"Sejak Juni hingga Agustus," kata Peter Rotimi Lipede, pemain Persewangi asal Nigeria, dalam konferensi pers di Wisma Atlet, Rabu (20/8). Menurut Peter, keberhasilan Persewangi berada di puncak klasemen Grup 7 Divisi Utama Liga Indonesia berbanding terbail dengan penggajian pemainnya yang selalu telat. Terkadang gaji baru dibayarkan setelah pemain mengancam mogok bertanding. Gaji bulan Juni dan Juli, kata Peter, baru separuhnya dibayar. Sedangkan gaji bulan Agustus juga belum seluruhnya dibayar. Rabu pagi tadi, para pemain juga sempat mengadukan manajemen Persewangi kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Pemain Persewangi mendapatkan gaji Rp 1-10 juta per bulan. Pemain Persewangi lainnya, Zainal Ikhwan, mengatakan, selain telat diberi gaji, pemain juga tidak mendapatkan jaminan kesehatan. Saat ini ada tiga pemain Persewangi yang sakit dan cedera setelah bertanding. Mereka terpaksa berobat sendiri karena tidak ada perhatian dari manajemen. Sementara itu, Manajer Persewangi Hari Wijaya mengatakan Persewangi saat ini memang tidak punya dana. Belum satu sponsor pun berminat mendanai Persewangi. Penjualan tiket pertandingan pun tak cukup untuk membayar gaji pemain. "Solusinya, harus ada bantuan dana dari pemerintah Banyuwangi," katanya. Hari meminta para pemainnya tetap bertanding meski gaji mereka telat. "Gaji telat itu wajar, karena juga menimpa klub-klub seluruh Indonesia," katanya. JANGAN LEWATKAN: 1. PSS Pastikan ke 16 Besar Divisi Utama 2. Kondisi Lapangan Persikad Penyebab Hasil Seri Villa 2000 3. Tahan Persekam Tanpa Gol, Persewangi Kokoh di Puncak 4. Gol Tunggal Nova Hermawan, Lambungkan Persewangi di Puncak Grup 7 5. Striker Muda Persewangi Siap Bersaing di Timnas U-19