Brasil benar-benar dibuat tak berdaya saat menghadapi Jerman di babak semifinal Piala Dunia 2014 di Estadio Mineirao, Belo Horizonte, Rabu (9/7) dini hari WIB. Tim Panser Jerman menggilas mereka dengan skor telak 7-1. Pesta gol Tim Panser dibuka oleh Thomas Mueller pada menit kesebelas. Miroslav Klose kemudian menggandakannya di menit ke-23. Dua gol Toni Kroos dan Sami Khedira membawa Jerman menutup babak pertama dengan keunggulan 5-0. Pada paruh selanjutnya, Jerman menambah dua gol lainnya melalui aksi Andre Schurrle pada menit ke-69 dan 79. Adapun, Brasil hanya mampu mencetak gol penghibur di penghujung laga melalui aksi Oscar. Kekalahan ini membuat syok para penduduk Brasil, yang sangat berharap gelar juara Piala Dunia kali ini jatuh ke tangan mereka karena bermain di kandang sendiri. Saat gol kedua Jerman yang dicetak oleh Miroslav Klose tercipta, air mata langsung membasahi pipi mereka. Saking kesalnya dengan penampilan negatif tim kesayangannya di partai ini, sekelompok fans di Sao Paulo membakar bendera Brasil. Foto tersebut diunggah ke Twitter oleh akun @TransferSources. Absennya Neymar boleh jadi memegang peranan penting dibalik kekalahan Brasil pada partai ini. Dalam kepercayaan penduduk Brasil, terdapat dua kutub dalam sebuah tim sepak bola yang menjadi jimat permainan. Keduanya adalah Craques atau pemain yang memegang kunci pertandingan, dalam hal ini Neymar, dan Sao atau palang pintu terakhir, dalam hal ini Julio Cesar. Keduanya bagaikan Ying dan Yang dalam kebudayaan Tiongkok. Jika salah satu jimat tersebut hilang, maka akan berdampak besar bagi keseimbangan tim. Banyak yang menyebut kekalahan ini lebih memalukan dibandingkan tragedi terbesar yang pernah tercipta dalam sejarah persepakbolaan Brasil, yang biasa dikenal dengan sebutan tragedi Maracanazo. Maracanazo merujuk pada kekalahan Brasil melawan Uruguay di final Piala Dunia 1950. Kala itu, pada pertandingan yang digelar di markas kebesaran Brasil, Stadion Marcana, Selecao kalah tipis 2-1. Marcanazo sendiri memiliki arti sebagai tim underdog yang berhasil mengalahkan Brasil di markas kebanggaannya. Kekalahan itu disebut sebagai tragedi paling buruk dalam dunia persepakbolaan Brasil, yang saat itu tengah terlena dalam euforia juara. Para penduduk Brasil kala itu sudah menyiapkan pesta besar-besaran dan mencetak berbagai kaos untuk menyambut keberhasilan Brasil menjadi juara. Pada akhirnya, mereka semua harus keluar dari stadion dalam keadaan duka.' Untuk menutupi rasa malunya, Timnas Brasil kemudian mengganti warna kostum mereka, dari putih-biru menjadi kuning-hijau yang kita kenal hingga sekarang. "Pertandingan ini juga akan dikenang sebagai sebuah sejarah," ujar Fernando Hazzan, seorang suporter Brasil yang menyaksikan laga tersebut dari kota tempat tinggalnya di Sao Paulo. "Ini lebih buruk dari tahun 1950. Kalah ketika bertarung mati-matian satu hal, dan dipermalukan habis-habisan itu hal lainnya," ia melanjutkan. Kegagalan ini menjadi cacat kedua Brasil di Piala Dunia kali ini. Cacat pertama mereka adalah kegagalan dalam mempersiapkan infrastruktur venue dan jalan akses menuju stadion. Proses pengerjaan yang terburu-buru membuat beberapa stadion sempat ambruk dan memakan korban warga negaranya sendiri. Dana Pemerintah, yang seharusnya dimanfaatkan bagi kemakmuran khalayak, dialokasikan untuk pembangunan. Tak pelak, demonstrasi merebak di mana-mana. Masih segar di ingatan kita Sebuah jembatan layang di Kota Belo Horizonte pada Kamis (3/7) waktu setempat runtuh dan menimpa beberapa kendaraan yang sedang melintas dibawahnya. Kejadian ini menyebabkan setidaknya dua orang tewas dan 19 lainnya mengalami luka parah. Semoga saja, Piala Dunia kali ini memberikan pelajaran yang teramat berharga bagi Brasil untuk tak terlalu memaksakan diri jika belum mampu menjadi tuan rumah yang baik. Kegagalan ini juga seharusnya menjadi cambuk perubahan kepada warganya untuk tidak terlalu jemawa karena tak ada yang tak mungkin dalam sepak bola.
Lebih Memalukan Dibandingkan Tragedi Maracanazo Kekalahan 7-1 Brasil dari Jerman
BolaSkor - Rabu, 09 Juli 2014
Bagikan
BERITA TERKAIT
Senin, 13 Juli 2026
7 Hal Unik dan Menarik dalam Sejarah Semifinal Piala Dunia
Senin, 06 Juli 2026
Ancelotti Ungkap Alasan Bruno Guimaraes Jadi Eksekutor Penalti Brasil saat Lawan Norwegia
Senin, 06 Juli 2026
Piala Dunia 2026: Brasil Tersingkir, Neymar Resmi Pensiun
Senin, 06 Juli 2026
Hasil Piala Dunia 2026: Haaland Brace, Norwegia Singkirkan Brasil
Minggu, 05 Juli 2026
5 Pelatih dengan Kemenangan Terbanyak di Piala Dunia, Didier Deschamps Pertajam Rekor
Minggu, 05 Juli 2026
Superkomputer Prediksi Hasil Brasil vs Norwegia: Canarinho Punya Catatan Bagus di 16 Besar Piala Dunia
Minggu, 05 Juli 2026
Waspadai Vinicius, Norwegia Siapkan Formula Hentikan Brasil
Minggu, 05 Juli 2026
Piala Dunia 2026: Baru Main 14 Menit, Neymar Kecewa
PILIHAN EDITOR
Minggu, 26 Juli 2026
Transparan Bukan Cuma Slogan, Piala Presiden 2026 Buka-bukaan soal Duit hingga Dampak untuk Rakyat
Minggu, 26 Juli 2026
Piala Presiden 2026 Selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo, Pemerataan Ekonomi Daerah Lewat UMKM dan Sepak Bola
Sabtu, 25 Juli 2026
Siapa Shea Lacey? Mengenal Wonderkid Kelahiran Livepool yang Diprediksi Jadi Bintang Besar MU
Rabu, 22 Juli 2026
Spanyol, Arti Kemenangan Sepak Bola di Piala Dunia 2026
Selasa, 21 Juli 2026
Sederet Rekor Baru yang Terukir Pasca Berakhirnya Piala Dunia 2026
Senin, 20 Juli 2026
Profil Kevin Keegan, Satu-satunya Pemain Inggris yang Meraih Dua Ballon d'Or
Senin, 20 Juli 2026
Tangis dan Akhir Era, Berikut Sederet Statistik Lionel Messi Sejak Piala Dunia 2006 hingga 2026
Senin, 20 Juli 2026
Pau Cubarsi: Tiga Tahun Lalu Main di JIS, Kini Juara Piala Dunia 2026
Senin, 20 Juli 2026
Luis de la Fuente, Arsitek di Balik Generasi Emas Baru Spanyol
Minggu, 19 Juli 2026