BolaSkor.com – Kisah bak dongeng Cinderella sedang terukir di tepi Danau Como.
Skuad berjuluk I Lariani tersebut sukses mencetak sejarah dengan mengamankan tiket ke Liga Champions, usai mengunci posisi empat besar di klasemen akhir Serie A musim lalu.
Pencapaian mengagumkan dari klub yang bermarkas di kota berpenduduk 83 ribu jiwa ini melampaui ekspektasi para pendukung setia, yang terbiasa menyaksikan tim kesayangan mereka berjuang di kasta terbawah sepak bola Italia.
Baca Juga:
Legenda Italia Yakin Inter Milan dan Como Melangkah Jauh di Liga Champions
Tidak sekedar tampil di Liga Champions, Como juga menyajikan permainan menghibur bak keindahan danau Como.
Perjalanan Como dari divisi bawah Italia hingga kini di panggung tertinggi Liga Champions menjadi contoh: jangan pernah berhenti bermimpi.
Dari Kasta Keempat Serie D Menembus Panggung Utama Eropa
Perjalanan Como menuju panggung tertinggi Eropa berlangsung sangat cepat sejak diakuisisi oleh pengusaha asal Indonesia, Robert dan Michael Hartono, pada 2019 saat klub masih berkompetisi di Serie D.
Manajemen membangun fondasi secara perlahan namun pasti dengan melibatkan figur penting seperti Dennis Wise di jajaran manajemen, Thierry Henry sebagai pemegang saham minoritas, hingga Cesc Fabregas yang bergabung pada 2022.
Jurnalis dan pakar museum resmi klub, Enrico Levrini, mengakui kejutan besar ini.
Baca Juga:
Eksodus Pemain Chelsea: Mudryk dan Adarabioyo Gabung Tottenham, Sanchez Hengkang ke Como
"Mengenai kualifikasi kami ke Liga Champions, saya tidak pernah membayangkannya secepat ini, dan Cesc Fabregas juga mengakui hal yang sama," ungkap Levrini.
"Sejak awal, mereka menyatakan bahwa kota kami adalah tempat yang sempurna bagi mereka dan mulai melakukan pembangunan secara bertahap."
"Mereka mulai menunjuk orang-orang kunci untuk peran-peran penting, mulai dari bidang komunikasi hingga aspek olahraga. Dari Serie D, mereka melangkah maju secara perlahan namun pasti."
Peran Kunci Cesc Fabregas
Pelatih Como, Cesc Fabregas (Foto: Getty Images)
Fabregas memegang peran sentral dalam membentuk identitas Como, mulai dari mengarsiteki taktik tim, memoles pemain muda bakat seperti Nico Paz, hingga terlibat langsung dalam rekrutmen pemain.
Jurnalis Gazzetta dello Sport, Giulio Saetta, memuji kapasitas sang pelatih muda.
Dia (Fabregas) memiliki keunggulan ekstra; kami tidak memiliki seorang pun di sepak bola Italia dengan mentalitasnya.
Baca juga:
"Dia sangat berambisi tetapi juga melakukan segala sesuatu dengan benar dan tenang," ujar Saetta.
"Meskipun tidak berpengalaman sebagai pelatih, dia melakukannya dengan sangat baik," lanjut Saetta.
Bermain dengan visi, kreativitas saat masih aktif bermain, kini Como memiliki identitas Fabregas dengan sepak bola yang menghibur.
Pertumbuhan Bersama antara Klub dan Kota
Keberhasilan menembus Liga Champions membawa perhatian internasional, namun para suporter lama tetap berkomitmen menjaga identitas historis yang menyertai perjalanan klub dari kompetisi kasta bawah.
Suporter setia Como, Michela Trombetta, menyebut adanya ikatan emosional yang sangat erat antara tim dan masyarakat lokal.
"Ada rasa saling menghormati dan menghargai antara klub dan suporter; kami semua berjuang bersama untuk membantu Como berkembang," kata Trombetta.
Trombetta juga menambahkan bahwa para suporter lama selalu menyambut pendukung baru.
Baca Juga:
Tegas, Presiden Como Tidak Takut Dihukum UEFA karena Financial Fair Play
Banyak penggemar yang sempat mendukung tim lain kini kembali. Kami memiliki semangat yang besar,
tambah Trombetta. "Ada kelompok penggemar setia yang sudah lama mendukung klub dan kini membimbing para pendukung baru.
"Saya senang menyambut keluarga yang membawa anak-anak kecil ke stadion, karena merekalah masa depan."
"Selain itu, kami menempati peringkat keenam di Serie A dalam hal jumlah penggemar yang bepergian untuk menyaksikan pertandingan tandang."
"Itu pencapaian yang cukup bagus mengingat kami sempat lama berkompetisi di liga-liga kasta bawah."
Menatap Debut Bersejarah di Liga Champions
Kini, Como bersiap memasuki wilayah baru dan berhadapan dengan klub-klub raksasa Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah klub di Liga Champions.
Trombetta mengaku sangat emosional, menantikan momen ketika lagu kebangsaan kompetisi tertinggi Eropa tersebut berkumandang di Stadion Giuseppe Sinigaglia.
"Mendengar lagu kebangsaan Liga Champions di pertandingan Como adalah hal gila. Saya tidak sabar untuk menyanyikan bagian akhir dengan air mata di mata saya," pungkas Trombetta.