Football

Sport

Feature

Result

Show

Ragam Feature Piala Dunia Internasional Berita

7 Hal Unik dan Menarik dalam Sejarah Semifinal Piala Dunia

Arief Hadi - Senin, 13 Juli 2026

BolaSkor.com – Babak semifinal Piala Dunia selalu menyajikan tensi tinggi yang menegangkan bagi setiap tim yang bertanding.

Namun, di balik drama perebutan tiket final, sejarah mencatat adanya berbagai kejadian unik dan ikonik yang terus dikenang hingga kini.

Baca Juga:

Semifinal Piala Dunia 2026: Prancis Tak Terpancing dengan Psywar yang Dilontarkan Pemain Spanyol

Profil Semifinalis Piala Dunia 2026: Kekuatan, Kelemahan, dan Peluang Argentina, Inggris, Prancis, dan Spanyol

Superkomputer Prediksi Juara Piala Dunia 2026 Menjelang Semifinal: Prancis Terdepan, Argentina Tipis Harapan

Dikutip dari laman resmi FIFA, berikut adalah tujuh momen menarik dan tak terlupakan dari panggung semifinal Piala Dunia sepanjang sejarah sepak bola global

1. Celana Melorot Giuseppe Meazza (Prancis 1938)

Timnas Italia di Piala Dunia 1938 (Foto: FIFA)

Pada Piala Dunia 1938, Italia sukses menumbangkan Brasil dengan skor 2-1 demi melaju ke partai puncak. Giuseppe Meazza menjadi pahlawan kemenangan Gli Azzurri lewat eksekusi penalti yang sangat ikonik.

Saat hendak menendang, karet celana Meazza terputus akibat robek setelah berbenturan di awal laga. Tanpa hilang fokus, penyerang Inter Milan itu memegangi celananya dengan satu tangan sambil melepaskan sepakan yang mengecoh kiper Walter.

2. Petisi Presiden demi Garrincha (Chili 1962)

Skuad Brasil dan Garrincha di Piala Dunia 1962 (Foto: FIFA)

Garrincha tampil luar biasa saat membantu Brasil menumbangkan tuan rumah Chili dengan skor 4-2. Sang penyerang sayap sukses mencetak dua gol dan satu assist, namun harus menerima kartu merah di akhir laga.

Meski menjadi momok bagi tim tuan rumah, publik Chili justru sangat mencintai permainan menghibur sang pemain.

Gelombang simpati masyarakat akhirnya membuat Presiden Chili, Jorge Alessandri, memimpin petisi agar hukuman larangan bertanding Garrincha dicabut.

Petisi tersebut akhirnya dikabulkan oleh pihak penyelenggara turnamen dan Garrincha diperbolehkan tampil di partai puncak. Keputusan ini pada akhirnya menjadi hal yang sangat disesali oleh kubu Cekoslowakia.

3. Kebrutalan Toni Schumacher (Spanyol 1982)

Toni Schumacher kala menerjang Patrick Battiston (Foto: FIFA)

Kiper Jerman Barat, Toni Schumacher, melakukan pelanggaran sangat brutal saat menerjang pemain Prancis, Patrick Battiston.

Insiden horor ini membuat Battiston kehilangan dua gigi, retak tiga tulang rusuk, serta mengalami kerusakan tulang belakang.

Anehnya, Schumacher sama sekali tidak dijatuhi hukuman oleh wasit atas aksi membahayakan tersebut. Kiper Jerman Barat itu bahkan menunjukkan sikap tidak peduli dan tampak tidak sabar saat Battiston dirawat di lapangan sebelum ditandu keluar.

Kemarahan kubu Prancis kian memuncak setelah Schumacher menjadi pahlawan Jerman Barat di babak adu penalti. Ia sukses menepis tendangan Didier Six dan Maxime Bossis untuk membawa timnya melenggang ke final.

4. Tangisan Emosional Paul Gascoigne (Italia 1990)

Paul Gascoigne (Foto: FIFA)

Paul Gascoigne tampil memukau sepanjang turnamen hingga berhasil membawa Inggris menembus semifinal untuk pertama kalinya dalam 24 tahun.

Namun, Gascoigne menerima kartu kuning pada menit ke-98 saat melawan Jerman Barat yang membuatnya harus absen di laga final jika Inggris lolos.

Sadar mimpinya sirna, pemain yang akrab disapa Gazza itu langsung menangis secara emosional di atas lapangan hijau, yang menjadi salah satu momen ikonik sepak bola dunia sampai saat ini.

"Ketika saya masih kecil dan bermain di klub remaja, setiap malam saya selalu bermimpi bermain sepak bola di Piala Dunia. Saya menjalani mimpi itu di Italia. Ketika saya diberi kartu kuning, saya tahu mimpi itu telah berakhir," kenang Gascoigne.

Pelatih Inggris saat itu, Bobby Robson, juga merasakan kepedihan yang sangat mendalam atas nasib yang menimpa anak asuhnya.

"Jantung saya langsung copot. Karena saya menyadari seketika itu juga bahwa laga final telah berakhir untuk Paul Gascoigne, dia keluar."

"Dan itu adalah sebuah tragedi - bagi dia, saya, tim, negara, dan seluruh dunia sepak bola. Karena dia sangat bagus, dan dia tampil luar biasa di pertandingan tersebut," tutur Robson.

5. Ketajaman Mendadak Lilian Thuram (Prancis 1998)

Selebrasi gol Lilian Thuram (Foto: FIFA)

Lilian Thuram mencatatkan statistik unik saat ia hanya mencetak gol dalam satu pertandingan dari total 142 penampilannya bersama timnas Prancis.

Menariknya, bek kanan tersebut langsung memborong dua gol sekaligus ke gawang Kroasia untuk membalikkan kedudukan menjadi 2-1.

Thuram memilih momen yang sangat tepat untuk mendadak menjadi seorang juru gedor ulung lewat sepakan kaki kanan dan kaki kirinya.

Ketajaman mendadak sang pemain bertahan ini bahkan sempat membuat pihak keluarganya terkejut bukan main di tribun penonton.

"Ibu saya ada di tribun penonton. Mereka memberi tahu dia bahwa putranya telah mencetak gol pertama - dia tidak bisa memahaminya. Ketika mereka memberi tahu dia bahwa saya mencetak gol lagi, dia pingsan. Saya tidak bercanda," ungkap Thuram.

6. Taktik Potongan Rambut Konyol Ronaldo (Korea-Jepang 2002)

Ronaldo Nazarrio (Foto: FIFA)

Menjelang laga semifinal melawan Turki, bintang Brasil Ronaldo Nazario merasa sangat terganggu dengan pemberitaan media terkait cedera kakinya.

Ia pun memutar otak dengan sengaja memotong rambutnya dengan gaya yang sangat unik untuk mengalihkan perhatian.

"Semua orang terus membicarakan cedera kaki saya, mempertanyakan apakah saya bisa bermain di semifinal. Saya muak dan bosan mendengarnya," kata Ronaldo.

"Jadi saya memotong rambut saya seperti itu, bertanya kepada rekan setim apa pendapat mereka, dan mereka berkata, 'Itu mengerikan! Anda tidak bisa membiarkannya seperti itu'."

"Saya pikir, 'Ini bisa berhasil'. Benar saja, para jurnalis langsung melupakan cedera saya. Yang mereka tanyakan hanyalah tentang rambut saya. Saya bisa rileks," tutur Ronaldo.

Strategi pengalihan isu tersebut terbukti sukses besar karena Ronaldo berhasil tampil tanpa beban dan mencetak gol tunggal kemenangan Selecao.

7. Duel Udara Fabio Cannavaro (Jerman 2006)

Fabio Cannavaro dengan Italia pada Piala Dunia 2006 (Foto: FIFA)

Pertandingan semifinal Piala Dunia 2006 antara Italia melawan Jerman menyajikan duel fisik yang tidak seimbang.

Bek tengah Italia, Fabio Cannavaro, harus berhadapan dengan Per Mertesacker yang memiliki keunggulan tinggi badan hingga 22 sentimeter.

Namun, logika sepak bola berhasil dipatahkan saat Cannavaro secara luar biasa memenangi duel udara melawan Mertesacker di waktu tambahan.

Tidak berhenti sampai di situ, ia langsung berlari mengejar bola sapuannya sendiri demi menjauhkan si kulit bulat dari jangkauan Lukas Podolski.

Aksi bertahan yang heroik dan berani dari kapten Gli Azzurri tersebut menjadi awal mula serangan balik cepat bagi Italia.

Momentum itu diselesaikan dengan sempurna oleh Alessandro Del Piero lewat gol telatnya yang mengunci kemenangan dramatis Italia untuk melenggang ke final.

Baca Artikel Asli