Football

Sport

Feature

Result

Show

Ragam Feature Piala Dunia Internasional Berita

Keterpurukan Timnas Jerman: Tidak Lagi Ditakuti Lawan, Bukan Tim Diesel, dan Terlalu Fokus dengan Sepak Bola Indah

Arief Hadi - Selasa, 30 Juni 2026

BolaSkor.com - Timnas Jerman harus rela angkat koper di 32 besar Piala Dunia 2026 kala melawan Paraguay dan kalah adu penalti, Selasa (30/06) pagi WIB.

Hasil memilukan tersebut bahkan langsung dilabeli oleh halaman depan media ternama Jerman, Bild, sebagai "Mimpi buruk sepak bola Jerman berikutnya".

Bermain di Boston, Jerman yang mendominasi hingga 75 persen penguasaan bola kesulitan membongkar pertahanan rapat Paraguay, bahkan sempat tertinggal oleh gol Julio Enciso sebelum disamakan Kai Havertz.

Baca Juga:

Jerman Angkat Koper, Jurgen Klopp Gantikan Julian Nagelsmann?

Kontroversi Gol Jerman ke Gawang Paraguay yang Dianulir VAR, Jurgen Klopp Sindir Arsenal

Hasil Piala Dunia 2026: Jerman Tersingkir usai Kalah Adu Penalti dari Paraguay

Namun, rekor sempurna 100 persen adu penalti Jerman di Piala Dunia akhirnya pecah setelah eksekusi Havertz, Nick Woltemade, dan Jonathan Tah gagal menemui sasaran.

Kegagalan ini terasa sangat menyakitkan bagi sang pelatih, Julian Nagelsmann.

"Ketika Anda tersingkir dari Piala Dunia setelah menghadapi Paraguay, itu sangat pahit. Ini sangat menyakitkan," aku Nagelsmann pasca pertandingan dikutip dari BBC Sport.

Jerman Bukan Lagi Tim Kelas Satu

Timnas
Timnas Jerman (fifa)

Nagelsmann secara jujur mengakui bahwa keterpurukan beruntun di turnamen mayor dalam beberapa tahun terakhir membuat Jerman resmi turun kasta dari jajaran elite sepak bola dunia.

"Ini adalah eliminasi ketiga berturut-turut, jadi kami bukan bagian dari tim kelas satu lagi," tambah mantan pelatih Bayern Munchen tersebut.

Catatan Jerman sejak merengkuh trofi juara pada 2014 memang mengenaskan, di mana mereka gagal lolos dari babak grup dua kali beruntun sebelum akhirnya langsung didepak Paraguay di fase gugur pertama edisi 2026.

Kemerosotan ini menandakan runtuhnya supremasi raksasa Eropa yang dulunya begitu ditakuti.

Mantan penggawa timnas Jerman, Thomas Hitzlsperger, turut membenarkan bahwa armada Die Mannschaft kini telah kehilangan taring dan taji di mata lawan-lawannya.

Kami telah kehilangan aura yang membuat tim-tim lain takut pada kami. Tim lain menghormati kami, tetapi mereka tidak takut lagi pada kami,

ujar Hitzlsperger kepada BBC Sport.

"Kami tidak lagi sulit dikalahkan dan kami kekurangan kehadiran fisik yang dulu kami miliki."

Jerman di masa lalu juga dikenal sebagai mesin diesel karena sering dinilai telat panas, memiliki mental kuat untuk membalikkan keadaan. Tapi, itu semua sudah pudar.

Terlalu Fokus Sepak Bola Indah hingga Kehilangan 'Edge'

Timnas
Timnas Jerman (dpa)

Menurut Hitzlsperger, akar masalah dari kehancuran ini bermula dari berkiblatnya pembinaan pemain muda Jerman yang terlalu terobsesi meniru gaya bermain Spanyol.

"Untuk waktu yang lama, pengembangan pemain di Jerman hanya seputar operan, gaya permainan, dan inovasi taktis, tetapi ada satu elemen yang mungkin kurang kami fokuskan, yaitu memiliki sedikit edge (karakter agresif)," jelasnya.

Hitzlsperger menegaskan hal ini bukan berarti Jerman harus bermain buruk atau kuno.

"Bukan berarti kami hanya melepaskan bola-bola panjang, memenangkan sundulan, dan menang dengan cara jelek – atau kembali ke masa lalu di mana kami bisa mencapai final dan tidak ada yang tahu bagaimana caranya, selain fakta bahwa itu karena kami adalah Jerman," paparnya.

Eks pemain Stuttgart tersebut melihat Jerman kini terlalu terlena dengan estetika permainan hingga melupakan esensi utama dari kompetisi itu sendiri.

Namun di saat yang sama, sekarang tampaknya kami hanya fokus pada sepak bola yang indah. Kami perlu mulai mengatasi hal ini di tingkat akademi.

"Tentang apa sebenarnya sepak bola itu? Tentu saja tentang menang. Tim ini ingin menang, tetapi bagaimana cara Anda menang? Dengan memiliki edge," tambah Hitzlsperger.

Sebagai komparasi, ia meminta Jerman mencontoh ketangguhan mental sang juara bertahan, Argentina, yang memadukan keindahan taktik dengan karakter bermain yang lugas.

"Contoh terbaik adalah Argentina. Mereka memiliki kombinasi sempurna antara menjadi tim yang menyebalkan untuk dilawan, tetapi di saat yang sama mereka memiliki pemain yang bisa menciptakan sesuatu dari ketiadaan," urainya.

Hitzlsperger sadar Jerman tidak punya sosok magis seperti Lionel Messi, namun perubahan arah pembinaan tetap wajib dilakukan demi mengembalikan kejayaan masa lalu.

"Tentu saja, kami tidak memiliki Lionel Messi dan tidak setiap tim bisa bermain seperti Argentina atau Prancis. Namun, kami harusnya berada lebih dekat dengan posisi tim-tim tersebut berada," pungkasnya.

Baca Artikel Asli