BolaSkor.com – Mantan penyerang timnas Italia, Luca Toni, memberikan penilaian mengenai kondisi Azzurri yang harus memulai dari nol pada periode kedua era kepelatihan Roberto Mancini.
Terlebih, Italia juga dibayang-bayangin masa lalu kelam usai gagal menembus Piala Dunia dalam tiga edisi beruntun.
Toni, yang pernah menjuarai Piala Dunia 2006, menilai sepak bola negaranya kini berada di titik terendah, sehingga pembenahan total menjadi sebuah keharusan yang tak lagi bisa ditawar untuk keluar dari periode kelam.
Baca Juga:
Target Trofi pada Periode Dua Roberto Mancini Melatih Timnas Italia
"Ini adalah tahun nol karena keharusan, kecuali jika kami mulai menggali lebih dalam, dalam arti situasi tidak bisa lebih buruk lagi setelah tiga kali gagal lolos ke Piala Dunia," ujar Toni kepada Tuttosport.
"Satu-satunya kegembiraan datang dari menjuarai Euro pada 2021, tetapi selebihnya hanya kegelapan."
Tidak lolos ke Piala Dunia 2030 akan menjadi sebuah tragedi. Tidak ada definisi lain yang terlintas di pikiran.
Masalah Akar Rumput dan Dukungan untuk Mancini
Roberto Mancini (Foto: Bein Sports)
Lebih lanjut, Toni menegaskan bahwa keterpurukan Italia tidak bisa hanya dibebankan kepada sosok pelatih atau presiden federasi semata, melainkan ada masalah sistemik di tingkat pembinaan usia muda.
"Saya tidak ingin orang-orang sekarang, demi kemudahan, hanya berfokus pada pelatih atau presiden federasi," tegas Toni.
Kenyataannya adalah reformasi di tingkat usia muda sangat minim. Fasilitas kurang, pelatih purna waktu kurang, sementara ada pelatih paruh waktu yang melakukannya sebagai pekerjaan sampingan.
Toni juga menyindir kebijakan klub-klub lokal yang minim memberi ruang bagi talenta lokal, seraya menyebut keputusan Juventus menurunkan sepuluh pemain asing di posisi non-kiper sebagai sinyal yang sangat buruk bagi masa depan timnas.
Kendati demikian, Toni tetap memberikan dukungan penuh pada periode kedua Roberto Mancini melatih Italia, usai menggantikan Gennaro Gattuso.
"Mancini adalah orang terakhir yang meraih kemenangan bersama Italia," imbuh Toni.
Dia berpisah secara buruk dengan federasi karena masalah komunikasi yang sejujurnya tidak menyenangkan, tetapi saya ulangi, dia adalah seseorang yang tahu cara menang,
pungkasnya.