BolaSkor.com - Malam dingin di Kota Zenica, Bosnia-Herzegovina pada Selasa 31 Maret 2026, menusuk sukma pemain, pelatih, dan suporter timnas Italia.
Gli Azzurri menatap langit dingin Kota Zenica dengan tatapan kosong. Air mata luruh turun ke lapangan hijau. Rasa penyeselan menghinggapi tubuh lelah mereka.
Italia gagal untuk lolos ke Piala Dunia 2026, ketiga kalinya secara beruntun. Mimpi buruk bagi sepak bola Italia, yang dikenal sebagai penguasa dunia tahun 1990-an.
Baca Juga:
Formasi 3-5-2 Jadi Alasan Italia Gagal ke Piala Dunia 2026
Krisis Sepak Bola Italia: AC Milan Menghilang dan Juventus Minim Peran
Timnas Italia Gagal ke Piala Dunia 2026, Keterpurukan Juventus Dianggap Berpengaruh

Alessandro Bastoni (X/Footballtweet)
Esmir Bajraktarevic, sang pahlawan Bosnia Herzegovina dalam adu penalti (4-1) membuat empat kali juara dunia harus menunggu setidaknya sampai 2030 atau 16 tahun, untuk bisa mempunyai peluang lolos ke panggung dunia.
Rasa sakit, perih, emosi, tumpah di Stadion Bilino Polje. Gianluigi Donnarumma tak percaya peluangnya untuk tampil pertama kali di Piala Dunia, hilang dalam drama adu penalti.
Kegagalan ini meninggalkan pertanyaan besar, apa yang salah dari Italia? Negara besar sepak bola dunia yang mempunyai empat gelar juara dunia, bisa absen dalam tiga edisi berturut-turut Piala Dunia (2018, 2022, 2026).
FIGC, Praktik Kotor dan Bukti Kegagalan Organisasi
"Saya tidak dapat bekerja. Sebanyak 900 halaman proyek saya pada dasarnya telah dipinggirkan," ujar legenda Timnas Italia, Roberto Baggio, dikutip dari Football Italia saat mengundurkan diri dari FIGC.

Roberto Baggio di final Piala Dunia 1994 (Foto: Football-Italia)
Baggio pernah menjadi Direktur Teknik FIGC (Federasi Sepak Bola Italia), namun dia keluar pada tahun 2013.
Mantan pemain yang pernah membela 3 klub besar Italia, AC Milan, Juventus, dan Inter Milan tersebut menganggap terlalu banyak politik dan korupsi di tubuh FIGC.
Sejatinya, berdasarkan fakta, justru Italia bisa memenangkan Piala Dunia (1982 dan 2006) ketika FIGC dilanda skandal Calciopoli atau pengaturan skor di Serie A. Namun, politik dan korupsi FIGC sampai saat ini terus mendarah daging.
FIGC lebih sibuk mengurusi skandal daripada memperbaiki kualitas kompetisinya.
Hal ini dilakukan agar FIGC yang selama ini menyimpan borok atas praktik-praktik kotor, jangan sampai terhendus ke publik.
Inter Milan diduga terlibat skandal keuangan besar (terparah sejak Calciopoli 2006) dengan menciptakan pendapatan fiktif senilai 300 juta Euro dari sponsor Asia (2016-2019) untuk menghindari sanksi Financial Fair Play (FFP) UEFA.
Tuduhan ini mencakup dugaan keterlibatan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dalam menutupi pelanggaran tersebut.
Skandal keuangan Juventus (dikenal sebagai kasus plusvalenza atau Prisma) melibatkan manipulasi laporan keuangan, penggelembungan nilai transfer pemain, dan pemalsuan pengurangan gaji pemain (termasuk kasus Cristiano Ronaldo) untuk menghindari aturan Financial Fair Play.
Lebih buruknya lagi, prinsip ekonomi FIGC dalam menjalankan organisasi masih tradisi tempo dulu. Mengandalkan sektor-sektor pemerintah dalam membangun sepak bola.
Tidak ada prinsip-prinsip modernisasi ekonomi yang dilakukan seperti FA Inggris yang dominan melibatkan swasta dalam membangun sepak bola Negeri Raja Charles tersebut.

Presiden FIGC, Gabriele Gravina (X/FabrizioRomano)
Ditambah lagi Presiden FIGC, Gabriele Gravina, merupakan sosok keras kepala. Gambarannya bisa dilihat ketika kegagalan kali ini, dia diminta mundur, tetapi tidak mau.
Sudah dua kali dia menolak mundur sejak gagalnya Timnas Italia dua kali ke Piala Dunia (2022 dan 2026).
"Ada yang namanya Dewan Federal, saya sudah memutuskan untuk mengadakan rapat pekan depan, dan saat itulah akan ada evaluasi," ujar Gravina, dikutip Football Italia.
"Saya mengerti bahwa orang-orang akan menuntut pengunduran diri saya, tetapi ini adalah situasi yang tepat untuk melakukannya.
"Pekan depan kami akan merenungkan situasi ini lebih dalam, karena pertanyaan yang Anda ajukan membutuhkan tempat yang tepat untuk menjawabnya."
"FIGC harus memutuskan bagaimana memilih dan membangun timnya. Kami hanya bisa melakukan apa yang kami miliki di liga ini," jelasnya.
FIGC jadi bukti kegagalan berjalannya organisasi pada semestinya. Kualitas kompetisi menurun, pembinaan usia muda jadi tersendat.
Pembinaan hingga Catenaccio Hilang

Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 (football-italia)
Serie A sebagai kompetisi terbaik dunia pada medio 1990-an hingga awal 2000-an sirna. Para pemain bintang dunia lebih baik bermain di Premier League, yang kini disebut sebagai kompetisi terbaik dunia.
Klub-klub kehilangan pendapatan besar dari segi iklan hingga hak siar televisi, yang tadinya besar menjadi kecil. Klub pun memiliki hutang, pembinaan tersendat.
Peran klub melahirkan talenta berbakat hilang. Tidak ada peran AC Milan, Juventus, dan Inter Milan dalam membangun Gli Azzurri seperti dulu kala.
Klub hanya ingin prestasi instan. Tidak memikirkan bagaimana merawat pembinaan.
Pada laporan 2025, dikutip Football Italia, Baggio juga mengungkapkan dua penyebab kemunduran sepak bola Italia ada dalam kompetisi.
"Klub tidak berani menurunkan pemain muda asal Italia, dan lebih mempercayai pemain asing," ujar Baggio.
Nama-nama pengganti dari Francesco Totti, Alessandro Del Piero, Fabio Cannavaro, Andrea Pirlo, Gianluigi Buffon, hingga Genaro Gattuso, yang merupakan juara dunia 2006, nyaris tidak ada untuk melampaui para legenda tersebut.
Identitas Italia dengan Catenaccio atau pertahanan terbaik hilang. Warisan Karl Rappan yang disempurnakan Nereo Rocco, pun hilang.
Italia bermain tanpa identitas, bahkan transformasi "Catenaccio Era Modern" pun tidak pernah lahir sampai detik ini.
Sebuah identitas Timnas Italia tidak dapat dirawat seperti layaknya Das Reboot milik Jerman, Total Football milik Belanda, hingga Tango ala Argentina.
Jika tidak berbenah dari tubuh FIGC sampai klub, mungkin kedigdayaan sepak bola Italia akan menghilang seperti Hungaria dan Bulgaria, raksasa dunia tahun 1980 an sampai 1990-an awal. Dan kita tidak pernah melihat lagi Timnas Italia berlaga di panggung dunia.
FIGC harus berbenah agar Timnas Italia kembali ke panggung dunia pada tahun 2030. Lagu Fratelli d'Italia yang selalu dinyanyikan penuh teriakan dan semangat berapi-api oleh para pemain, bisa disaksikan kembali.

Timnas Italia (football-italia)
“Fratelli d'Italia," (Hai Para pemuda Itali)
"Stringiamoci a coorte," (Mari bersatu)
Tulisan ini merupakan Kolom Redaksi yang ditulis Tengku Sufiyanto berdasarkan fakta, opini, dan analisis.