7 Cerita di Balik Nomor Punggung Unik Bintang Lapangan Hijau

Dari Mario Balotelli hingga Johan Cruyff memiliki kisah menarik di balik pemilihan nomor punggung mereka.
Yusuf AbdillahYusuf Abdillah - Minggu, 03 Mei 2020
7 Cerita di Balik Nomor Punggung Unik Bintang Lapangan Hijau
Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BolaSkor.com - Setiap kali ada pemain baru datang ke sebuah klub, salah satu hal yang diumumkan adalah nomor punggung yang akan dipakainya. Bagi sebagian besar pemain, nomor punggung memang memiliki arti yang sangat penting.

Sebagian besar pemain sepak bola merasakan kedekatan yang kuat dengan nomor-nomor mereka. Dalam banyak hal suatu angka dapat mendefinisikan mereka, memiliki makna yang dalam, atau bahkan sudah menjadi merek pribadi.

Berikut 7 cerita menarik di balik pemilihan nomor punggung pemain.

Baca juga:

5 Wonderkid Ligue 1 yang Paling Mencuri Perhatian di Musim 2019/20

5 Pergantian Pemain yang Mengubah Arah Sejarah Sepak Bola

Ivan Zamorano (1+8)

Kisah nomor 18 Ivan Zamorano di Inter Milan telah lama menjadi salah satu anekdot sepak bola paling populer. Setelah tiba di Inter Milan dari Real Madrid pada 1996, legenda Chile harus melepaskan nomor keramatnya "9" pada musim panas 1998.

Nomor tersebut menjadi milik Ronaldo Luiz Nazario de Lima. Akan tetapi tidaklah benar yang menganggap Zamorano melepaskan nomor 9 karena datangnya Ronaldo.

Fakta sebenarnya, kedatangan Ronaldo dari Barcelona bukanlah alasan pergantian nomor tersebut. Ronaldo bergabung dengan Inter setahun sebelumnya dan kala itu dia mengenakan nomor 10 selama musim pertamanya.

Namun ketika Roberto Baggio kemudian tiba di San Siro pada 1998, sang bintang mengambil nomor 10 Ronaldo. Pada akhirnya Ronaldo mendapatkan nomor 9.

Sedangkan Zamorano kemudian memilih untuk memasukkan tanda '+' di antara digit angka barunya, karena 1+8=9.


Mario Balotelli (45)

Kisah di balik pemilihan nomor 45 oleh Mario Balotelli mirip dengan Ivan Zamorano. Keduanya menjadikan "pertambahan" sebagai alasan.

Balotelli sempat juga memaparkan alasan lain memilih 45 sebagai nomor dalam sebuah wawancara saat bergabung dengan Liverpool pada 2014. "Ketika saya pertama kali bermain tiga atau empat pertandingan dengan Inter Milan, ketika saya masih muda, saya memakai 45 karena angka untuk pemain muda adalah dari 36 hingga 50."

"Saya mengambil nomor 45 karena saya bercanda bahwa empat tambah lima adalah sembilan. Dan, saya mencetak gol di semua empat pertandingan. Ini membawa saya keberuntungan dan itulah sebabnya saya selalu mempertahankan 45," lanjut Balotelli.

Sayang, nomor 45 itu tidak membawa keberuntungan saat dia berkostum Liverpool.


Ronaldinho (80)

Ronaldinho membuktikan dirinya sebagai salah satu nomor 10 terbesar dunia sepanjang masa. Performanya terutama saat bersama Barcelona membawanya ke jajaran legenda. Akan tetapi Ronaldinho menukar nomor 10 menjadi 80 saat hijrah ke AC Milan pada 2008.

Alasan Ronaldinho memilih 80 sebagai nomornya sebenarnya sangat simpel. Itu menunjukkan tahun kelahirannya 1980. Kebetulan saat itu menggunakan tahun kelahiran sebagai nomor punggung memang sedang tren di Milan.

Waktu itu, Andriy Shevchenko mengenakan nomor 76, Robinho memiliki 83, Mathieu Flamini memakai 84, dan Stephan El Shaarawy 92.

Tren memilih tahun kelahiran sebagai nomor juga menular ke klub Serie A lain. Saat itu mantan bek Italia Marco Cassetti mengenakan nomor 77 selama di AS Roma, sementara Valon Behrami memilih nomor 85 di Napoli.


Andrea Pirlo (21)

Maestro lapangan tengah Italia Andrea Pirlo identik dengan nomor 21 di sepanjang kariernya. Dia mengusung nomor 21 di level klub dan tim nasional Italia.

Dalam otobiografinya, Pirlo menjelaskan alasan di balik nomor 21. "Ayah saya lahir pada tanggal 21. Itu juga merupakan tanggal pernikahan saya dan debut di Serie A."

"Itu langsung menjadi nomor pilihan sejak awal dan saya tidak akan melepaskannya."

Selanjutnya, Pirlo juga menambahkan fakta menarik lain dari nomor 21. Pada 2011, Pirlo mendapatkan tawaran dengan nominal besar dari klub Qatar. Namun Pirlo menolak tawaran tersebut. Pirlo mengungkap, penolakan dia sampaikan pada pukul 21.21.

Sebulan kemudian Pirlo bergabung dengan Juventus dan merasakan sukses besar bersama klub Kota Turin tersebut.


Osvaldo Ardiles (1)

Pemain legenda Tottenham Hotspur asal Argentina Osvaldo "Ossie" Ardiles dikenal karena mengenakan nomor punggung tidak lazim. Ossie memakai nomor 1 saat memperkuat Argentina selama Piala Dunia 1982. Pilihan yang agak aneh karena Ossie bukanlah kiper, yang umumnya memakai nomor 1.

Alasan di balik pemilihan nomor 1 adalah kebijakan penomoran timnas Argentina untuk Piala Dunia 1978 sebenarnya ditetapkan secara alfabet, kecuali Diego Maradona yang diberi nomor 10 favoritnya.

Di Argentina pemain non-kiper memakai nomor 1 bukan fenomena baru. Pasalnya penomoran telah diberikan secara alfabet pada 1978 dan Ardiles kedapatan nomor 2, belakangan berganti menjadi 1.

Selain Argentina, Belanda juga memakai sistem alfabet dalam menentukan nomor pemain. Pada Piala Dunia 1974, gelandang Ruud Geels diberikan nomor 1, sementara kiper pilihan pertama Jan Jongbloed mengenakan nomor 8.


Gianluigi Buffon (88)

Gianluigi Buffon sempat memicu kontrovesi ketika memakai nomor 88 saat memperkuat Parma musim 2000-01. Kontroversi ini tidak lepas dari aksi kiper Italia sebelumnya yang pernah memakai kaus bertuliskan frasa fasis pro-Mussolini.

Tak pelak, saat Buffon berencana memakai nomor 88, publik langsung mengaitkannya kepada Nazi. Banyak orang menganggap bahwa '88' adalah simbolisme neo-Nazi yang merujuk pada 'HH' atau 'Heil Hitler'.

Namun, Buffon secara terbuka menjelaskan, "Saya memilih 88 karena mengingatkan saya pada empat bola dan di Italia kita semua tahu apa artinya memiliki bola, kekuatan dan tekad."

"Musim ini saya harus memiliki bola untuk mendapatkan kembali tempat saya di timnas Italia," Buffon menerangkan.

"Awalnya saya tidak memilih 88. Saya ingin 00 tetapi liga mengatakan itu tidak mungkin. Saya juga usulkan 01 tetapi itu tidak dianggap angka yang tepat. Saya menyukai 01 karena itu adalah nomor pada mobil Jenderal Lee di serial TV Dukes of Hazzard."

Pada akhirnya Buffon memilih 77 sebagai gantinya dan kemudian kembali mengenakan nomor 1.


Johan Cruyff (14)

Kisah pemilihan nomor 14 oleh pemain legendaris Belanda Johan Cruyff sangatlah unik. Pasalnya di balik semua itu ada faktor ketidaksengajaan dan sifat pemberontak sang legenda.

Pada saat sepak bola menerapkan aturan nomor yang sama bagi tiap pemain setiap laga, ketika pemain bebas berganti nomor di laga berbeda, tiba-tiba Cruyff masuk lapangan dan bertanding melawan PSV Eindhoven dengan memakai nomor 14.

Padahal sebelumnya, Cruyff selalu memilih nomor 9. Akan tetapi beberapa saat sebelum laga, gelandang Ajax Gerrie Muhren tidak bisa menemukan kostumnya, yang bernomor 7. Melihat situasi ini, Cruyff kemudian memberikan kostum nomor 9-nya kepada Muhren.

Baca juga:

4 Momen Pesepak Bola Berbuka Puasa saat Pertandingan

5 Pelatih Hebat yang Sedang Menganggur

Sedangkan Cruyff langsung mengambil kostum yang ada dalam keranjang secara acak. Kepada majalah Voetball International pada 2012 Muhren mengisahkan pengalamannya itu.

Muhren mengatakan, Cruyff secara asal memilih kostum dari keranjang, dan kostum yang diambilnya itu kebetulan bernomor 14. Sepekan kemudian, Cruyff memutuskan akan selalu memakai nomor tersebut.

"Gerrie, pertandingan melawan PSV berjalan bagus. Jadi ayo kita bermain dengan memakai nomor yang sama dengan kostum pekan lalu," ujar Muhren menirukan perkataan Cruyff kepadanya.

Yang menarik, meski tidak ada aturan pemain harus menggunakan nomor yang sama setiap laga, saat itu sejatinya ada aturan nomor yang dipakai saat kickoff adalah 1 sampai 11. Artinya, Cruyff sudah melanggar aturan. Namun, pada kenyataannya Cruyff tetap bisa memakai nomor 14.

Pengecualian juga terjadi saat penentuan nomor di tim nasional Belanda jelang Piala Dunia 1974. Belanda saat itu memakai sistem alfabet nama pemain dalam menentukan nomor. Jika mengacu pada sistem, Cruyff seharusnya memakai baju bernomor 1 pada Piala Dunia 1974, bukan 14.

Trivia Sepak Bola

Yusuf Abdillah

Jurnalis olahraga dan editor senior dengan spesialisasi sepak bola dunia. Pengalaman di media lebih dari 15 tahun. Lulusan Universitas Indonesia. Mengawali karier sebagai reporter di Tabloid Soccer (Kompas Gramedia Group). Sebelum bergabung dengan BolaSkor.com, pernah berkarier di beberapa media besar Indonesia seperti BeritaSatu dan Suara.com. Pernah meliput beberapa event besar seperti UEFA Euro 2008.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Sosok
Analisis: Mengapa Prancis Harus Membangun Kekuatan Lini Tengah di Sekitar Bintang Como, Lucas da Cunha
Lucas da Cunha tampil impresif meski melakukan kesalahan kontra Italia. Simak alasan Prancis perlu membangun lini tengah di sekitar bintang Como itu.
Arief Hadi - Senin, 05 Oktober 2026
Analisis: Mengapa Prancis Harus Membangun Kekuatan Lini Tengah di Sekitar Bintang Como, Lucas da Cunha
Ragam
3 Pemain Thailand yang Layak Diwaspadai Indonesia di Final FIFA ASEAN Cup 2026
Chanathip Songkrasin, Teerasak Poeiphimai, dan Kakana Khamyok menjadi tiga pemain Thailand yang layak diwaspadai Indonesia di final ASEAN Cup 2026.
Arief Hadi - Jumat, 02 Oktober 2026
3 Pemain Thailand yang Layak Diwaspadai Indonesia di Final FIFA ASEAN Cup 2026
Ragam
8 Pelatih Baru di Ajang UEFA Nations League, dari Jurgen Klopp hingga Zinedine Zidane
Jurgen Klopp hingga Zinedine Zidane menjadi delapan pelatih baru di UEFA Nations League 2026-2027. Simak daftar lengkapnya.
Arief Hadi - Kamis, 24 September 2026
8 Pelatih Baru di Ajang UEFA Nations League, dari Jurgen Klopp hingga Zinedine Zidane
Ragam
5 Fakta Unik Derby Madrid: Lebih Bergengsi daripada El Clasico
5 fakta unik Derby Madrid antara Atlético Madrid dan Real Madrid yang jarang diketahui. Simak sejarah rivalitas, Cibeles, hingga awal berdirinya Atlético.
Johan Kristiandi - Minggu, 20 September 2026
5 Fakta Unik Derby Madrid: Lebih Bergengsi daripada El Clasico
Ragam
Floyd Samba, Putra Legenda Blackburn Rovers yang Mencuri Perhatian Bareng Manchester City di Piala Liga
Floyd Samba mencetak dua gol pada debut bersama Manchester City. Striker 17 tahun itu merupakan putra mantan bek Blackburn Rovers, Christopher Samba.
Arief Hadi - Jumat, 18 September 2026
Floyd Samba, Putra Legenda Blackburn Rovers yang Mencuri Perhatian Bareng Manchester City di Piala Liga
Ragam
5 Alasan Mengapa Brentford vs Chelsea Layak Dinanti, Menjanjikan Laga Seru di Premier League
Brentford vs Chelsea menjanjikan laga seru di Premier League. Simak lima alasan yang membuat duel ini layak dinanti, dari hujan gol hingga H2H.
Arief Hadi - Kamis, 17 September 2026
5 Alasan Mengapa Brentford vs Chelsea Layak Dinanti, Menjanjikan Laga Seru di Premier League
Ragam
3 Alasan Mengapa Harry Kane Seharusnya Memenangi Ballon d'Or 2026
Harry Kane punya tiga alasan kuat untuk memenangkan Ballon d'Or 2026, dari dominasi di Jerman hingga performa impresif bersama Timnas Inggris.
Arief Hadi - Selasa, 15 September 2026
3 Alasan Mengapa Harry Kane Seharusnya Memenangi Ballon d'Or 2026
Ragam
5 Alasan AS Roma Memimpin Klasemen Sementara Serie A 2026/2027: Duet Dybala dan Mallen Trengginas
AS Roma memuncaki klasemen Serie A 2026/2027 dengan rekor sempurna. Simak 5 alasan Giallorossi melaju kencang bersama Gasperini dan Donyell Malen.
Johan Kristiandi - Selasa, 15 September 2026
5 Alasan AS Roma Memimpin Klasemen Sementara Serie A 2026/2027: Duet Dybala dan Mallen Trengginas
Ragam
Momen-momen Tak Terlupakan dalam Sejarah Derby Manchester
Simak tujuh momen ikonik Derby Manchester, dari gol salto Wayne Rooney hingga selebrasi legendaris Mario Balotelli.
Arief Hadi - Minggu, 13 September 2026
Momen-momen Tak Terlupakan dalam Sejarah Derby Manchester
Ragam
5 Nama Besar yang Tidak Masuk Nominasi Ballon d'Or 2026
Pedri, David Raya, Raphinha, Bukayo Saka, dan Bradley Barcola mengejutkan karena tidak masuk nominasi Ballon d'Or 2026.
Arief Hadi - Kamis, 10 September 2026
5 Nama Besar yang Tidak Masuk Nominasi Ballon d'Or 2026
Bagikan