BolaSkor.com - Ketika membicarakan momen-momen bersejarah Piala Dunia, maka pembicaraan seputar Piala Dunia 1994 tidak pernah terlewatkan.
Berlangsung di Amerika Serikat (AS), yang kini menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026, Piala Dunia edisi ke-15 dimulai dan diikuti oleh 24 negara.
Perhelatan di Amerika itu juga menghapus stigma atau nada skeptis soal sepak bola di Negeri Paman Sam.
Baca Juga:
5 Pemain Termuda di Piala Dunia 2026, Salah Satunya Titisan Mesut Ozil
Piala Dunia 2026: Variasi Serangan di Lini Depan Timnas Jerman
Cerita Piala Dunia 2026: Lalui 17 Negara dengan Sepeda, Tiga Fans Argentina Tiba di Amerika Serikat
Statistik memperlihatkan Piala Dunia 1994 memiliki total 3,6 juta penonton di 52 pertandingan yang digelar di sembilan kota.
Peserta dan Kontroversi
Terbagi dari lima benua: Eropa, Amerika Selatan, Amerika Utara dan Tengah, Afrika, dan Asia, berikut 24 timnas di Piala Dunia 1994:
- Eropa (UEFA): Jerman, Italia, Belanda, Spanyol, Bulgaria, Rumania, Belgia, Yunani, Norwegia, Republik Irlandia, Rusia, Swedia, Swiss.
- Amerika Selatan (CONMEBOL): Brasil, Argentina, Kolombia, Bolivia.
- Amerika Utara dan Tengah (CONCACAF): Amerika Serikat (Tuan Rumah), Meksiko.
- Afrika (CAF): Kamerun, Maroko, Nigeria.
- Asia (AFC): Arab Saudi, Korea Selatan.
Format yang digunakan juga berupa fase grup yang terdiri dari enam grup, masing-masing-masing empat tim di satu grup, dan peringkat tiga terbaik dapat lolos ke fase gugur selain dua besar.
Perjalanan berlanjut ke fase gugur mulai dari 16 besar, perempat final, semifinal, hingga final. Tentu saja, sejumlah kontroversi juga mewarnai Piala Dunia 1994 Amerika Serikat.
Dua yang paling sering dibahas adalah skandal doping legenda Argentina, Diego Maradona, dan tragedi Andres Escobar.
Diego Maradona dipulangkan dari turnamen setelah dinyatakan positif menggunakan efedrin pada tes doping kontra Yunani. Itu menjadi akhir dari perjalanan Maradona dalam karier internasionalnya.
Berikutnya, tragedi saat bek timnas Kolombia, Andres Escobar, ditembak mati di luar sebuah bar setelah mencetak gol bunuh diri kontra AS yang membuat negaranya tersingkir. Sampat ini, tragedi tersebut masih jadi pemberitaan media.
Selain sisi kontroversi, Piala Dunia 1994 juga menghadirkan catatan menarik seperti kejutan dari Bulgaria yang diperkuat Hristo Stoichkov dan Swedia yang meraih peringkat ketiga.
Akan tapi jika berbicara soal sorotan utama di Piala Dunia 1994 tidak lepas dari final antara Brasil vs Italia.
Suka Cita Brasil, Kekecewaan The Divine Ponytail
Dua negara kuat dan pemilik juara terbanyak Piala Dunia, Brasil dan Italia, bertemu di final yang dimainkan di Rose Bowl, Pasadena.
Brasil arahan Carlos Alberto Parreira memiliki Carlos Dunga, Bebeto, Romario, hingga Cafu.
Sedangkan Italia dilatih Arrigo Sacchi, memiliki Roberto Baggio dan Daniele Massaro di lini depan, serta duet bek legenda AC Milan, Franco Baresi dan Paolo Maldini.
Final berlangsung ketat di antara kedua tim hingga harus ditentukan via adu penalti. Skor sama kuat 0-0 berlangsung hingga babak tambahan.
Pada momen penalti itulah salah satu momen tertangkap kamera, diabadikan dalam jangka waktu panjang - tak lekang oleh waktu - sebagai salah satu momen dengan pemandangan dua ekspresi berbeda dalam sejarah Piala Dunia.
Baggio, mengambil penalti terakhir (kelima) dalam tekanan tinggi setelah Baresi dan Massaro gagal mencetak gol (satu penendang Brasil, Marcio Santos juga gagal).
Masuk atau berakhir. Di tengah pilihan tersebut, Baggio menendang bola dan sepakannya melesat di atas gawang Brasil yang dijaga Claudio Taffarel.
Selepas kegagalan tersebut, kepala Baggio menunduk, tidak bergerak dari posisinya. Di sekitarnya, para pemain Brasil berlari menghampiri Taffarel dan bersuka cita bersama fans di Rose Bowl.
"Itu momen terberat dalam karier saya," demikian tulisan Baggio dalam buku autobiografi "Una Porta Nel Cielo".
"Sebelum berangkat ke laga final, guru spiritual Budha saya bilang kalau saya akan menghadapi banyak masalah dan semuanya akan ditentukan di menit-menit terakhir."
"Saat itu saya tak menyadari kalau prediksinya akan sangat akurat."
Bagi Brasil, itu trofi Piala Dunia keempat yang diraih setelah terakhir menang pada 1970. Sementara untuk fans Italia, itu bukan akhir dunia karena mereka menjadi juara pada 2006.
Kegagalan Roberto Baggio tidak menjadikannya musuh publik nomor satu, mengingat perjuangannya bermain menahan cedera dan ia menjadi protagonis di fase gugur. Respek publik kepadanya menjadikannya salah satu legenda sepanjang masa Italia.