Wakil presiden Pasoepati, Ginda Ferrachtriawan, mengatakan bahwa mereka menyiapkan koreografi itu sejak empat hari lalu.
"Pada awalnya anak-anak berkata ingin menyiapkan atraksi yang spesial karena ini juga laga yang spesial. Akhirnya munculah ide itu, konsep Garuda save Palestina," kata Ginda saat dilansir dari CNNIndonesia.com.>"Ini bukan soal politik. Tapi kami melihat bahwa budaya solidaritas dan fair play memang seharusnya ada di sepak bola, dan apalagi isu ini sedang hangat."
"Apalagi di atas tribun itu tidak semua isinya Pasoepati, tapi ada juga penonton umum. Jadi persiapannya harus baik," kata Ginda.
Koreografi yang berlangsung nyaris satu menit itu, menurut Ginda, menghabiskan dana hingga Rp9 juta yang terkumpul hasil sumbangan sukarela anggota Pasoepati.
Meski demikian, Ginda sendiri menyayangkan adanya satu koreografi tiga dimensi yang gagal ditampilkan Pasoepati karena salah koordinasi dengan pihak keamanan. Menurutnya, tali yang diperlukan untuk melakukan koreografi tiga dimensi dan telah disiapkan sejak malam sebelumnya, diamankan petugas.
Dalam laga tersebut, Indonesia mencukur Malaysia 3-0 berkat dua gol Boaz Solossa dan satu gol Irfan Bachdim. Lebih dari 19 ribu penonton hadir di Stadion Manahan -- membuat stadion terisi hingga kapasitas maksimum.
Menurut Ginda, seandainya tim nasional kembali bermain di Solo, ia optimtisis penonton akan kembali memadati stadion.
"Sebelumnya banyak yang sangsi stadion akan ramai. Namun semua suporter berkata: 'Ayo nonton' ke stadion. Kami pun siap menjadi pemain ke-12 bagi tim nasional."
"Saya yakin, seandainya timnas bermain lagi di sini, stadion akan penuh terus."> >