Bolaskor.com - Senny Marbun resmi terpilih sebagai presiden ASEAN Para Sport Federation (APSF), untuk periode kepengurusan 2026-2030. Rencananya, APSF akan memindahkan kantornya dari Thailand ke Indonesia.
APSF melakukan agenda rapat umum dan pemilihan komite eksekutif di Hotel Alila Solo, mulai hari Jumat (5/6). Sebelas negara yang menjadi anggota APSF mengirimkan perwakilannya ke Solo untuk memilih jajaran komite eksekutif secara langsung.
Pada akhirnya Senny Marbun yang juga berstatus sebagai ketua umum National Paralympic Committee Indonesia (NPC Indonesia) terpilih sebagai presiden APSF. Senny mendapat dukungan dari tujuh negara anggota, mengalahkan calon lain dari Thailand, Maitree Kongruang, yang hanya mendapatkan empat suara.
Baca Juga:
NPC Indonesia Berkembang Pesat, Eks Rider Moto 2 Bisa Harumkan Nama Negara
NPC dan Chery Lepas Atlet Indonesia ke Asian Youth Para Games 2025
Selain Senny, posisi sekretaris jenderal juga diduduki sosok asal Indonesia, yakni Sukanti Rahardjo Bintoro. Keberadaan dua figur ini kemudian menyepakati pemindahan kantor kesekretariatan APSF dari sebelumnya berlokasi di Bangkok, bakal digeser ke Jakarta dan Solo.
Senny Marbun dalam jumpa pers usai pembentukan komite eksekutif APSF mengungkapkan kesiapannya untuk memajukan olahraga disabilitas di Asia Tenggara.
"Saya ingin prestasi negara-negara di Asia Tenggara lebih maju lagi kedepannya. Karena kalau melihat (prestasi) Indonesia, sebenarnya sudah melampaui batas ya. Kita sudah pernah juara tiga kali berturut-turut di ASEAN Para Games, dan capaian medali Indonesia juga bagus di Paralympic. Sekarang saya ingin negara-negara Asia Tenggara mengikuti jejak Indonesia agar bisa terus melangkah kedepan," kata Senny Marbun.
NPC Indonesia Bekal Memajukan Negara-negara Anggota APSF
Senny akan menjadikan pengalaman panjangnya membesarkan NPC Indonesia sebagai bekal memajukan negara-negara anggota APSF. Salah satu hal yang masih dilihat Senny ketika mengikuti kegiatan di kawasan Asia Tenggara adalah perbedaan perhatian dari pemerintah-pemerintah sebelas negara anggota APSF.
"Seperti yang kita tahu bahwa negara-negara di ASEAN itu masih banyak yang memarjinalkan masyarakat difabel. Itu yang perlu kita bangkitkan semangat negara-negara tersebut agar bisa seperti Indonesia, karena kita dahulu juga sama-sama termarjinalkan, tetapi kemudian Indonesia sudah luar biasa. Bahkan kita sekarang sudah memiliki lahan sepuluh hektar untuk training center. Itu yang perlu kita tularkan kepada negara negara lain," tuturnya.
"Kita akan coba. Saya akan coba datang ke negara-negara yang belum disentuh oleh pemerintahnya. Saya akan coba meminta kepada negaranya untuk mengangkat harkat martabat masyarakat difabel, seperti yang sudah dilakukan di Indonesia," lanjutnya.
Kepengurusan APSF periode 2026-2030 juga berencana menghelat ASEAN Youth Para Games sebagai bagian dari formulasi regenerasi atlet berprestasi. Namun begitu, hal ini masih akan menjadi pembahasan bersama sebelas negara anggota APSF.
"Kita harus sadar untuk mulai memperhatikan generasi berikutnya, agar tidak terjadi generation gap. Kita mulai memikirkan untuk bisa menyelenggarakan youth games. Jadi, kejuaraan untuk atlet-atlet pemula atau atlet muda," jelas Teo-Koh Sock Miang selaku wakil presiden bidang olahraga dan teknis. (Laporan Kontributor Putra Wijaya)