BolaSkor.com - Penerapan aturan jeda minum atau hydration break di pentas Piala Dunia 2026 terus memicu polemik. Kebijakan baru ini menghadirkan gelombang pro dan kontra yang cukup tajam di kalangan penggemar sepak bola.
Kapten Belanda, Virgil van Dijk, sebelumnya angka bicara soal penerapan jeda minum yang diterapkan terjadi pada 22 menit pertama laga di babak pertama, serta 22 menit babak kedua.
"Menurut saya, jeda minum itu sangat menarik. Saya jelas menonton hampir semua pertandingan sampai hari ini. Saya rasa setiap kali jeda iklan itu agak, bukan sesuatu yang saya sukai," papar Van Dijk.
Baca Juga:
Kinclong di Laga Debut, Luis Diaz Siap Jadi Aktor Utama Kolombia di Panggung Piala Dunia 2026
Klasemen Sementara Grup K-L Piala Dunia 2026: Portugal di Urutan Tiga, Inggris Ditempel Ketat Ghana
Hasil Piala Dunia 2026: Ghana Menang Dramatis, Kolombia Atasi Perlawanan Uzbekistan
Sumber kritik utama mengarah pada kecurigaan bahwa jeda tersebut sekadar dipandang sebagai ajang meraup pendapatan finansial ekstra. Pihak penyiar dinilai memanfaatkannya untuk menayangkan lebih banyak jeda iklan komersial.
Isu Komersialisasi dan Amerikanisasi
Jeda minum ini jelas hanya untuk satu tujuan, dan itu adalah uang besar untuk iklan,
kritik salah satu pendukung timnas Inggris usai menyaksikan pertandingan secara langsung, dilansir dari BBC Sport.
"Di stadion ini, saya pikir itu tidak diperlukan, tetapi di stadion lain tanpa AC dan Anda bermain di suhu 90 derajat lebih, itu sangat penting."
Pendukung Inggris lainnya turut menimpali kebijakan ini. "Ya, jika Anda berada di luar ruangan Anda butuh jeda minum, saya paham. Namun Anda berada di stadion ber-AC - Anda tidak membutuhkannya."
Jeda ini dinilai sangat merusak intensitas jalannya laga. "Ini menghentikan ritme. Sepak bola adalah tentang ritme dan tidak perlu menghentikan ritme di stadion ber-AC," tegas suporter tersebut.
Perubahan laga yang seolah terbagi menjadi empat kuarter juga menuai cibiran keras dari tribun.
Ini seperti Amerikanisasi sepak bola di sini,
keluh seorang penonton yang merasa sangat terganggu.
"Ini mengubah permainan menjadi empat babak dan saya tidak menyukainya. Saya mengerti mengapa orang-orang menyorakinya dan saya adalah salah satu dari mereka," imbuhnya memberikan alasan.
Sisi Positif dan Harapan Suporter
Meski banyak yang menolak, ada sebagian suporter yang melihat sisi positif dari kebijakan ini. "Saya pikir ini hanya dipasarkan dengan buruk," ujar seorang penggemar lainnya mencoba memberikan pandangan berbeda.
"Jika ini tidak disebut jeda minum, dan disebut waktu rehat, maka semua orang tidak akan melewatkan gol," jelas suporter tersebut memberikan usulan terkait penamaan jeda yang lebih tepat.
Menurutnya, aturan ini bisa disikapi sebagai sebuah kompromi. "Saya pikir kita harus memikirkannya dengan cara baru, badan korporat mendapatkan apa yang mereka inginkan, kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan semua orang senang."
Namun, ancaman akan standar baru tetap membayangi pikiran fans. "Tidak akan lama lagi sebelum ini menjadi jeda iklan alami," ucap pendukung Inggris usai kekalahan Kroasia di Stadion Dallas.
Suporter lain menimpali, "Saya harap ini tidak menjadi bagian tak terpisahkan dari sepak bola Inggris karena itu akan benar-benar menghancurkannya," harapnya.