"Kami mengutuk dan prihatin pada kenyataan bahwa saat melakukan pekerjaan mereka, puluhan jurnalis dipukuli dan dilarang melakukan pekerjaan peliputan," kata Claudio Paolillo, ketua komite IAPA. Paolillo menambahkan aksi kekerasaan terhadap jurnalis kebanyakan terjadi ketika meliput aksi unjuk rasa yang dilakukan pemrotes Piala Dunia. Sesuai data dari The Brazilian Investigative Journalism Association, sejak aksi unjuk rasa mulai marak pada Mei 2013, muncul lebih dari 190 kasus kekerasan terhadap jurnalis dengan 15 dari 17 kasus terbaru melibatkan pihak keamanan yang ditengarai menggunakan kekuatan berlebihan terhadap wartawan. Dalam sepekan sejak Piala Dunia bergulir, sejumlah jurnalis yang menjalankan tugas di Belo Horizonte, Fortaleza, Porto Alegre, Rio de Janeiro, dan Sao Paulo dilaporkan jadi korban penyerangan. Mereka di antaranya bekerja untuk CNN, Reuters, The Associated Press, dan lainnya.