BolaSkor.com – Mengawinkan gelar Euro dan Piala Dunia secara berturut-turut merupakan prestasi yang sangat langka dalam sejarah sepak bola.
Sejak Euro pertama kali digelar pada tahun 1960, hanya ada dua tim nasional (timnas) yang mampu menaklukkan benua mereka sebelum akhirnya menegaskan dominasi dengan mengangkat trofi Piala Dunia secara beruntun.
Spanyol berpotensi mengulang catatan manis dalam sejarah mereka jelang lawan Argentina di final Piala Dunia 2026, Senin (20/07) pukul 02.00 dini hari WIB di New York New Jersey Stadium.
Baca Juga:
Argentina Kerap Bermain Kasar, Spanyol Lontarkan Psywar kepada Wasit Laga Final Piala Dunia 2026
Badai Petir Ganggu Persiapan Spanyol dan Argentina Jelang Final Piala Dunia 2026
Selain Spanyol, timnas lain yang memiliki kelangkaan berada di 'klub elite' tersebut adalah Jerman Barat (yang kini bernama Jerman).
1. Gerd Muller yang Menginspirasi Jerman Barat
Jerman Barat memulai sejarah luar biasa ini setelah sukses menjuarai Euro 1972 di Belgia lewat ketajaman bomber legendaris Gerd Muller.
Dua tahun berselang pada Piala Dunia 1974, mereka bertindak sebagai tuan rumah dengan ambisi menjadi negara pertama yang berstatus sebagai raja benua sekaligus juara dunia.
Langkah mereka tidak berjalan mulus dan sempat dikejutkan oleh kekalahan bersejarah 0-1 dari Jerman Timur di fase grup.
Gerd Muller mengenang performa timnya sebelum kekalahan itu sebagai "penampilan buruk lainnya".
Di partai final, pelatih Helmut Schon, berhasil meredam taktik Total Football milik Belanda meskipun sempat kebobolan gol cepat penalti Johan Neeskens.
Jerman Barat bangkit lewat eksekusi penalti Paul Breitner, sebelum akhirnya Gerd Muller mencetak gol penentu kemenangan menjelang turun minum untuk mengunci gelar dunia kedua mereka.
Fakta-fakta Menarik
Fakta menarik mencatat ada 14 pemain yang menjadi bagian dari skuad Euro 1972 sekaligus Piala Dunia 1974.
Enam pilar utama termasuk Franz Beckenbauer, Sepp Maier, dan Gerd Muller tercatat selalu bermain sebagai starter di kedua laga final turnamen besar tersebut.
Selain itu, terdapat cerita unik dari sang pengadil lapangan di partai puncak edisi 1974, yaitu Jack Taylor.
Ia merupakan seorang tukang daging yang mengambil waktu cuti demi bisa memimpin pertandingan akbar tersebut, dan mencatatkan sejarah sebagai penunjuk dua penalti pertama di final Piala Dunia.
2. Sihir Tiki-Taka Generasi Emas Spanyol
Timnas Spanyol pada 2010 dan 2026 (Foto: AI)
Spanyol menyusul kesuksesan tersebut pada era modern saat mengawinkan gelar Euro 2008 dengan trofi Piala Dunia 2010.
Di bawah arahan pelatih Luis Aragones, La Roja menjelma menjadi mesin penyerang yang sangat mematikan lewat filosofi permainan umpan pendek mengalir yang dikenal sebagai tiki-taka.
Ketika Vicente del Bosque mengambilalih kemudi untuk Piala Dunia 2010, ia memilih mempertahankan cetak biru permainan tersebut namun dengan pendekatan yang sedikit lebih defensif.
Del Bosque menduetkan Sergio Busquets dan Xabi Alonso di lini tengah untuk memberikan perlindungan ekstra bagi lini belakang mereka.
Sama seperti kisah Jerman Barat, langkah Spanyol di Afrika Selatan juga sempat tersandung saat kalah mengejutkan 0-1 dari Swiss di laga pembuka.
Kapten Iker Casillas bahkan mengakui dirinya "tidak pernah merasa segugup itu" sebelum pertandingan krusial berikutnya melawan Honduras.
Spanyol akhirnya sukses bangkit dan menyapu bersih seluruh laga fase gugur dengan kemenangan identik 1-0 hingga menembus final melawan Belanda.
Gol dramatis Andres Iniesta di babak tambahan waktu akhirnya menobatkan Spanyol sebagai juara dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
Fakta-fakta Menarik
Fakta-fakta menariknya, 15 pemain yang memenangi Euro 2008 dan Piala Dunia 2010 dengan Spanyol, seperti Casillas, Joan Capdevila, Iniesta, Carlos Puyol, Sergio Ramos, dan Xavi menjadi starter di kedua final tersebut.
Sembilan pemain yang terlibat di kedua skuad tersebut juga memiliki lebih dari 100 caps untuk Spanyol. Ramos terbanyak dengan 180 caps.
Del Bosque juga menjadi pelatih ketiga yang memenangi Piala Dunia dengan kumis di wajahnya. Dia bersama dua pelatih lainnya, Aymore Moreira (Brasil 1958) dan Luiz Felipe Scolari (Brasil 2002).
Prancis juga memenangi Piala Dunia dan Euro di waktu bersamaan, tapi kemenangan mereka di Belgia dan Belanda datang dua tahun setelah Zinedine Zidane memperkuat Les Bleus kala memenangi Piala Dunia 1998.
Italia menjadi satu-satunya negara lain yang memenangi keduanya, dengan empat titel Piala Dunia (1934, 1938, 1982, dan 2006) dan sukses di Euro 1968 dan 2020.

