BolaSkor.com - Kisah cinderella timnas Cape Verde di Piala Dunia 2026 memang harus terhenti di babak 32 besar setelah kalah tipis 2-3 dari Argentina, Sabtu (04/07) pagi WIB.
Kendati demikian, perjuangan heroik tim berjuluk Blue Sharks ini telah menobatkan mereka sebagai juara di hati rakyatnya.
Keberhasilan lolos ke Piala Dunia ini menjadi tonggak sejarah serta pencapaian budaya yang luar biasa bagi mereka.
Momentum bersejarah ini terasa sangat tepat karena terjadi hanya beberapa bulan setelah Cape Verde merayakan hari kemerdekaan yang ke-50 dari Portugal.
Baca Juga:
Hasil Piala Dunia 2026: Cape Verde Menyulitkan, Argentina Berjuang hingga Babak Tambahan untuk Lolos
Rating Pemain Argentina vs Cape Verde: Lionel Messi Belum Bosan Jadi yang Terbaik
Lionel Messi Pecahkan Rekor! 5 Statistik Gemilang Usai Argentina Kalahkan Cape Verde
"Banyak orang memberi tahu kami bahwa kami adalah negara yang tidak akan bertahan. Kami baru memiliki 50 tahun kemerdekaan."
Kami telah bekerja keras, dan sekarang kami adalah negara dengan ekonomi yang sangat kuat,
ungkap Augusto Gugas, mantan Menteri Kebudayaan dan Industri Kreatif Cape Verde kepada Goal.
Sebelum laga krusial menghadapi Argentina, Gugas juga sempat menyadari beratnya tantangan yang harus dihadapi oleh negaranya.
"Saya tahu ini akan menjadi sangat, sangat sulit. Kami harus memainkan pertandingan terbaik yang pernah kami mainkan dan tidak boleh melakukan kesalahan. Kami harus berdoa agar Messi tidak sedang berada di hari yang baik," tambahnya.
Menarik Perhatian Dunia Melalui Lionel Messi

Lionel Messi (HQpcrt)
Menghadapi megabintang sekelas Lionel Messi justru menjadi kebanggaan tersendiri bagi publik Cape Verde untuk mendapatkan pengakuan global.
Jujur saja, kami tidak menginginkan cara lain. Kami di sini untuk mendapatkan pengakuan. Siapa lagi yang akan menarik lebih banyak pasang mata daripada Lionel Messi sendiri?
tutur seorang warga bernama Resende.
Euforia luar biasa ini juga dirasakan oleh komunitas Cape Verde di diaspora, salah satunya di September Cafe yang terletak di New York.
Sang pemilik kafe, Sara Lopes, menegaskan bahwa keberhasilan lolos dari fase grup sudah menjadi kemenangan mutlak bagi negaranya dengan berkata, "Kami menang. Kami sudah menang."
Cape Verde sendiri merupakan negara terkecil secara luas wilayah yang berhasil menembus putaran final Piala Dunia, dengan jumlah populasi hanya sekitar satu persen dari total populasi Argentina.
Berkat performa luar biasa ini, mereka dipastikan membawa pulang hadiah sebesar 11 juta dolar AS dari FIFA.
Kebanggaan Bubista dan Kegigihan Sang Penjaga Gawang
Pelatih Cape Verde, Bubista, mengaku sangat puas dengan performa anak asuhnya yang mampu merepotkan tim-tim raksasa dunia.
Ini pertama kalinya kami berada di sini dan kami telah melakukannya dengan sangat baik. Kami mungkin negara kecil, tetapi kami bisa bermain melawan tim-tim terbaik,
jelas sang pelatih.
Ketangguhan Cape Verde sepanjang turnamen tidak lepas dari peran kiper veteran berusia 40 tahun, Vozinha, yang sempat menjadi sensasi setelah menahan imbang juara Eropa, Spanyol, dengan skor 0-0 di laga pembuka grup.
Menanggapi kekalahan dari Argentina, Vozinha tetap menegaskan rasa bangganya terhadap perjuangan tim.
"Tim kami berjuang. Tim kami melakukan semua yang bisa dilakukan untuk memenangkan pertandingan. Kami tidak bisa melakukannya, dan kami sedih dengan hasilnya."
"Namun, kami memiliki setiap alasan untuk merasa puas dan bangga dengan pertandingan yang kami mainkan dan atas semua yang kami capai selama Piala Dunia ini," imbuh Vozinha dilansir dari ESPN.
"Kami telah mengharumkan nama Cape Verde sebagai tim nasional di sebagian besar belahan dunia. Hari ini, kami bertarung dengan kedudukan seimbang melawan Argentina," pungkas Vozinha.