BolaSkor.com - DBL Indonesia turut memperhatikan kasus meninggalnya siswa SMKN 4 Samarinda, almarhum Mandala Rizky Syahputra.
Almarhum Mandala wafat setelah menderita sakit, dari infeksi serius pada kaki yang diduga dipicu penggunaan sepatu yang tidak sesuai ukuran. Ia harus memakai sepatu kekecilan selama aktifitas sekolahnya, sehingga kakinya mengalami pembengkakan.
DBL Indonesia memberikan bantuan sepatu dan tas sekolah dari brand apparel AZA untuk keluarga almarhum Mandala, yang diterima langsung oleh sang Ibu, Ratnasari untuk kepada para adik almarhum.
Baca Juga:
DBL Indonesia dan Kemendikdasmen Gelar Kerja Sama, Program Super Teacher Jadi Unggulan
SEA Games 2025: Trio Alumni DBL Bantu Timnas Basket 3x3 Putri Indonesia Ukir Sejarah
“Saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan sepatu dan tas sekolah ini. Alhamdulillah sangat membantu untuk anak-anak saya,” ujar Ratnasari.
“Nanti dipakai anak-anak saya sekolah. Ini sangat berguna sekali buat mereka,” tuturnya.
Ratnasari mengatakan, bantuan seperti ini menjadi suntikan semangat di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sederhana. Selain membantu kebutuhan sekolah, perhatian dari banyak pihak juga membuat dirinya merasa tidak sendiri menghadapi masa sulit.
“Saya bersyukur masih banyak orang yang peduli sama keluarga kami,” ujarnya.
AZA Terketuk Pintu Hati
Senior Manajer brand AZA, Arif Rahman Hakim mengatakan, begitu mendengar kisah pilu almarhum Mandala, ingatan tim AZA langsung tertuju pada sejarah berdirinya brand ini.
Founder DBL Indonesia Azrul Ananda memang di sejumlah kesempatan kerap bicara tentang sejarah berdirinya brand AZA. Brand itu lahir untuk menghancurkan barrier anak-anak Indonesia dalam bermain basket.
Ceritanya, di awal kompetisi DBL digelar di berbagai daerah di Tanah Air, tim DBL Indonesia menemukan fakta bahwa penghalang anak bermain basket adalah sepatu. Sepatu basket merupakan apparel yang termasuk boros pemakaiannya.
Saat itu, di awal kompetisi DBL berjalan ditemukan begitu banyak anak Indonesia di sejumlah daerah bermain basket dengan sepatu seadanya.
Tidak proper. Sebab saat itu tidak banyak brand sepatu lokal yang punya sepatu basket dengan harga terjangkau tapi kualitasnya bisa menunjang performa pemain. Dari sana hadirlah sepatu AZA.
“Saat itu kami banyak menemukan kasus anak-anak sepatunya kekecilan. Atau kalau tidak sepatunya sengaja dibesarkan agar lebih awet. Kasusnya sama seperti yang terjadi pada almarhum Mandala ini,” kata Hakim, sapaan akrab Arif Rahman Hakim.