BolaSkor.com - Di tengah inkonsisten performa pada musim 2025/2026, Chelsea masih dapat menghibur fans dengan peluang memenangi trofi.
Seraya menjaga asa bersaing masuk zona Liga Champions di Premier League, The Blues berpotensi meraih trofi jika menang di final Piala FA kontra Manchester City.
Di satu sisi, Chelsea juga tengah mencari pelatih baru usai memecat Liam Rosenior dan posisi pelatih kini ditempati Calum McFarlane hingga akhir musim.
Baca Juga:
Bukan ke Chelsea, Cesc Fabregas Disiapkan sebagai Suksesor Mikel Arteta di Arsenal
Chelsea vs AC Milan di Indonesia pada 8 Agustus 2026, Berikut Link Beli Tiketnya
Demi Fans, Chelsea Harus Mengalahkan Manchester City di Final Piala FA
Nama-nama top seperti Cesc Fabregas, Oliver Glasner, Mauricio Pochettino, hingga Andoni Iraola dikaitkan, tetapi ada satu nama yang menarik perhatian dan di luar radar: Francesco Farioli.
Pelatih dengan Persentase Menang 74 Persen
Dituturkan oleh TeamTalk, Farioli masuk ke dalam radar transfer Chelsea dan menjadi prioritas meski baru-baru ini menegaskan akan tetap melatih Porto.
"Saya adalah pelatih Porto dan saya sangat senang berada di sini," tegas Farioli dikutip dari Sport TV. Farioli juga menjawab dengan tegas kala ditanya jika ia menerima tawaran bagus melatih Chelsea, "Ya, tentu saja (bertahan di Porto)," tambahnya.
Kendati secara terang-terangan menolak Chelsea, hierarki klub tetap menempatkan namanya di dalam daftar kandidat pelatih.
Melatih Porto sejak 2015, Farioli (37 tahun) memiliki persentase menang 74 persen dengan 37 kemenangan dari 50 laga.
Farioli dinilai sebagai salah satu pelatih muda progresif berbakat di sepak bola Eropa.
Pelatih asal Italia memulai karier kepelatihan senior di klub Turki, Fatih Karagumruk pada usia 31 tahun, sebelum pindah ke Alanyaspor dan menjadi asisten pelatih.
Mendapatkan perhatian, Farioli pindah ke Nice, klub Ligue 1, dan sejak saat itu namanya kian dikenal di Eropa dan hampir membawa Ajax Amsterdam juara Eredivisie.
Farioli pelatih inovatif dengan mengutamakan penguasaan bola, sistem bermain secara posisi, dan terinspirasi Roberto De Zerbi dengan caranya membangun serangan dari belakang.