BolaSkor.com - BolaSkor kembali melanjutkan ulasan bertajuk kilas balik untuk menyambut Piala Dunia 2026. Kali ini, edisi yang dibahas adalah Piala Dunia 1974.
Piala Dunia 1974 digelar di Jerman Barat pada 13 Juni hingga 7 Juli 1974.
Jerman Barat terpilih sebagai tuan rumah berkat lobi-lobi. Jerman Barat berhasil membujuk Spanyol untuk memberikan dukungan melangkah sebagai tuan rumah Piala Dunia 1974.
Baca Juga:
Kilas Balik Piala Dunia 1966: Kontroversi Gol Hantu dan Football's Coming Home
Kilas Balik Piala Dunia: Seikat Mawar Penghapus Ketegangan di Antara Amerika Serikat dan Iran
Sebagai gantinya, Jerman Barat mempersilakan Spanyol mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 1982 tanpa pesaing.
Piala Dunia 1974 juga menjadi awal lahirnya trofi baru yang dibuat oleh pematung asal Italia, Silvio Gazzaniga.
Trofi Jules Rimet yang sebelumnya menjadi lambang supremasi tertinggi sepak bola dunia diberikan secara permanen kepada Brasil yang berhasil meraih tiga gelar. Sayangnya, trofi tersebut kemudian dicuri.
Format Baru pada Piala Dunia
Menariknya, Piala Dunia 1974 digelar dengan format baru. Pertama, sebanyak 16 tim dibagi menjadi empat grup.
Kemudian, peringkat satu dan dua dari setiap grup melangkah ke babak selanjutnya. Babak yang dimaksud adalah fase grup lainnya yang dibagi menjadi dua.
Itu artinya, pada babak grup kedua kali ini dua grup yang tersedia dihuni oleh masing-masing empat tim.
Peringkat pertama pada masing-masing grup di fase itu mendapatkan tiket final. Sementara itu, posisi kedua melaju ke perebutan tempat ketiga.
FIFA beralasan sistem tersebut dipilih karena akan menyajikan pertandingan kompetitif yang lebih banyak.
Perjalanan Jerman Barat Juara Piala Dunia 1974
Sang juara, Jerman Barat, berada di Grup 1 bersama Jerman Timur, Chile, dan Australia.
Jerman Barat gagal menjadi juara grup setelah hanya meraih empat poin dari tiga pertandingan.
Sementara itu, posisi puncak menjadi milik Jerman Timur yang mengoleksi lima poin.
Pada babak grup kedua, Jerman Barat tergabung di Grup B bersama Polandia, Swedia, dan Yugoslavia. Jerman Barat menyapu bersih ketiga pertandingan dengan kemenangan.
Dengan demikian, perolehan enam poin membawa Jerman Barat melaju ke final dengan status juara Grup B.
Duel Panas Kontra Belanda di Final
Pada laga puncak, Jerman Barat ditantang Belanda. Pada era itu, Belanda sedang memuncaki sepak bola Eropa dengan gaya main total football.
Nama Johann Cruyff juga sedang harum pada saat itu. Ia membawa Belanda memuncaki klasemen Grup A sehingga berhak atas tiket final.
Duel final digelar di Stadion Olimpiade Munchen pada 7 Juli 1974. Laga itu dipenuhi pendukung tuan rumah dengan jumlah total penonton mencapai 75.200 orang.
Sementara itu, wasit asal Inggris, Jack Taylor, ditugaskan menjadi pengadil.
Belanda yang mengusung misi mempermalukan Jerman di depan pendukung sendiri unggul cepat pada awal babak pertama.
Wasit menunjuk titik putih setelah Cruyff dijatuhkan di kotak terlarang.
Johan Neeskens yang maju sebagai algojo menjalankan tugasnya dengan baik.
Unggul 1-0 justru membuat Belanda kehilangan fokus. Akibatnya, pemain Belanda melakukan pelanggaran kepada Bernd Hoelzenbein di kotak penalti.
Paul Breitner yang mendapatkan kepercayaan sebagai aksekutor tidak membuang kesempatan untuk menyamakan kedudukan.
Der Panzer pun mencatatkan comeback setelah Gerd Muller mendulang gol pada menit ke-43.
Muller melakukan gerakan memutar di dalam kotak penalti sebelum melepaskan tembakan ke sudut gawang.
Skor 2-1 untuk kemenangan skuad asuhan Helmut Schon itu bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
Dengan demikian, Jerman Barat menjadi negara Eropa pertama yang secara beruntun meraih gelar Piala Eropa (1972) dan Piala Dunia (1974).
Rekor Gerd Muller
Piala Dunia 1974 juga menjadi catatan spesial dalam karier Gerd Muller.
Dengan total 14 gol di Piala Dunia 1970 dan 1974, Muller menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia saat itu, melampaui rekor 13 gol Just Fontaine yang dicetak pada edisi 1958.
Butuh waktu berpuluh-puluh tahun hingga akhirnya rekor itu dipecahkan oleh Ronaldo Nazario (15 gol 2006) dan Miroslav Klose (16 gol 2014).