Football

Sport

Feature

Result

Show

Ragam Feature Piala Dunia Internasional Berita

Kilas Balik Piala Dunia 1930-1934: Cerita Awal Perjalanan di Uruguay yang Berlanjut ke Italia

Arief Hadi - Sabtu, 16 Mei 2026

BolaSkor.com - 96 tahun waktu berlalu semenjak Piala Dunia pertama dimulai pada 1930 dan menjadi awal panggung sepak bola dunia, yang berlangsung empat tahun sekali.

Sepak bola terus berevolusi tetapi bak akronim jas merah, yang memiliki makna jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah, masa lalu dari Piala Dunia selamanya akan menjadi pondasi sepak bola yang kita semua lihat saat ini.

Panggung pertama Piala Dunia 1930 dimulai di Amerika Selatan, Uruguay. Bukan tanpa alasan, setelah meraih medali emas di Olimpiade 1924 dan 1928, Uruguay juga merayakan seratus tahun kemerdekaannya pada 1930.

Baca Juga:

Profil Grup A Piala Dunia 2026: Persaingan Ketat antara Meksiko dengan Korsel, Afrika Selatan, dan Republik Ceko

Profil Tim Kuda Hitam Juara Piala Dunia 2026: Timnas Belanda, Pencetus Total Football Tanpa Titel Prestisius

Profil Tim Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Timnas Portugal, Tarian Terakhir Cristiano Ronaldo

Berbeda dari format saat ini, Piala Dunia pertama yang menjadi tonggak sejarah itu diikuti 13 negara melalui undangan.

Tantangan pada era tersebut juga tidak mudah bagi negara-negara undangan. Mereka harus menempuh perjalanan laut yang panjang, mahal, khususnya bagi tim-tim di luar Amerika Selatan.

Peserta dan 16 Hari Perjalanan

Perjalanan di kapan Conte Verde menuju Uruguay (Foto: FIFA)

13 tim yang berpatisipasi di Piala Dunia 1930 adalah Prancis, Yugoslavia, Rumania, Belgia, Amerika Serikat (AS), Meksiko, Uruguay, Argentina, Brasil, Chile, Peru, Paraguay, dan Bolivia.

Empat tim dari Eropa bersedia melakukan perjalanan melintasi Samudra Atlantik, memakan waktu dua pekan lebih atau sekiranya 16 hari.

Ada cerita menarik ketika Conte Verde, kapal penumpang Italia yang dibangun di Glasgow, membawa empat tim menuju Uruguay.

Berlayar dari Genoa, kapal mengangkut skuad Rumania, lalu menjemput skuad Prancis yang juga membawa tiga wasit serta Presiden FIFA, Jules Rimet, yang membawa trofi di dalam kopernya.

Setelahnya, Conte Verde membawa Belgia dan Brasil. Secara keseluruhan, perjalanan tersebut menempuh 16 hari perjalanan.

Dalam kurun waktu tersebut, para pemain menjaga kebugaran dengan berlari di dek kapal dan di waktu senggang, dihibur pertunjukan komedi dan musik.

Centenario Saksi Bisu, Final Dramatis Argentina vs Uruguay

Timnas Uruguay menjadi juara Piala Dunia 1930 di Centenario (Foto: FIFA)

Melalui perjalanan panjang yang diawali dari fase grup, yang terbagi menjadi empat grup, fase gugur di Piala Dunia 1930 dimulai dari semifinal dan diakhiri di final.

Empat tim mencapai semifinal adalah Uruguay vs Yugoslavia dan Argentina vs AS. Keduanya menang dengan skor yang identik, 6-1, hingga final dimainkan di Centenario.

Disebut sebagai 'kuil' sepak bola oleh FIFA, Centenario adalah saksi bisu sejarah final pertama antara dua negara Amerika Selatan.

Sebanyak 90.000 penonton menyaksikan final di stadion paling ikonik di dunia, yang diwarnai drama menarik: pertempuran bola.

Baik Argentina dan Uruguay sama-sama ngotot menggunakan bola mereka masing-masing untuk final. Pada akhirnya, tercapai kesepakatan untuk masing-masing bola di dua babak setelah Rimet turun tangan.

Argentina, dengan bola yang diimpor dari Skotlandia, unggul 2-1 di paruh babak pertama. Kemudian di babak kedua, Uruguay dengan bola yang dibeli dari Inggris, mencetak tiga gol hingga menang 4-2 atas Argentina.

Dua pencetak gol Argentina adalah Carlos Peucelle, Guillermo Stabile, sedangkan empag gol balasan Uruguay dicetak Pablo Dorado, Pedro Cea, Santos Iriarte, dan Hector Castro.

Piala Dunia 1934

Banner Piala Dunia 1934 (Foto: FIFA)

Pasca kejayaan Uruguay di Centenario, di depan fans mereka, empat tahun setelahnya Piala Dunia 1934 dimainkan di Eropa, tepatnya di Italia.

Italia seyogyanya bersaing dengan Swedia untuk menjadi tuan rumah, tetapi nama yang disebut terakhir mengundurkan diri saat kongres FIFA terjadi pada Oktober 1932. Uniknya, kongres itu dilakukan di Stockholm, Swedia.

Tidak ada lagi babak penyisihan grup pada format Piala Dunia 1934 yang langsung dimainkan di fase gugur.

36 tim mengikuti babak kualifikasi, uniknya tuan rumah Italia juga mengikutinya, dan 16 tim lolos ke Piala Dunia 1934.

Dari tim-tim yang bermain di Piala Dunia 1934 tidak ada nama juara bertahan, Uruguay, yang melakukan aksi protes atau boikot.

Uruguay menolak berpatisipasi sebagai aksi balas dendam karena banyak tim-tim Eropa yang absen bermain pada 1930. Dampaknya, sampai saat ini Uruguay tercatat sebagai juara bertahan yang tidak dapat mempertahankan gelar juara di turnamen berikutnya.

Perjalanan Italia Menuju Final

Italia di Piala Dunia 1934 (Foto: These Football Times)

Pada akhirnya 16 tim bermain yang bermain di Italia (selain Italia), adalah Jerman, Spanyol, Belanda, Hungaria, Cekoslowakia, Austria, Prancis, Belgia, Rumania, Swedia, Swiss, Brasil, Argentina, Amerika Serikat, dan Mesir.

Dalam persaingan di fase gugur yang dimulai dari 16 besar, Italia melalui hadangan AS (7-1), Spanyol (1-0), Austria (1-0) untup mencapai final.

Di babak pamungkas, Italia menghadapi Cekoslowakia yang mengalahkan Rumania (2-1), Swiss (3-2), dan Jerman (3-1).

Final terjadi di Ibu Kota Italia, Roma, antara Italia vs Cekoslowakia ketika Italia berada di rezim Benito Mussolini.

Di final yang berlanjut hingga babak tambahan, Italia keluar sebagai pemenang melalui gol Raimundo Orsi dan Angelo Schiavio, yang membalas gol Antonin Puc.

Italia menjadi juara dunia pertama dari Eropa dan kedua setelah Uruguay pada 1930. Namun, cerita di Piala Dunia 1934 tidak jauh dari kontroversi.

Kental dengan Atmosfer Politik

Timnas Italia di bawah tekanan Benito Mussolini (Foto: The New York Times)

Sudah bukan rahasia umum lagi, Benito Mussolini adalah pemimpin fasis Italia yang menggunakan Piala Dunia 1934 sebagai alat propaganda untuk memperlihatkan kekuatan rezimnya kepada dunia.

Bahkan para pemain Italia, yang dilatih Vittorio Pozzo, berada di bawah tekanan besar untuk menang dengan slogan yang ramai diperbincangkan "Menang atau Mati".

Idiom itu saat ini dapat dilihat sebagai kata-kata kiasan dengan makna memotivasi, tetapi pada 1934 konteks dari slogan tersebut bermakna harfiah (pemain bisa benar-benar mati jika tidak serius bermain).

Kontroversi itu tak berhenti sampai di situ, ada juga momen saat beberapa keputusan wasit laga, yang melibatkan Italia, menguntungkan tuan rumah.

Itu terlihat di delapan besar saat Italia bertemu Spanyol dan berakhir 1-1, tetapi laga - uniknya - diulang kembali dan Italia keluar sebagai pemenang.

Dan dari Piala Dunia 1934 juga istilah oriundi dibahas, yang memiliki arti pemain lahir di luar Italia tetapi memiliki garis keturunan Italia.

Saat itu, ada Luis Monti dan Raimundo Orsi yang lahir di Argentina tapi berdarah Italia. Monti juga tercatat sebagai satu-satunya pemain yang tampil di dua final Piala Dunia, tetapi untuk dua negara berbeda: dengan Argentina pada 1930 dan Italia pada 1934.

Baca Artikel Asli