Football

Sport

Feature

Result

Show

Ragam Feature Piala Dunia Internasional Berita

Statistik dan Angka-angka Menarik pada Final Piala Dunia

Arief Hadi - Sabtu, 18 Juli 2026

BolaSkor.com – Partai final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol melawan Argentina di New York New Jersey Stadium, Senin (20/07) pukul 02.00 dini hari WIB, dipastikan bakal menyedot perhatian jutaan pasang mata penikmat sepak bola global.

Laga krusial ini tidak hanya sekadar perebutan trofi berlapis emas, melainkan juga panggung pembuktian taktik tingkat tinggi dari kedua tim.

Menjelang duel akbar dua raksasa sepak bola tersebut, sejarah mencatat berbagai statistik serta angka-angka menarik yang pernah terjadi di partai puncak.

Baca Juga:

Presiden Argentina Javier Milei Absen di Final Piala Dunia 2026, Pilih Pertahankan Ritual Pembawa Hoki

Final Piala Dunia 2026 Dibayangi Kabut Asap, Kualitas Udara Jadi Sorotan Jelang Spanyol vs Argentina

Naik 50 Persen dari 2022, Berapa Hadiah Uang yang Diterima Pemenang Piala Dunia 2026?

Dirangkum dari FIFA, berikut adalah rangkuman data historis yang melatarbelakangi kemegahan final Piala Dunia dari masa ke masa.

88

Belanda vs Jerman Barat di Piala Dunia 1974 (Foto: Getty Images)

Johan Neeskens dari Belanda mencetak gol tercepat dalam sejarah final Piala Dunia hanya dalam waktu 88 detik pada edisi 1974. Gol kilat tersebut lahir bahkan sebelum tim lawan, Jerman Barat, sempat menyentuh bola sama sekali di atas lapangan.

Timnas Belanda melakukan sepak mula dan mencatatkan 16 operan beruntun sebelum bola mendarat di kaki sang legenda, Johan Cruyff.

Cruyff kemudian mengecoh Berti Vogts dan Uli Hoeness hingga membuahkan penalti pertama sepanjang sejarah final yang dieksekusi sempurna oleh Neeskens.

Meski penalti pertama di final membutuhkan waktu hingga 44 tahun untuk diberikan sejak turnamen pertama, penalti kedua hanya berjarak 23 menit setelahnya. Paul Breitner sukses mengeksekusinya untuk membantu skuad asuhan Helmut Schon meraih kemenangan.

60

Bodo Illgner (Foto: FIFA)

Sejarah mencatat bahwa dibutuhkan waktu hingga 60 tahun bagi sebuah tim untuk bisa menjaga gawangnya tidak kebobolan di final Piala Dunia.

Pasca 24 tim mencoba dan gagal, Jerman Barat menjadi tim pertama yang mengukirnya saat menang 1-0 atas Argentina pada 1990.

Sosok penjaga gawang yang mengukir rekor tersebut adalah Bodo Illgner yang saat itu baru menginjak usia 23 tahun.

Hingga kini, Illgner masih memegang rekor sebagai kiper termuda yang pernah bermain di pertandingan puncak sepak bola dunia.

Menariknya, kiper semifinalis asal Inggris pada edisi itu, Peter Shilton, bahkan sudah melakoni debut profesionalnya di kasta tertinggi satu tahun sebelum Illgner lahir.

Keberhasilan Jerman Barat tersebut sekaligus memulai rentetan tujuh clean sheets beruntun dalam tujuh laga final berikutnya.

44

Spanyol di Piala Dunia 2010 (Foto: FIFA)

Timnas Spanyol sukses mengakhiri kutukan panjang selama 44 tahun bagi negara yang memenangi final Piala Dunia dengan jersey kedua mereka pada tahun 2010.

Penggunaan seragam cadangan ini sebelumnya kerap membawa nasib sial bagi tim-tim besar.

Pasca Inggris mengalahkan Jerman Barat dengan seragam merah pada tahun 1966, rentetan kegagalan jersi kedua terus berlanjut.

Jerman Barat tumbang dari Argentina saat memakai jersey hijau pada 1986, dan Argentina kalah dari Jerman Barat dengan warna biru tua empat tahun berselang.

Tren negatif tersebut juga sempat menimpa timnas Prancis yang harus mengakui keunggulan Italia saat mengenakan jersey putih pada final 2006.

Spanyol akhirnya memutus tren buruk itu saat mengangkat trofi dengan seragam cadangan mereka di Afrika Selatan.

30

Hungaria di Piala Dunia 1954 (Foto: Getty Images)

Kemenangan dramatis Jerman Barat di final 1954 secara mengejutkan sukses menghentikan rekor fantastis 30 pertandingan tidak terkalahkan milik Hungaria.

Rekor dunia tersebut bertahan sangat lama sebelum akhirnya dipecahkan oleh Argentina sekitar 40 tahun kemudian.

Skuad emas Hungaria sebenarnya sempat membantai Jerman Barat dengan skor mencolok 8-3 di fase grup dan sudah unggul 2-0 dalam delapan menit awal di final.

Namun, anak asuh Sepp Herberger secara luar biasa mampu bangkit dan membalikkan kedudukan menjadi 3-2.

Momen ikonik tersebut menjadi satu-satunya waktu di mana sebuah tim mampu mengejar defisit dua gol untuk memenangi final Piala Dunia.

Prancis hampir menyamakan catatan itu saat melawan Argentina di Qatar 2022, sebelum akhirnya kalah lewat drama adu penalti.

22

Italia di Piala Dunia 1982 (Foto: FIFA)

Perbedaan usia yang sangat mencolok sebesar 22 tahun terjadi di antara dua penggawa timnas Italia, Giuseppe Bergomi dan Dino Zoff, pada final 1982. Saat itu, Bergomi baru menginjak usia 18 tahun sedangkan sang kiper Zoff sudah berusia 40 tahun.

Jarak usia terbesar berikutnya di skuad juara final dicatatkan oleh legenda Brasil, Pele dan Nilton Santos, dengan selisih 15 tahun 5 bulan pada 1958.

Statistik ini menunjukkan kombinasi kematangan pemain senior dan energi talenta muda sangat krusial.

Kontras dengan itu, Prancis pada final 1998 memiliki skuad starter dengan rentang usia yang sangat merata. Jarak usia antara starter termuda dan tertua mereka, yakni Zinedine Zidane dan Frank Leboeuf, hanya terpaut empat tahun dan lima bulan saja.

8

Inggris di Piala Dunia 1966 (Foto: FIFA)

Martin Peters dan Geoff Hurst, dua aktor utama yang memborong empat gol Inggris di final 1966, ternyata memiliki modal pengalaman internasional yang minim.

Keduanya tercatat hanya mengoleksi total kombinasi delapan caps saja sebelum turnamen akbar itu dimulai.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kematangan skuad tim nasional Brasil pada edisi Piala Dunia berikutnya di Meksiko 1970.

Para pencetak empat gol Selecao di laga puncak membawa modal pengalaman masif berupa total 220 caps internasional.

7

Jerman di Piala Dunia 1974 (Foto: FIFA)

Sepanjang sejarah penyelenggaraan turnamen, tercatat hanya ada tujuh timnas yang mampu mencatatkan kemenangan lewat aksi comeback di final Piala Dunia.

Enam aksi luar biasa di antaranya terjadi pada tujuh edisi awal kompetisi ini digelar.

Aksi bangkit dari ketertinggalan itu diukir oleh Uruguay atas Argentina pada 1930, Italia atas Cekoslowakia pada 1934, Jerman Barat atas Hungaria pada 1954.

Brasil juga melakukannya atas Swedia pada 1958 dan Cekoslowakia pada 1962, serta Inggris atas Jerman Barat pada 1966.

Uruguay juga sempat bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Brasil dan mengangkat trofi pada tahun 1950, meskipun laga itu bukan final resmi.

Tim terakhir yang mampu bangkit dan menang di final adalah Jerman Barat saat menumbangkan Belanda 52 tahun lalu.

5

Brasil di Piala Dunia 1958 (Foto: FIFA)

Lima pemain yang menjadi starter untuk Brasil di final 1958 ternyata tidak bermain sejak pertandingan pembuka melawan Austria.

Perubahan masif ini menjadi perbedaan terbesar antara daftar susunan pemain awal dan akhir dari tim juara sepanjang sejarah.

Djalma Santos, Zito, Garrincha, Pele, dan Vava merupakan barisan pemain yang baru dipromosikan di tengah berjalannya turnamen.

Di laga final, Nils Liedholm yang berusia 35 tahun menjadi pencetak gol tertua, sementara Pele menjadi pencetak gol termuda di usia 17 tahun.

Kemenangan telak Selecao dengan skor 5-2 atas Swedia tersebut hingga kini masih memegang rekor sebagai pertandingan final dengan jumlah gol tertinggi sepanjang sejarah Piala Dunia.

4

Kylian Mbappe di Piala Dunia 2022 (Foto: FIFA)

Penyerang timnas Prancis, Kylian Mbappe, mengukir rekor tanpa tanding dengan koleksi total empat gol khusus di laga final Piala Dunia.

Catatan tajamnya melampaui nama-nama besar seperti Geoff Hurst, Vava, Pele, dan Zinedine Zidane yang masing-masing mengemas tiga gol.

Mbappe sukses menyumbangkan satu gol pada edisi 2018 dan mencatatkan hat-trick spektakuler pada final 2022 lalu.

Gol terakhirnya untuk Prancis di Stadion Lusail pada menit ke-118 juga tercatat sebagai gol paling larut yang pernah tercipta di laga puncak.

3

Legenda Brasil, Cafu (Foto: FIFA)

Legenda Brasil, Cafu, sejauh ini masih memegang rekor sebagai satu-satunya pemain yang mampu bertanding dalam tiga edisi final Piala Dunia berbeda.

Pemain berjuluk 'Kereta Ekspres' (The Express Train) ini tampil pada final edisi 1994, 1998, dan menjadi kapten pada 2002.

Pele memang memegang rekor trofi terbanyak dengan memenangi tiga Piala Dunia, namun ia absen di laga puncak 1962 akibat cedera.

Di Piala Dunia 2026 ini, Lionel Messi yang sebelumnya tampil di final 2014 dan 2022 akan menyamai rekor Cafu saat memimpin Argentina melawan Spanyol.

2

Luis Monti (Foto: Getty Images)

Vava (1958 dan 1962), Pele (1958 and 1970), Paul Breitner (1974 dan 1982), Zinedine Zidane (1998 dan 2006), serta Kylian Mbappe (2018 dan 2022) adalah deretan pemain elite yang mampu mencetak gol dalam dua laga final Piala Dunia yang berbeda.

Sementara itu, Luis Monti menorehkan tinta sejarah unik sebagai satu-satunya pemain yang tampil di final Piala Dunia untuk dua negara berbeda.

Ia membela tanah kelahirannya, Argentina, melawan Uruguay pada 1930, dan bermain untuk Italia saat bersua Cekoslowakia pada 1934.

Pada final edisi 1934 tersebut, untuk pertama kali dan satu-satunya dalam sejarah, kedua tim dipimpin oleh kapten yang berposisi sebagai penjaga gawang.

Mereka adalah Giampiero Combi di kubu Italia dan Frantisek Planicka yang mengomandoi timnas Cekoslowakia.

Baca Artikel Asli