BolaSkor.com - Luis de la Fuente kembali mengukir namanya dalam sejarah sepak bola Spanyol. Pelatih berusia 65 tahun itu sukses mengantarkan La Roja menjuarai Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina 1-0 pada final, Senin (20/7) dini hari WIB.
Keberhasilan ini melengkapi deretan prestasi De la Fuente sejak dipercaya menangani timnas senior Spanyol pada Desember 2022. Sebelumnya, ia membawa La Roja menjuarai Nations League 2023 dan Euro 2024, serta membawa Spanyol menjadi finalis Nations League 2025.
Baca Juga:
5 Fakta Menarik usai Spanyol Juara Piala Dunia 2026
Kunci Sukses Spanyol Juarai Piala Dunia 2026: Kerja Keras, Kesabaran, dan Setia pada Filosofi
Hasil Final Piala Dunia 2026: Tekuk Argentina 1-0, Spanyol Raih Bintang Kedua
Kesuksesan tersebut bukanlah hasil instan. De la Fuente membangunnya melalui pengalaman panjang membina pemain muda dan keyakinannya pada filosofi sepak bola Spanyol.
Sosok yang Selalu Percaya pada Proses
Mantan rekan setim sekaligus koleganya di akademi Sevilla, Manolo Jimenez, mengenal De la Fuente sebagai sosok pekerja keras yang tak pernah berhenti belajar.
Luis adalah orang yang baik dan rekan kerja yang luar biasa. Sejak dulu dia selalu ingin membantu pemain muda berkembang. Dia bekerja sangat keras dan tidak pernah menyerah. Semua yang diraihnya sekarang benar-benar hasil kerja kerasnya,
ujar Jimenez kepada FIFA.
Menurut Jimenez, melihat De la Fuente berdiri di puncak sepak bola Spanyol merupakan buah dari dedikasi yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Salah satu sosok yang paling memahami cara kerja De la Fuente adalah Santi Denia, yang bekerja bersamanya selama 14 tahun di berbagai level timnas Spanyol.
Denia menilai pengalaman panjang itu membuat De la Fuente mengenal karakter para pemain bahkan sebelum mereka menembus tim senior.
"Ketika dia menangani timnas senior, dia sudah memahami para pemain, dinamika tim, dan apa yang dibutuhkan agar semuanya berjalan baik," kata Denia.
Kekuatan Terbesar Luis de la Fuente

Menurut Denia, kekuatan terbesar De la Fuente bukan hanya soal taktik, melainkan kemampuannya mengelola pemain sebagai individu.
Luis sangat ahli membangun tim. Dia tahu bagaimana membimbing pemain, memahami karakter mereka, dan menentukan siapa yang paling tepat bermain di setiap pertandingan. Bahkan dia mampu mengelola seluruh staf yang jumlahnya bisa mencapai puluhan orang,
ujar Denia.
Pujian serupa datang dari legenda Spanyol, Fernando Hierro. Mantan direktur olahraga Federasi Sepak Bola Spanyol itu menyebut De la Fuente berhasil menciptakan suasana harmonis di dalam skuad.
"Mereka seperti sebuah keluarga. Para pemain menikmati waktu bersama dan benar-benar merasa nyaman satu sama lain. Dalam turnamen panjang seperti Piala Dunia, kebersamaan seperti itu sangat penting," kata Hierro.
Menurutnya, fondasi tersebut sudah dibangun jauh sebelum Piala Dunia dimulai dan menjadi salah satu faktor utama keberhasilan Spanyol.
Karier Luis de la Fuente
Karier kepelatihan De la Fuente dimulai dari klub-klub kecil seperti Portugalete dan Aurrera, sebelum menangani tim muda Sevilla, akademi Athletic Bilbao, Bilbao Athletic, hingga Deportivo Alaves.
Pada 2013, ia bergabung dengan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) untuk menangani tim nasional U-19. Kariernya kemudian terus menanjak dengan melatih tim U-21 dan U-23 sebelum akhirnya dipercaya memimpin tim senior.
Pengalaman panjang di kelompok usia membuat De la Fuente sangat memahami karakter pemain muda Spanyol. Tak heran, ia berani memberikan kepercayaan kepada talenta-talenta seperti Lamine Yamal, Pedri, Nico Williams, hingga Pau Cubarsi.
Sebelum mengangkat trofi Piala Dunia, De la Fuente lebih dulu mencatatkan sederet prestasi di level usia muda.
Ia membawa Spanyol menjuarai Euro U-19 pada 2015, Euro U-21 pada 2019, serta meraih medali perak Olimpiade Tokyo 2020.
Di level senior, gelar pertamanya datang lewat UEFA Nations League 2022/2023, disusul trofi Euro 2024 dan kini Piala Dunia 2026.

