BolaSkor.com - Piala Dunia 1970 merupakan edisi kesembilan perhelatan event akbar empat tahunan sepak bola dunia dan dihelat di Meksiko.
Pada tahun tersebut, untuk kali pertama Piala Dunia dimainkan di Amerika Utara atau Tengah setelah sebelumnya dihelat di Eropa atau Amerika Selatan.
56 tahun berlalu sebelum Piala Dunia 2026 dimulai, Piala Dunia 1970 tetap dipandang sebagai salah satu turnamen terbaik dengan beberapa perubahan fundamental yang menjadi fondasi sepak bola modern kini.
Baca Juga:
Profil Tim Tuan Rumah Piala Dunia 2026: Timnas Kanada, Bukan Sekedar Penghibur Turnamen
Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026: Dibuka Meksiko vs Afrika Selatan
16 tim bermain di Piala Dunia 1970 adalah dengan Eropa mengirim perwakilan terbanyak diikuti Amerika Selatan, daftarnya adalah:
- Eropa (UEFA): Uni Soviet, Belgia, Italia, Swedia, Inggris (Juara Bertahan), Jerman Barat, Bulgaria, Rumania, Cekoslowakia.
- Amerika Selatan (CONMEBOL): Brasil, Peru, Uruguay.
- Amerika Utara dan Tengah (CONCACAF): Meksiko (Tuan Rumah), El Salvador.
- Asia (AFC) dan Oseania (OFC): Israel.
- Afrika (CAF): Maroko.
Regulasi
Piala Dunia 1970 dikatakan sebagai Piala Dunia yang sangat penting karena saat itu, untuk pertama kali sistem kartu kuning dan merah dikenalkan.
Selain itu, FIFA juga mengizinkan pergantian pemain dengan batas maksimal dua pergantian pemain di satu laga, serta menjadi Piala Dunia pertama yang disiarkan secara langsung melalui televisi berwarna ke seluruh dunia.
Bola turnamen juga dikenalkan oleh Adidas dengan nama "Telstar" yang memiliki pola hitam-putih. Warna yang ikonik dan dirancang agar lebih mudah terlihat di televisi hitam-putih.
Kejayaan Brasil
Akan tapi ketika membicarakan Piala Dunia 1970 Meksiko, Inggris tidak menjadi sorotan utama meski berstatus juara bertahan dan memiliki kiper sekaliber Gordon Banks.
Nama yang disebut terakhir itu memiliki satu momen paling dikenang dan disebut "penyelamatan abad ini", saat ia menepis sundulan berbahaya Pele di fase grup saat Inggris bertemu Brasil.
Ada juga momen pertandingan terbaik abad ini di semifinal ketika Italia bertemu Jerman Barat yang berakhir 4-3 untuk kemenangan Italia, via babak tambahan.
Namun, semua sorotan itu tidak setenar perhatian kepada Brasil setelah memenangi Piala Dunia 1958 dan 1962. Pada 1970 Brasil ditangani oleh Mario Zagallo.
Zagallo sempat disorot karena memainkan lima pemain, pada posisi yang sama seperti saat mereka bermain di klub, tetapi pilihannya itu berbuah kesuksesan.
Jairzinho, Rivelino, Gerson, Clodoaldo, Tostao, Carlos Alberto, dan Pele adalah sederet bintang dalam skuad Brasil di Piala Dunia 1970.
Lima dekade lebih berlalu, skuad Brasil tersebut masih menjadi yang terbaik sepanjang masa meski pada akhirnya mereka menambah koleksi trofi pada 1994 dan 2002.
Dalam perjalanan menuju final, Brasil menghempaskan lawan-lawannya dengan mencetak rata-rata tiga gol seperti saat melawan Cekoslowakia (4-1), Rumania (3-2), juga di fase gugur kontra Peru (4-2) dan Uruguay (3-1).
Final di Azteca
Tiba di final, dua tim yang sama-sama telah memenangi titel Piala Dunia bertemu di Estadio Azteca, Brasil dan Italia, dengan pemenang memiliki hak permanen atas trofi Jules Rimet.
Brasil, dengan taktik 4-2-4 di atas kertas, meladeni Italia arahan Ferruccio Valcareggi yang bermain dengan formasi 3-2-3-2.
Italia, yang mengadopsi catenaccio atau pertahanan gerendel yang sudah dikenalkan sejak medio 1940-an, menghadapi Brasil dengan sepak bola menyerang ala jogo bonito Negeri Samba.
Pada pertarungan 'pedang melawan perisai' tersebut, perisai Italia tak kuasa membendung lini serang Brasil yang selalu menang dari fase grup hingga final.
Empat gol dilesakkan Pele (18'), Gerson (66'), Jairzhinho (71'), dan Carlos Alberto (86') diperkecil oleh gol Roberto Boninsegna (37').
Brasil memenangi titel Piala Dunia untuk kali ketiga, dan menurut aturan FIFA tim yang sudah tiga kali juara berhak menyimpan Jules Rimet.
Trofi tersebut disimpan di markas Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) di Rio de Janeiro, Ibu Kota Brasil, yang ironisnya dicuri pada 1983.
Trofi Jules Rimet dicuri dari gedung CBF oleh tiga orang yang dipimpin bankir, Sergio Pereira Ayres, yang dibantu mantan polisi Chico Barbudo dan dekorator Luiz Bigode. Trofi itu tak pernah ditemukan dan disinyalir telah dilebur.