Messi belum ada. Bahkan, La Pulga belum dilahirkan ke dunia.

Lantas, siapa yang mengambil peran sebagai tulang punggung? Jawabannya adalah Mario Kempes.

Awalnya, Menotti mengatakan berulang kali tidak ada pemain yang bermain di luar Argentina yang akan masuk dalam skuad. Namun, ia menjilat ludah sendiri dengan memanggil Mario Kempes.

Alasannya pun bisa dimaklumi. Kempes yang ketika itu membela Valencia tampil trengginas dengan meraih Pichichi secara beruntun.

Akan tetapi, Kempes terlihat tidak bertaji pada babak grup pertama. Ia selalu gagal mencatatkan namanya di papan skor pada tiga laga awal.

Untungnya, awan hitam mulai menjauh dari langit Kempes. Ia mengemas brace ketika Argentina bersua Polandia pada babak grup kedua.

Empat hari berselang, Kempes gagal memecah kebuntuan ketika Argentina hanya bermain imbang 0-0 melawan Brasil.

Ketajaman Kempes pun kembali ketika dibutuhkan. Ia mencetak dua dari enam gol Argentina melawan Peru.

Ketika itu, Argentina butuh kemenangan dengan jarak minimal empat gol untuk menjadi juara grup dan melaju ke final.

Pada akhirnya, Argentina lolos ke final dengan keunggulan selisih gol meski punya perolehan poin yang sama dengan Brasil.

Usut punya usut, kembalinya ketajaman Kempes bukan hanya soal perform yang membaik. El Flaco selaku pelatih meminta Kempes mencukur kumis menjelang pertandingan melawan Polandia. Akhirnya, keran gol Kempes terus terbuka.

Argentina Membuat Belanda Kembali Mengubur Mimpi

Piala Dunia 1978 (FIFA)

Pada laga puncak, Argentina ditantang Belanda yang ketika itu ditukangi Ernst Happel.

Belanda melenggang ke final usai menjadi juara Grup A dengan memenangi persaingan melawan Italia, Jerman Barat, dan Austria.

Dengan demikian, Belanda memiliki peluang membalaskan dendam setelah gagal pada final edisi sebelumnya.

Pertandingan final digelar di Stadio Monumental, Buenos Aires, 25 Juni 1978. Laga itu dipimpin wasit asal Italia, Sergio Gonella.

Publik tuan rumah bersorak setelah Kempes menorehkan gol pada menit ke-38.

Namun, menjelang peluit panjang dibunyikan, Argentina lengah dan kebobolan. Sundulan Dirk Nanninga pada menit ke-82 membawa The Oranje menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Pertandingan pun berlanjut ke babak tambahan.

Sang El Matador, Kempes, kembali mendulang gol pada menit ke-105. Ia melewati tiga bek lawan sebelum menceploskan bola ke gawang Jan Jongbloed.

Sepuluh menit berselang, Kempes melengkapi penampilan apiknya pada hari itu dengan memberikan umpan matang kepada Daniel Bertoni dan membawa Argentina unggul 3-1.

Belanda yang tidak punya banyak waktu untuk mengejar dua gol pun harus puas kembali gagal meraih mahkota.

Mario Kempes pun menjadi top skor Piala Dunia 1978 dengan enam gol. Selain itu, ia juga menjadi pemain terbaik.

Timnas Argentina Mario Kempes Feature Piala Dunia Kilas Balik Piala Dunia Piala Dunia 2026 Piala Dunia

Johan Kristiandi

My name is Johan Kristiandi, a Sports Journalist and Content Writer with more than eight years of experience. A Journalism graduate from the IISIP Jakarta, I began my career at Bola.com before joining BolaSkor.com in 2018 under PT Merah Putih Media, where I cover football news, match analysis, transfer updates, and major international tournaments. I also contributed to FIFA+ Indonesia during the 2022 FIFA World Cup and have worked as a Freelance Writer for Netralnews.com, producing content across sports, politics, economics, lifestyle, and breaking news.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Spanyol
Jangan Harap Timnas Inggris Bermain Seperti Spanyol
Anthony Gordon menilai Timnas Inggris tak bisa meniru gaya bermain Spanyol. Ia meminta The Three Lions bangga dengan identitas sepak bola mereka sendiri.
Arief Hadi - Kamis, 24 September 2026
Jangan Harap Timnas Inggris Bermain Seperti Spanyol
Piala Dunia
Virgil van Dijk Dituding Pengaruhi Taktik Belanda di Piala Dunia 2026, Apa Benar?
Virgil van Dijk membantah tudingan dirinya memengaruhi taktik lima bek Belanda di Piala Dunia 2026 dan menyebut isu tersebut sebagai omong kosong.
Arief Hadi - Kamis, 24 September 2026
Virgil van Dijk Dituding Pengaruhi Taktik Belanda di Piala Dunia 2026, Apa Benar?
Italia
Dimulai dari Nol Pasca Gagal Lolos Piala Dunia Tiga Kali Beruntun, Italia Harus Melewati Era Kegelapan
Luca Toni menilai Italia harus memulai dari nol setelah tiga kali gagal lolos ke Piala Dunia dan mendukung Roberto Mancini memimpin perubahan.
Arief Hadi - Rabu, 23 September 2026
Dimulai dari Nol Pasca Gagal Lolos Piala Dunia Tiga Kali Beruntun, Italia Harus Melewati Era Kegelapan
Spanyol
Juara Euro dan Piala Dunia, Luis de la Fuente Memburu Rekor Baru dengan Timnas Spanyol
Luis de la Fuente memperpanjang kontrak dengan Spanyol hingga 2032. Usai juara Euro dan Piala Dunia, ia memburu rekor baru bersama La Furia Roja.
Arief Hadi - Selasa, 22 September 2026
Juara Euro dan Piala Dunia, Luis de la Fuente Memburu Rekor Baru dengan Timnas Spanyol
Liga Dunia
Timnas Argentina Menatap Era Baru Tanpa Sang GOAT, Lionel Messi
Argentina memasuki era baru tanpa Lionel Messi. Alexis Mac Allister meminta Tim Tango lebih kuat sebagai tim setelah kehilangan sang GOAT.
Arief Hadi - Selasa, 22 September 2026
Timnas Argentina Menatap Era Baru Tanpa Sang GOAT, Lionel Messi
Internasional
Catat! Lionel Messi Akan Mainkan Laga Terakhir dengan Argentina, Ini Tanggalnya
Lionel Messi akan menjalani laga perpisahan bersama Timnas Argentina melawan Benin pada 6 Oktober 2026 di Stadion Monumental, Buenos Aires.
Rizqi Ariandi - Rabu, 16 September 2026
Catat! Lionel Messi Akan Mainkan Laga Terakhir dengan Argentina, Ini Tanggalnya
Spanyol
Terungkap, Lamine Yamal Tidak Bahagia meski Juara Piala Dunia 2026 dengan Spanyol
Lamine Yamal mengaku tidak bahagia dengan penampilannya meski membawa Spanyol juara Piala Dunia 2026. Ia merasa masih bisa tampil lebih baik.
Arief Hadi - Senin, 14 September 2026
Terungkap, Lamine Yamal Tidak Bahagia meski Juara Piala Dunia 2026 dengan Spanyol
Internasional
Lionel Messi Gantung Sepatu dari Timnas Argentina, Nomor Punggung 10 Dipensiunkan?
Lionel Messi resmi pensiun dari timnas Argentina setelah Piala Dunia 2026. Lantas, siapa kandidat kuat pewaris nomor 10 La Pulga? Nico Paz jadi sorotan.
Johan Kristiandi - Kamis, 03 September 2026
Lionel Messi Gantung Sepatu dari Timnas Argentina, Nomor Punggung 10 Dipensiunkan?
Sosok
11 Momen Paling Berkesan Lionel Messi di Timnas Argentina
Dari debut pahit hingga juara Piala Dunia, berikut 11 momen paling berkesan Lionel Messi bersama timnas Argentina.
Arief Hadi - Rabu, 02 September 2026
11 Momen Paling Berkesan Lionel Messi di Timnas Argentina
Internasional
Teori Konspirasi di Balik Foto Surat Perpisahan Lionel Messi: Makna Pena Time-Turner di Harry Potter
Lionel Messi resmi pensiun dari timnas Argentina. Pena mirip Time-Turner Harry Potter dalam surat perpisahannya memunculkan teori soal makna tersembunyi.
Johan Kristiandi - Rabu, 02 September 2026
Teori Konspirasi di Balik Foto Surat Perpisahan Lionel Messi: Makna Pena Time-Turner di Harry Potter
Bagikan