BolaSkor.com – Mantan pelatih Manchester United yang kini menangani AC Milan, Ruben Amorim, melontarkan sentilan pedas kepada para legenda Setan Merah yang kini aktif menjadi pengamat sepak bola.
Amorim menilai para mantan pemain tersebut terlalu banyak angkat bicara di ruang publik.
Menurutnya, mereka menilai situasi klub secara keliru karena masih terjebak pada standar era keemasan masa lalu yang sudah jauh berbeda.
Baca Juga:
Manchester United vs Sabah FK: Malam yang Sempurna untuk Setan Merah
Selama bertugas di Old Trafford, pelatih asal Portugal itu memang terus dihujani kritik tajam dari figur-figur ternama seperti Gary Neville, Roy Keane, Nicky Butt, hingga Paul Scholes.
Sindiran terbuka tersebut disampaikan Amorim, saat membahas dinamika tekanan media yang harus ia hadapi sewaktu melatih Manchester United sebelum akhirnya dipecat.
Para Legenda Man United Terjebak Standar Masa Lalu
Amorim secara terbuka menyoroti kebiasaan para legenda yang gemar melontarkan opini besar tanpa memahami dinamika internal tim.
Saya pernah berada di sebuah klub di masa lalu dengan banyak legenda, dan mereka memiliki opini-opini besar, serta banyak berbicara tentang berbagai hal. Mereka hidup di era yang sepenuhnya berbeda,
ujar Amorim dikutip dari Mirror.
Komentar tersebut menjadi balasan atas kritik Paul Scholes, yang sebelumnya sempat mengklaim bahwa Amorim bukanlah sosok yang tepat dan tidak memahami nilai-nilai serta standar di Manchester United.
Baca Juga:
Klasemen Liga Champions Terbaru: Manchester United dan Como Menyodok ke Papan Atas
Kendati demikian, juru taktik berusia 41 tahun itu mengaku sebenarnya memaklumi rasa frustrasi para pengamat tersebut terhadap kemerosotan performa Man United, yang kini sudah 13 tahun puasa gelar liga.
"Saya pikir itu normal. Menurut saya itu fakta bahwa saya, sebagai manajer Manchester United, kami tidak mencapai target," imbuh Amorim.
"Kami seharusnya mengoleksi lebih banyak poin, terutama musim ini. Jadi saya menerimanya secara alami," tuturnya.
Ia lantas menekankan bahwa para mantan pemain tersebut sejatinya tidak mengantongi informasi yang utuh mengenai kondisi tim saat ini.
Terkadang mereka tidak memiliki seluruh informasi dan mereka melihat Manchester United dengan standar yang mereka hidupi di sini, yang selalu menang. Jadi sulit bagi mereka untuk melihat klub mereka dalam situasi seperti ini,
urai Amorim.