BolaSkor.com - Asian Games 2026 yang diselenggarakan di Aichi-Nagoya, Jepang, akan dimulai kurang dari dua bulan lagi. Tim Indonesia tengah menggodok cabang olahraga (cabor) dan atlet mana saja yang akan dikirimkan ke ajang tersebut.
Salah satu hal yang selalu menjadi perbincangan sebelum bergulirnya ajang multievent internasional ialah mengenai cabor yang ingin berangkat secara mandiri.
Untuk Asian Games 2026, hingga saat ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), tim Chef de Mission (CdM), dan NOC Indonesia masih terus menggodok mekanisme keberangkatan mandiri bagi sejumlah cabor.
Secara mendasar, cabor diperbolehkan berangkat mandiri ke Asian Games 2026, tetapi dengan syarat tertentu.
Baca Juga:
Tim CdM Indonesia Antisipasi Tantangan Akomodasi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026
NOC Indonesia Gelar Rapat Anggota Luar Biasa, Bicarakan Kongres Pemilihan dan Asian Games 2026
Ketua Umum NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menegaskan bahwa konsep cabang olahraga mandiri tidak dimaknai sebagai kebebasan untuk berangkat sendiri tanpa standar yang jelas.
Sebaliknya, skema tersebut akan dibangun di atas prinsip akuntabilitas dan tanggung jawab prestasi.
Skema cabang olahraga mandiri masih kami godok. Tetapi prinsipnya sangat jelas. Kalau memilih berangkat secara mandiri, maka pembiayaannya juga dilakukan secara mandiri dan harus disertai tanggung jawab prestasi,
tegas Okto kepada awak media termasuk BolaSkor.com.
Targetnya bukan sekadar hadir di Asian Games, tetapi membawa pulang medali untuk Indonesia,
ucapnya.
Perlu Perencanaan Matang

Ketua Umum NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari (NOC Indonesia)
Menurut Okto, setiap usulan keberangkatan tetap akan melalui kajian strategis dan teknis, termasuk peluang meraih medali, kesiapan logistik, serta kepastian akomodasi di Jepang.
Dia tidak ingin cabor-cabor yang berangkat mandiri justru menimbulkan persoalan baru yang berpengaruh terhadap Merah Putih
"Kami tidak mungkin memberangkatkan siapa pun tanpa perencanaan yang matang. Kami harus memastikan atlet memiliki tempat tinggal yang jelas, dukungan logistik yang memadai, dan peluang prestasi yang terukur," ucap Okto.
"Jangan sampai keputusan yang diambil justru menimbulkan persoalan baru yang berdampak pada nama baik Indonesia," terangnya.
Penulis: Gazza Roosaryatama

