BolaSkor.com - Piala Dunia 2002 akan selalu dikenang karena berbagai hal, mulai dari Piala Dunia pertama di Asia, kesuksesan Brasil menjadi juara untuk kali kelima, hingga kejutan berbalut kontroversi yang mengiringi perjalanan Korea Selatan.
Tahun 2002 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Piala Dunia dihelat di Asia. Jepang dan Korea Selatan didapuk sebagai tuan rumah.
Dua tim tuan rumah berhasil melaju ke babak 16 besar (knock out). Sayangnya, langkah Jepang terhenti di babak itu, tetapi Korea Selatan di luar dugaan mampu menembus babak semifinal dan menjadi tim peringkat keempat.
Baca Juga:
Piala Dunia 2026: Hadiah Uang Melonjak 50 Persen, Juara Diguyur Rp890 Miliar
Piala Dunia 2026: Timnas Kongo Tetap Berangkat di Tengah Wabah Ebola
Profil Grup J Piala Dunia 2026: Argentina Terdepan, Austria, Aljazair, dan Yordania Mengintai
Catatan yang diukir Korea Selatan itu menjadi pencapaian terbaik sepanjang sejarah keikutsertaan tim Asia di Piala Dunia. Namun, banyak cerita kontroversial mengiringi kesuksesan Taeguk Warriors di Piala Dunia 2002. Bagaimana ceritanya?
Kubur Portugal di Babak Grup
Korea Selatan tergabung di Grup D bersama Portugal, Amerika Serikat, dan Polandia. Di atas kertas, Korea Selatan sama sekali tidak dijagokan untuk lolos dari babak grup.
Namun, kenyataannya berbeda. Dari tiga laga, Korea Selatan asuhan Guus Hiddink berhasil meraih dua kemenangan dari satu kali imbang tanpa tersentuh kekalahan.
Satu di antara dua kemenangan itu diraih dari Portugal yang masih dibela oleh Luis Figo. Portugal tumbang 0-1 dari Korea Selatan lewat gol Park Ji-sung.
Korea Selatan menjadi juara grup dengan 7 poin dan lolos ke babak 16 besar didampingi Amerika Serikat. Negeri Abang Sam unggul satu poin dari Portugal yang secara mengenaskan tersingkir lebih cepat.
Singkirkan Italia dan Spanyol, Puncak Kontroversi Korea Selatan

Di babak 16 besar, Korea Selatan bertemu raksasa sepak bola dunia, juara dunia tiga kali (sebelum mendapatkan bintang keempat tahun 2006-Red), dan runner-up Piala Eropa 2000, Italia.
Italia ketika itu diperkuat bintang-bintang sepak bola dunia, seperti Gianluigi Buffon, Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Francesco Totti, Alessandro Del Piero, hingga Christian Vieri.
Namun, bintang-bintang nomor wahid itu harus bertekuk lutut di hadapan Korea Selatan. Gli Azzurri takluk dengan skor 1-2 dari Korea Selatan lewat golden goal Anh Jung-hwan.
Banyak pihak menilai kemenangan Korea Selatan atas Italia sangat berbau kontroversi. Kepemimpinan wasit menjadi sorotan utama karena dianggap terlalu menguntungkan tuan rumah.
Saking kontroversialnya, Byron Moreno selaku wasit yang memimpin pertandingan tersebut masih terus diingat sampai saat ini.
Baca Juga:
Piala Dunia 2026: Kabar Baik untuk Timnas Argentina, Lionel Messi Tidak Mengalami Cedera Serius
Piala Dunia 2026: Timnas Kongo Tetap Berangkat di Tengah Wabah Ebola
Piala Dunia 2026: Hadiah Uang Melonjak 50 Persen, Juara Diguyur Rp890 Miliar
Pengadil berkebangsaan Ekuador itu memang membuat sejumlah keputusan aneh seperti memberi kartu kuning kedua Francesco Totti karena dianggap diving, menganulir gol Damiano Tommasi, hingga membiarkan permainan keras para pemain Korea Selatan.
Namun, puncak kontroversi dari superioritas Korea Selatan pada Piala Dunia 2002 sejatinya terjadi setelah itu. Laga kontra Spanyol pada babak perempat final yang dipimpin oleh wasit Mesir bernama Gamal Ahmed Al-Ghandour menghadirkan banyak keanehan.
Dalam laga yang berlangsung di Gwangju World Cup Stadium, Korea Selatan mendapat dukungan penuh suporternya. Namun Spanyol tetap diunggulkan karena memiliki deretan bintang-bintang papan atas seperti Fernando Hierro, Carles Puyol, Rubén Baraja, Joaquin Sanchez, Luis Enrique, hingga Fernando Morientes.
Spanyol menunjukkan status unggulan tersebut di atas lapangan. Tim asuhan Jose Antonio Camacho mengurung pertahanan Korea Selatan dan menciptakan banyak peluang emas.
Sayang, penyelesaian akhir yang dilakukan para pemain Spanyol cukup buruk. Ketangguhan Lee Won-jae di bawah mistar Korea Selatan juga berperan penting membuat skor 0-0 bertahan hingga jeda.
Sebuah kontroversi terjadi saat babak kedua baru berjalan empat menit. Wasit menganulir gol Spanyol yang tercipta dari bunuh diri Kim Tae-young.
Berawal dari skema tendangan bebas, terjadi duel udara yang melibatkan Kim dan dua pemain Spanyol. Bola kemudian menyentuh bahunya dan mengarah ke gawang sendiri.
Namun, wasit menganulir gol tersebut karena dianggap Kim dilanggar oleh dua pemain Spanyol yang mengapitnya. Tidak ada protes berlebihan yang dilakukan para pemain La Furia Roja.
Usaha Spanyol untuk memecah kebuntuan tak kunjung membuahkan hasil. Justru Korea Selatan yang sempat balik mengancam meski masih mampu diamankan oleh Iker Casillas di bawah mistar.
Skor 0-0 tetap tak berubah hingga babak kedua berakhir. Laga terpaksa dilanjutkan ke perpanjangan waktu.
Pada fase ini, Spanyol sempat mencetak gol lewat sundulan Morientes. Namun wasit kembali menganulirnya karena dianggap bola telah keluar lapangan lebih dulu sebelum Joaquin memberikan umpan silang.
Namun dari tayangan ulang, bola terlihat sudah melewati garis gawang. Itu berarti gol yang dicetak Morientes harusnya sah.
Laga kemudian harus diakhiri dengan adu penalti. Joaquin yang tampil impresif sepanjang pertandingan berubah menjadi pesakitan karena menjadi satu-satunya algojo yang gagal mencetak gol sehingga Spanyol takluk dengan skor 3-5.
Selepas pertandingan, para pemain Spanyol langsung mengerubungi wasit Al=Ghandour. Mereka ingin menumpahkan kekesalannya karena harus tersingkir secara tragis.
"Anda bisa melihat dari tayangan TV. Saya tidak ingin berpikir bahwa wasit pergi untuk merampok salah satu tim tetapi gambar berbicara sendiri, jelas wasit tidak mendukung kami," keluh Puyol.
"Semua orang melihat dua gol yang sangat bagus. Jika Spanyol tidak menang, itu karena mereka tidak membiarkan kami menang."

Kemenangan atas Spanyol memang memperkuat dugaan Korea Selatan mendapat perlakuan khusus dari wasit. Apalagi situasi serupa juga terjadi saat mereka mengalahkan Italia.
Anehnya, Korea Selatan tampil kurang bertaji saat jumpa Jerman pada laga semifinal. Tanpa adanya keputusan kontroversial dari wasit, mereka takluk dengan skor 1-0.
Korea Selatan juga gagal mengamankan peringkat ketiga karena lagi-lagi menelan kekalahan. Kali ini mereka dipecundangi Turki dengan skor 2-3.
Melempemnya penampilan Korea Selatan usai kemenangan kontroversial atas Spanyol mungkin disebabkan mereka kehabisan bensin. Namun tidak sedikit anggapan yang menyebut karena wasit sudah tidak memberikan dukungan.
Pada peringatan 20 tahun pertandingan tersebut, Marca melakukan wawancara dengan Al-Ghandour atau sang pengadil kontroversial. Ia tetap enggan disalahkan terkait kekalahan Spanyol.
"Orang-orang Spanyol tidak bisa menyalahkan saya atas kekalahan melawan Korea itu karena sebelum akhir pertandingan, mereka memiliki beberapa peluang yang jelas. Mereka bisa saja memenangkan pertandingan sebelum adu penalti," kata Al-Ghandour.
"Bagi saya hanya ada satu keputusan yang bisa diperdebatkan dan itu adalah gol yang dianulir karena umpan silang Joaquin mungkin tidak keluar dari permainan. Namun kesalahan yang dibuat oleh asisten saya seharusnya tidak diserahkan kepada saya," ujar Al-Ghandour.
Cerita Bisa Berbeda jika Sudah Ada Goal Line Technology dan VAR

VAR (X/theMadridZone)
Kiprah Korea Selatan di Piala 2002 yang selalu menarik untuk dibahas karena berbagai kontroversinya itu bisa jadi cerita berbeda jika saat itu sepak bola sudah mengenal goal line technology hingga Video Assistant Referee atau VAR.
Goal line technology pertama kali digunakan secara resmi dalam pertandingan Piala Dunia Antarklub 2012 di Jepang.
Dua tahun berselang, atau pada 2014, teknologi itu dipakai untuk pertama kalinya secara resmi di Piala Dunia.
Setelah dianggap sukses, pada Juli 2016 terobosan baru yang diberi nama Video Assistant Referee (VAR) diperkenalkan dan diuji coba dalam laga persahabatan antara PSV dan FC Eindhoven.
September 2016, VAR dicoba untuk pertama kalinya dalam laga internasional yang mempertemukan Italia dengan Perancis.
FIFA secara resmi menggunakan VAR pada Piala Dunia Antarklub 2016. Dua tahun berselang, di Rusia, Piala Dunia 2018 menjadi tonggak sejarah baru dengan pemakaian VAR.