BolaSkor.com - Piala Dunia 1954 menjadi satu di antara edisi yang paling menarik pada awal diselenggarakannya kompetisi empat tahunan tersebut. Saat itulah Hungaria gagal meruntuhkan tembok tinggi yang dibangun Jerman Barat.
Warita bermula dari keputusan FIFA menunjuk Swiss sebagai tuan rumah Piala Dunia 1954.
Swiss terpilih sebagai peringatan ulang tahun FIFA ke-50 di kongres Rio de Janeiro pada 22 Juli 1950.
Dengung Piala Dunia ketika itu sangat terasa karena untuk pertama kalinya disiarkan di televisi.
Baca Juga:
Kilas Balik Piala Dunia 1950: Pesta Sepak Bola setelah Perang Dunia II dan Tragedi Maracanazo
Kilas Balik Piala Dunia 1930-1934: Cerita Awal Perjalanan di Uruguay yang Berlanjut ke Italia
Kilas Balik - Cerita Manis Tim Debutan Kroasia Era Davor Suker di Piala Dunia 1998
Piala Dunia ketika itu diikuti 16 tim yang dibagi menjadi empat grup. Dua tim teratas dari masing-masing grup akan melangkah ke babak gugur.
Pada Grup 1, Brasil dan Yugoslavia secara berurutan menjadi dua tim terbaik. Keduanya mengalahkan Prancis dan Meksiko.
Sementara itu, dari Grup 2, Hungaria dan Jerman Barat yang mendapatkan tiket ke babak selanjutnya.
Beralih ke Grup 3, Uruguay dan Austria melaju ke fase berikutnya setelah masing-masing mengoleksi empat poin.
Dari perwakilan Grup 4, Inggris dan Swiss yang melangkah, sedangkan Italia dan Belgia angkat koper.
Sebagai catatan kaki, pada babak grup Piala Dunia 1954 dua tim unggulan tidak akan saling berhadapan.
Dengan demikian, hanya ada empat pertandingan yang mempertemukan tim unggulan dan non-unggulan.
Hegemoni Hungaria
Jika ada satu tim yang menonjol pada Piala Dunia 1954, Hungaria adalah jawabannya.
Tujuh bulan sebelum kompetisi dimulai, Hungaria sudah unjuk gigi dengan menjadi tim pertama di luar Britania Raya yang membantai Inggris 6-3 di Wembley.
Torehan yang diukir Hungaria pada babak grup pun menjadi bukti. Ferenc Puskas dan kawan-kawan membuat Korea Selatan dan Jerman Barat babak belur.
Korea Selatan digulung sembilan gol tanpa balas, sedangkan Jerman Barat digilas 8-3.
Laju Hungaria pun tidak terbendung pada babak gugur. Di perempat final, Hungaria menumbangkan kekuatan sepak bola Amerika Selatan, Brasil, dengan skor 4-2.
Kemudian, pada empat besar, giliran sang juara bertahan, Uruguay, yang menjadi korban. Brace Sandor Kocsis pada babak tambahan membawa Hungaria menang 4-2.
Menariknya, pada laga final, Hungaria bersua Jerman Barat yang pernah dikalahkan di fase grup.
Miracle of Bern
Tidak heran, hasil pada pertemuan pertama menjadi acuan sejumlah pihak dalam memilih jagoan pada laga final. Hungaria diprediksi akan keluar sebagai pemenang.
Apalagi, catatan pertemuan juga berpihak kepada Magical Magyars. Hungaria mencatatkan delapan kemenangan, enam imbang, dan lima kekalahan.
Pertandingan final pun akhirnya digelar di Wankdorf Stadium, Bern, pada 4 Juli 1954. Ketika itu, setidaknya 62.500 penonton memadati stadion.
Hungaria berada di atas angin setelah Puskas (6') dan Zoltan Czibor (8') membawa keunggulan dua gol di bawah 10 menit.
Tidak heran suporter Hungaria pun semakin bersorak kencang. Bagi mereka, trofi Piala Dunia sudah di depan mata.
Namun, satu hal yang belum mereka ketahui, Jerman Barat dinaungi keajaiban pada laga kali ini.
Baca Juga:
Skuad Resmi Brasil untuk Piala Dunia 2026: Carlo Ancelotti Boyong Neymar
Profil Grup D Piala Dunia 2026: Amerika Serikat Dikepung Paraguay, Australia, dan Turki
Taktik Sepp Herberger seolah menyihir para pemain untuk tidak menyerah sebelum peluit panjang dibunyikan.
Sinyal comeback, remontada, Obrada, Derrota Heroica, atau apa pun Sobat BolaSkor menyebutnya, mulai terlihat.
Legenda 1.FC Nuremberg, Maximilian Morlock, mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-10. Gol itu merupakan respons positif untuk Jerman Barat yang sedang tertinggal.
Delapan menit berselang, Helmut Rahn membawa Jerman Barat menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Keadaan itu membuat Hungaria tersentak. Ferenc Puskas dan kawan-kawan meningkatkan tekanan dan sejumlah peluang pun tercipta.
Namun, Dewi Fortuna berada di kubu Jerman Barat. Rentetan peluang Hungaria seolah terus membentur kukuhnya pertahanan Jerman Barat.
Tembakan Nandor Hidegkuti membentur tiang gawang. Sementara itu, dua aksi Czibor masih terhalang mistar gawang. Bahkan, Werner Kohlmeyer dua kali melakukan penyelamatan tepat di garis gawang.
Penampilan gemilang Toni Turek di bawah mistar gawang kian membuat para penyerang Hungaria mengernyitkan dahi.
Apa yang menjadi judul artikel ini pun benar-benar terjadi. Ada keajaiban di Bern.
Ketika Jerman Barat terus dibombardir Hungaria, Helmut Rahn mencuri kesempatan dalam kesempitan.
Ia melakukan tusukan yang diwarnai beberapa tipuan untuk mengecoh lawan. Kemudian, Rahn mencatatkan namanya di papan skor setelah tembakan mendatarnya meluncur mulus melewati garis gawang.
Gol tersebut membuat Hungaria semakin kebakaran janggut. Bagaimana tidak, keunggulan dua gol yang membuat trofi Piala Dunia di depan mata harus sirna.
Bahkan, upaya Puskas mencetak gol pun dianulir wasit karena terlebih dahulu offside.
Akhirnya, wasit William Ling asal Inggris pun meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Jerman Barat menggoreskan tinta emas dengan meraih gelar Piala Dunia untuk pertama kali.
Usut punya usut, kemenangan Der Panzer tidak lepas dari teknologi di sepatu Adidas yang bisa berganti pul.
Hal itu membuat para pemain Jerman Barat lebih mudah beradaptasi di lapangan yang becek karena diguyur derasnya hujan.
Impak Keberhasilan yang Meluas
Kemenangan kali ini pun disambut suka cita oleh masyarakat Jerman Barat. Bahkan, menurut kesaksian Franz Beckenbauer, dampaknya terasa di berbagai sektor.
Gelar juara Piala Dunia memberikan angin segar bagi Jerman Barat pasca-Perang Dunia II.
"Jerman secara mengejutkan berada di peta dunia. Bagi siapa pun yang besar dalam masa kesengsaraan setelah perang, Bern adalah inspirasi luar biasa. Seluruh negeri memulihkan harga dirinya," ujar Beckenbauer dicuplik dari laman resmi FIFA.
Prestasi itu juga membuat sutradara Sonke Wortmann merilis film The Miracle of Bern pada 2003 yang menceritakan keberhasilan Fritz Walter dan kawan-kawan.
Jika ada yang tersenyum, ada pula yang menangis. Pada sisi lainnya, kekalahan di laga puncak menjadi pukulan telak bagi Hungaria.
Bahkan, runner-up Piala Dunia 1954 menjadi prestasi terbaik Hungaria di level sepak bola tertinggi hingga saat ini setelah sebelumnya menorehkan hal yang sama pada 1938.
Tidak ada tim yang seperti kami. Kami hanya kalah satu kali dalam 50 pertandingan. Sayangnya, itu terjadi pada laga terbesar di hidup kami. Itu adalah tragedi,
urai Czibor mencurahkan isi hatinya.
Senada dengan Czibor, Gyula Grosics yang menjadi penjaga gawang Hungaria ketika itu pun memendam kekecewaan hingga saat ini.
Baca Juga:
Piala Dunia 2026: Luke Shaw Layak Dibawa Thomas Tuchel ke Dalam Skuad Inggris
Profil Grup C Piala Dunia 2026: Brasil Unggulan, Satu Tiket Direbutkan Maroko, Haiti, dan Skotlandia
Skuad Resmi Timnas Korea Selatan untuk Piala Dunia 2026: Edisi Keempat buat Son Hyung-min
Bahkan, kegagalan itu berubah menjadi mimpi buruk yang terus menghantui.
Sudah lebih dari 40 tahun berlalu. Namun, jika seseorang membangunkan dan mengingatkan akan laga itu, saya akan menangis,
tutur Grosics.
Namun, satu yang perlu diingat, keajaiban tidak datang sembarangan. Ia akan menghampiri orang yang percaya, berdoa, dan berupaya.