BolaSkor.com - Sepak bola sekali lagi membuktikan bahwa dominasi penguasaan bola dan banyaknya peluang belum tentu berujung kemenangan.
Hal itu terlihat jelas dari perjalanan Turki di Piala Dunia 2026. Meski tampil superior secara statistik, tim asuhan Vincenzo Montella justru harus pulang lebih cepat.
Baru menjalani dua pertandingan di Grup D, skuad asuhan Montella sudah dipastikan tersingkir setelah kalah 0-1 dari Paraguay di San Francisco Bay Area Stadium, Sabtu (20/6) pagi WIB.
Baca Juga:
Hasil Piala Dunia 2026: Paraguay Menang, Turki Dipastikan Angkat Koper
Haiti dan Turki Jadi Dua Tim Pertama yang Gugur dari Piala Dunia 2026
Mengapa Pencetak Gol Terbanyak di Piala Dunia Justru Bisa Menjadi Pertanda Buruk?
Hasil itu menjadi kekalahan kedua Turki di fase grup. Sebelumnya, Turki juga takluk 0-2 dari Australia. Hasil ini jauh dari ekspektasi banyak pihak, mengingat Turki datang dengan materi pemain yang dinilai sebagai salah satu generasi terbaik mereka dalam beberapa tahun terakhir.
Nama-nama seperti Arda Guler, Kenan Yildiz, dan Hakan Calhanoglu tampil menjanjikan di babak kualifikasi zona Eropa. Dalam perjalanan menuju putaran final, Turki hanya sekali kalah dari Spanyol, sementara sisanya mereka catatkan dengan empat kemenangan dan satu hasil imbang.
Langkah mereka di babak play-off juga berjalan mulus. Kemenangan tipis 1-0 atas Rumania dan Kosovo mengantarkan Turki lolos ke Piala Dunia 2026.
Harapan besar mengiringi Turki di Piala Dunia 2026. Namun, apa yang diharapkan ternyata tidak sesuai kenyataan. Turki kesulitan besar memecah kebuntuan saat menghadapi Australia dan Paraguay.
Dominasi Permainan, Hasil Nihil

Secara statistik, Turki tampil dominan pada dua pertandingan tersebut. Mereka lebih banyak menguasai bola dan terus menekan pertahanan lawan.
Saat menghadapi Paraguay, Turki mencatat 78 persen penguasaan bola. Permainan mereka juga sangat rapi, dengan total 638 operan dan akurasi umpan mencapai 90 persen.
Dominasi serupa juga terlihat saat melawan Australia, di mana Turki menguasai 63 persen.
Masalah terbesar Turki ada pada efektivitas serangan. Dalam laga kontra Paraguay, mereka melepaskan 33 tembakan, tetapi hanya enam yang tepat sasaran.
Secara keseluruhan, dalam dua laga di Piala Dunia 2026, Turki mencatat total 65 tembakan tanpa satu pun berbuah gol.
Montella, sebagai pelatih, melihat angka statistik sebagai pembuktian bahwa tim asuhannya tidak beruntung dalam turnamen kali ini.
Dalam dua pertandingan, kami melepaskan 65 tembakan. Saya bahkan tidak ingin membahas penguasaan bola. Keberuntungan tidak berpihak kepada kami,
ujar Montella.
Tidak bisa dihindari, minimnya produktivitas lini depan menjadi sorotan utama. Banyak kritik diarahkan kepada para penyerang Turki yang tidak optimal.
Meski begitu, Montella menolak menyalahkan para pemainnya sepenuhnya. Menurutnya, kurangnya pengalaman tampil secara konsisten di turnamen besar ikut memengaruhi mentalitas tim dalam menghadapi tekanan.
Montella menilai Turki masih membutuhkan proses untuk membangun kebiasaan bersaing di level tertinggi.
“Kami perlu membangun kebiasaan bermain di turnamen-turnamen besar. Kami harus secara konsisten lolos ke Piala Dunia. Karena kami belum berpartisipasi secara konsisten, hal itu mungkin secara tidak sadar memengaruhi para pemain kami,” kata Montella.