BolaSkor.com - Prahara di internal FIFA kian memanas usai Chief Operating Officer (COO) FIFA, Kevin Lamour, resmi mengundurkan diri dari jabatannya.
Keputusan ini diambil hanya beberapa pekan setelah ia menyampaikan kritik pedas secara terbuka terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Lamour, yang bergabung dengan jajaran pimpinan senior FIFA sejak November 2024 dan pernah menjadi bagian dari lingkaran dalam kampanye Infantino pada 2016, secara terbuka mempertanyakan kepemimpinan sang presiden.
Baca Juga:
Ketua BTN Bantah Rizky Ridho Dicoret dari Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026
Pengunduran dirinya dipicu oleh penolakan keras terhadap rencana penjualan hak komersial turnamen FIFA, dalam hal ini Piala Dunia.
Lamour melontarkan pernyataan menohok terkait tatanan kepemimpinan di induk organisasi sepak bola dunia tersebut, sebelum akhirnya memilih hengkang dari posisinya.
Misi kita... adalah melayani sepak bola, bukan melayani kepentingan pribadi seseorang yang, sayangnya, percaya bahwa dia menjelmakan FIFA padahal dia seharusnya bertugas melayaninya,
tegas Lamour baru ini.
Ancaman Pencalonan Infantino

Gianni Infantino (Mirror)
Langkah Lamour menyusul pengunduran diri Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino, yang lebih dulu mundur sebagai bentuk protes atas rencana penjualan 20 persen saham anak perusahaan komersial senilai 20 miliar dolar AS.
Cordeiro saat itu menyebut proposal tersebut sebagai "kesepakatan yang buruk bagi sepak bola".
Meski Infantino telah menarik kembali proposal penggalangan dana sebesar 4,2 miliar dolar AS tersebut, gelombang penolakan dari berbagai konfederasi seperti UEFA, AFC, dan CONCACAF tidak kunjung surut.
Kondisi ini membuat rencana pencalonan kembali Infantino untuk periode keempat pada Maret mendatang berada dalam ketidakpastian.
Baca Juga:
India Resmi Mundur dari FIFA ASEAN Cup, Lebih Pilih Hadapi Brasil Ketimbang Indonesia
Lembaga hak asasi manusia FairSquare bahkan telah bersurat kepada Komite Tata Kelola, Audit, dan Kepatuhan FIFA (GACC) agar Infantino dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk mencalonkan diri kembali sebagai presiden.
Direktur FairSquare, Nicholas McGeehan, menilai Infantino telah melanggar batasan tiga masa jabatan.
Keluhan yang kami ajukan memberikan bukti jelas bahwa ini adalah pelanggaran nyata terhadap aturan dan menetapkan preseden yang sangat berbahaya.
Aturan menyatakan secara jelas bahwa tiga masa jabatan presiden adalah batas maksimal yang diizinkan,
ujar McGeehan.
Mantan kepala Komite Tata Kelola FIFA, Miguel Maduro, turut menegaskan bahwa aturan batas masa jabatan diciptakan untuk membatasi kekuasaan.
"Prinsip batas masa jabatan adalah aspek mendasar dari reformasi 2016."
"Mencoba membuat pengecualian terhadap aturan seperti itu untuk Tuan Infantino menunjukkan resistensi terhadap prinsip batas masa jabatan," tegas Maduro.
Penolakan terhadap Infantino juga terus meluas ke tingkat federasi nasional, seperti CEO Federasi Sepak Bola Skotlandia, Ian Maxwell, yang mengonfirmasi bahwa organisasinya tidak akan mendukung pencalonan kembali Infantino.
Situasi ini menandai salah satu krisis kepemimpinan terbesar di tubuh FIFA sejak era Sepp Blatter.