BolaSkor.com - Aturan baru jeda minum atau hydration break di Piala Dunia 2026 kembali mendapat sorotan tajam. Kali ini, evaluasi kritis datang langsung dari pelatih timnas Argentina, Lionel Scaloni.
Sang juru taktik merasa kebijakan jeda tersebut sangat berdampak pada intensitas pertandingan di atas lapangan. Scaloni menilai ritme permainan menjadi sangat terpecah karena laga terus-menerus dihentikan oleh wasit.
"Tidak ada pertandingan yang mudah, terutama di babak penyisihan grup," ujar Scaloni kepada awak media dikutip dari ESPN.
Baca Juga:
Di Tengah Kesulitan, Iran Bermain Baik di Piala Dunia 2026
Prediksi dan Statistik Prancis vs Irak: Amankan Tiket 32 Besar Piala Dunia 2026
Tijjani Reijnders Bukan Satu-satunya Pemain Keturunan Indonesia di Piala Dunia 2026
"Secara historis, tetapi sekarang juga dengan format 48 tim, babak penyisihan grup selalu sulit."
Sekarang dengan kondisi panas dan jeda minum. Permainan dihentikan terus-menerus, mungkin itu memberikan bantuan kepada tim yang lebih lemah karena mereka memiliki waktu untuk memperbaiki segalanya,
keluhnya.
Ia menilai jeda tersebut memberikan ruang yang cukup menguntungkan bagi lawan.
"Mereka punya waktu untuk menyesuaikan diri. Pada akhirnya, itu dilakukan untuk memiliki lebih banyak waktu, tetapi itu memecah permainan."
Konsep Empat Babak yang Memecah Fokus
Jeda minum timnas Inggris (Foto: Reuters)
Jeda minum dilakukan dua kali di babak pertama dan kedua, membuat dalam 90 menit pertandingan laga terpecah menjadi empat kuarter.
"Ini menjadi empat kuarter lalu di paruh waktu kami hanya memiliki tiga menit untuk berbicara dengan pemain di antara mereka masuk dan kembali (ke lapangan). Tapi itu sudah terjadi," sambungnya pasrah.
"Konsep 'empat periode' itu nyata. Antara waktu pemain tiba dan pergi, kami hanya memiliki waktu tiga setengah menit di babak pertama untuk berbicara dengan mereka," tambah Scaloni menyoroti minimnya waktu jeda.
"Itulah cara kerjanya, dan di sinilah kita. Rencana apa pun yang ada di pikiran saya dapat berubah berdasarkan apa yang terjadi selama 22 atau 23 menit itu."
"Kami memiliki pemain penyerang di lapangan, ditambah opsi cadangan kami. Kami mencari solusi, sama seperti saat jeda normal," urainya.
Scaloni kemudian mengklarifikasi pernyataannya soal keuntungan bagi tim lemah.
"Mungkin saya menyesatkan saat menyebutkan itu menguntungkan tim yang lebih lemah, itu juga membantu sisi penyerang melakukan koreksi," imbuhnya mengklarifikasi.
"Terasa aneh beradaptasi dengan ini. Pada akhirnya, ini akan menjadi norma, sama seperti peningkatan lainnya."
"Untuk saat ini, rasanya tidak biasa karena alirannya sangat terpecah. Kami mencoba menganalisis dan melakukan penyesuaian," jelas sang pelatih.
Pelatih peraih gelar juara dunia 2022 ini tetap merasa optimis terkait regulasi tersebut ke depannya.
"Pertandingan berlangsung dengan cara berbeda, bahkan di dalam babak pertama itu saja. Saya yakin ini akan membaik," pungkasnya.