BolaSkor.com - PSSI terus memacu pengembangan sepak bola perempuan melalui kerja sama strategis dengan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF). Kerja sama tersebut didukung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia serta Kedutaan Besar Prancis di Indonesia.
Langkah ini bukan sekadar program jangka pendek, melainkan bagian dari rencana besar membangun fondasi kuat dari level akar rumput hingga tim nasional.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa kolaborasi ini juga menjadi bagian dari konsep sport diplomacy yang kini didorong Prancis.
Baca Juga:
Timnas Indonesia vs Prancis Bisa Terjadi! FFF Buka Peluang, Erick Thohir Angkat Bicara
Pelatih Brasil Nilai Eksel Runtukahu Layak Dapat Tempat di Timnas Indonesia
Satu Negara Asia Tertarik Hadapi Timnas Indonesia di FIFA Matchday Juni 2026
Menurutnya, olahraga bisa menjadi jembatan yang efektif untuk mempererat hubungan antarnegara sekaligus menyampaikan nilai penting seperti kesetaraan dan inklusivitas.
"Sport diplomacy ini bukan hanya soal olahraga, tetapi bagaimana masyarakat bisa langsung merasakan dampaknya. Di dalamnya ada pesan kesetaraan kesempatan bagi perempuan," ujar Erick Thohir dalam konferensi pers di Institut Prancis Indonesia, Jakarta, Rabu (15/4).
Tidak Bisa Dilakukan Secara Instan
Erick menekankan, pembangunan sepak bola perempuan tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses panjang yang dimulai dari level grassroot dan dijalankan secara berkelanjutan.
Dalam beberapa tahun terakhir, PSSI bersama berbagai pihak telah menggelar kompetisi seperti Piala Pertiwi. Dari ajang tersebut, puluhan ribu talenta muda berhasil terjaring sebagai bagian dari fondasi pembinaan jangka panjang.
"Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, kami sudah mengumpulkan hampir 40 ribu pemain muda perempuan. Ini jadi dasar penting untuk masa depan," jelasnya.
Sebagai bagian dari program ini, sebanyak 20 pemain muda terpilih mendapatkan kesempatan langka untuk menjalani pemusatan latihan di Clairefontaine, pusat pelatihan elite milik tim nasional Prancis yang dikenal memiliki standar kelas dunia.
Bagi Erick, pengalaman ini bukan hanya soal peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga membentuk pola pikir para pemain.
"Penting bagi pemain kita melihat langsung standar latihan di luar negeri. Ini bukan hanya teknik, tapi juga mindset," tegasnya.
Hasil Seleksi dari Berbagai Turnamen
Sementara itu, anggota Exco PSSI, Vivin Cahyani, mengungkapkan bahwa program ini telah dipersiapkan sejak satu tahun terakhir. Proses seleksi dilakukan melalui talent scouting dari berbagai kompetisi, termasuk Piala Pertiwi dan turnamen yang didukung sektor swasta.
Para pemain yang terpilih merupakan kombinasi talenta muda dan pemain yang sudah masuk radar tim nasional kelompok usia, dengan fokus utama pada kategori U-17.
Sebelum bertolak ke Prancis, mereka lebih dulu menjalani pemusatan latihan selama satu pekan di Jakarta guna membangun kekompakan tim.
Selama berada di Prancis, para pemain dijadwalkan mengikuti enam sesi latihan serta satu laga uji coba. Lawan yang dihadapi akan ditentukan langsung di sana demi memberikan pengalaman kompetitif yang maksimal.
Menariknya, dalam program ini para pemain tidak ditangani langsung oleh pelatih Indonesia. Mereka akan dilatih oleh jajaran pelatih tim nasional Prancis, sementara pelatih Indonesia berperan sebagai supervisor.
"Pelatih kita akan melakukan monitoring dan mempelajari metode latihan di sana untuk kemudian bisa diadaptasi di Indonesia,” ujar Vivin.