BolaSkor.com – Impian lama Wan Kuzain Wan Kamal untuk mengenakan jersey timnas Malaysia akhirnya menjadi kenyataan pada gelaran Piala AFF 2026.
Pemain berusia 27 tahun tersebut melakoni debutnya bersama skuad Harimau Malaya saat menang 2-1 atas Myanmar di Yangon.
Pemain kelahiran Carbondale, Illinois, Amerika Serikat ini dipanggil oleh pelatih sementara Tan Cheng Hoe.
Wan Kuzain masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua dan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya setelah menunggu sekian lama.
Baca Juga:
Rizky Ridho Kapten Timnas Indonesia di Piala AFF 2026
Legenda Persija Sebut Beckham Putra Bisa Jadi Pembeda Timnas Indonesia di Piala AFF 2026
"Saya sangat, sangat, sangat bersemangat. Saya pikir saya tidak berhenti tersenyum sejak berada di sini," ungkap Wan Kuzain mengenai debut bahagianya bersama Malaysia, dikutip dari laman resmi Piala AFF 2026.
"Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Ini berarti segalanya dan lebih dari itu."
Perjalanan karier Wan Kuzain terbilang unik karena ia tumbuh besar di Amerika Serikat.
Bakat sepak bolanya mulai tercium sejak kecil ketika sang kakak mengunggah video keterampilannya ke platform YouTube hingga menjadi sensasi viral di Malaysia.
Pengorbanan Keluarga dan Inspirasi dari Sosok Tiger Woods
Kecintaan Wan Kuzain pada sepak bola tumbuh karena sering mengikuti ayah dan kakaknya, Wan Kuzak, bermain.
Bakat besarnya kemudian ditempa di St. Louis Scott Gallagher Academy, salah satu akademi remaja paling bergengsi di Amerika Serikat.
Demi mengasah bakat sang anak, orang tuanya rela menempuh perjalanan jauh berjam-jam setiap kali latihan.
Pengorbanan luar biasa dari kedua orang tuanya menjadi fondasi kuat bagi karier sepak bolanya hingga berhasil menembus Major League Soccer (MLS) bersama Sporting Kansas City, dan kini Wan Kuzain membela Sporting JAX.
"St. Louis Scott Gallagher tidak dekat dari tempat saya tumbuh besar, jaraknya sekitar dua jam," tambah Wan Kuzain bercerita.
"Jadi dari usia 10 hingga 17 tahun, orang tua saya mengemudikan mobil dua jam untuk latihan, dua jam pulang, lalu menambah dua jam lagi menunggu saya."
Itu adalah perjalanan pulang pergi enam atau tujuh jam yang kebanyakan orang tua Malaysia tidak akan lakukan. Orang tua saya telah banyak berkorban,
tutur Wan Kuzain.
Selain dukungan keluarga, Wan Kuzain mengaku sangat mengagumi legenda golf dunia, Tiger Woods.
Sosok mantan pegolf nomor satu dunia yang memiliki garis keturunan Thailand tersebut menjadi inspirasi utamanya dalam mendobrak batasan di dunia olahraga.
Dia setengah Afrika-Amerika, setengah Thailand, dan ayah saya selalu menyebut ibunya adalah orang Thailand dan dia memiliki sesuatu yang serupa dengan Anda. Dia (Woods) adalah idola saya saat tumbuh dewasa,
papar Wan Kuzain.
"Saya tahu ini olahraga yang berbeda, tetapi hal-hal tak berwujud yang dia bawa ke golf adalah sesuatu yang selalu saya coba bawa ke sepak bola."
"Jika ada orang yang terlihat sangat mirip dengan saya atau memiliki latar belakang yang sama dengan saya bisa melakukannya, mengapa saya tidak bisa?" terangnya.
Mental dan Ambisi Tinggi Mengulang Kejayaan 2010
Menatap laga kandang Grup B melawan Laos di Stadion Sepak Bola Kuala Lumpur, pemain berkaki kidal ini siap menunjukkan kualitas terbaiknya secara langsung di hadapan publik Malaysia.
"Saya bersemangat untuk bermain langsung di depan negara ini dan menunjukkan kepada semua orang apa yang mungkin belum mereka lihat, atau hanya dilihat di video," tambah Wan Kuzain.
"Saya pikir saya serba bisa dan satu hal yang saya inginkan adalah saya dinamis. Saat berada di lapangan, saya bisa membuat perbedaan," tegasnya.
Malaysia sejauh ini baru satu kali merengkuh trofi Piala AFF pada edisi 2010 silam. Meski kawasan Asia Tenggara belakangan didominasi oleh Thailand dan Vietnam, Wan Kuzain mengajak rekan-rekannya untuk berani bermimpi tinggi.
"Saya tahu kami pernah memenanginya. Saya telah melihat tayangan ulang dan melihat gol-golnya. Tapi maksud saya, mengapa tidak mengulangnya (2010)?" yakin Wan Kuzain.
Saya pikir tumbuh besar di Amerika, Anda selalu diberitahu untuk mengejarnya (trofi). Dan itu adalah satu hal yang ingin saya bawa (ke tim).
"Mentalitas di sini adalah siapa yang peduli jika Anda tim terbaik atau tim terburuk. Pada akhirnya, semua orang memulai dengan nol poin."
Ia berharap pencapaiannya dapat memotivasi generasi muda Malaysia berikutnya untuk tidak takut merajut impian tinggi di panggung sepak bola internasional.
"Saya bersemangat untuk mewakili negara saya, negara yang telah mengenal saya sejak saya berusia sembilan, 10 tahun ketika video viral itu keluar. Saya bersemangat untuk bermain dan membela lambang ini, membela bendera, dan melangkah maju dengan baik," pungkasnya.