BolaSkor.com - Pengurus Besar Tinju Amatir Indonesia (Perbati) menjadikan hasil Asian Games 2026 sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan prestasi tinju Indonesia ke depan.
Tim tinju Indonesia memang belum berhasil membawa pulang medali dari Asian Games 2026 yang berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang.
Lima petinju yang dikirim Perbati harus mengakhiri perjuangan mereka sebelum mencapai babak semifinal. Capaian terbaik diraih dengan menembus perempat final.
Lima petinju tersebut adalah Nabila Maharani (54kg), Huswatun Hasanah (65kg), Jill Mandagie (55kg), Asri Udin (60kg), dan Maikhel Muskita (80kg).
Baca Juga:
Bawa Pulang 2 Medali Asian Games, Tim Menembak Indonesia Mulai Tatap Olimpiade 2028
Maikhel menjadi salah satu petinju yang harus terhenti di perempat final. Ia kalah dari petinju Korea Selatan, Minseong Kim, melalui keputusan juri.
Dari lima juri, hanya satu yang memberikan kemenangan kepada Maikhel. Sementara empat juri lainnya memilih Kim sebagai pemenang.
Maikhel mengaku kecewa dengan hasil tersebut. Namun, petinju berusia 29 tahun itu ingin menjadikan pengalaman di Asian Games 2026 sebagai bahan pembelajaran untuk menghadapi pertandingan berikutnya.
Pasti sebagai atlet, kami saat bertanding juga, pas keputusan itu, saya yakin menang. Sebab, di ronde ketiga, saya push lawan. Cuma keputusan-keputusan wasit itu menilai saya kalah,
kata Maikhel kepada awak media, termasuk BolaSkor.com di Jakarta, Sabtu (3/10).
"Saya sangat-sangat kecewa karena latihan bukan satu hari saja. Butuh waktu yang harus kita korbankan, orang tua, kerja, segala macam dan memang hati sudah buat tinju."
"Ya, ke depan belajar dari kesalahan juga bersama pengurus supaya kami bisa upgrade yang maksimal," tambahnya.
Evaluasi untuk Hadapi SEA Games dan Olimpiade
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Perbati, Hengky Silatang, menilai kualitas petinju Indonesia sebenarnya tidak terlalu jauh dari negara-negara yang memiliki tradisi kuat di cabang olahraga tinju.
Namun, Hengky melihat masih ada sejumlah aspek yang perlu diperbaiki, khususnya dalam persiapan jangka panjang.
Salah satunya adalah kebutuhan terhadap pelatih fisik yang secara khusus menangani kondisi para atlet selama menjalani pemusatan latihan.
"Secara kualitas kami tidak tertinggal dengan negara-negara yang banyak juara-juara Olimpiade. Hanya memang mesti training center berkepanjangan, dan evaluasinya paling tidak ada khusus pelatih fisik untuk menangani si atlet," ujar Hengky.
Hengky menegaskan Perbati tidak ingin menjadikan hasil Asian Games 2026 sebagai alasan untuk saling menyalahkan. Sebaliknya, kegagalan meraih medali dijadikan momentum untuk melakukan pembenahan.
Kami tidak menyalahkan kesemuanya. Saya sebagai pengurus juga bertanggung jawab dan ini adalah cambuk untuk bisa berbicara,
tuturnya.
Karena targetnya paling tidak ke depan bisa lolos di Olimpiade, selain nanti SEA Games di Malaysia,
imbuh Hengky.
Selain aspek fisik dan persiapan jangka panjang, Perbati juga mencatat masih ada faktor nonteknis yang perlu diperhatikan ketika atlet bertanding.
Hengky memastikan seluruh catatan tersebut akan menjadi bahan evaluasi. Perbati ingin melakukan pembenahan secara menyeluruh agar prestasi tinju Indonesia dapat meningkat pada ajang-ajang berikutnya.
"Jadi kami harus benahi dan semua unsur-unsur, termasuk saya, semua harus tahu. Kami menyadari dan mengakui itu perlu ada pembenahan secara total agar hasilnya bisa lebih baik ke depan," pungkasnya.