Football

Sport

Feature

Result

Show

Ragam Feature Liga Lain Inggris Berita

Arsenal dan 4 Tim Juara dengan Gaya Bermain yang Dibenci

Arief Hadi - Jumat, 13 Maret 2026

BolaSkor.com - 2004. Itulah tahun terakhir Arsenal memenangi titel Premier League saat klub masih dilatih Arsene Wenger.

Kini, Arsenal memiliki peluang besar mengakhiri penantian trofi Premier League di era Mikel Arteta. Semakin spesial lagi, The Gunners juga berburu quadruple (empat) trofi.

Tidak ada yang meragukan konsistensi serta kedalaman skuad bagus yang dimiliki Arsenal, tetapi cara mereka bermain memicu kritik.

Situasi bola mati menjadi senjata utama dalam permainan Arsenal dan itu disorot karena strategi mereka, yang kini menjadi tren, kala mendorong kiper, berkumpul dekat dengannya, hingga menahan pemain.

Baca Juga:

Riccardo Calafiori Gelisah di Arsenal, Chelsea Siap Tampung

Arsenal Berbuat Curang untuk Memenangkan Titel Premier League

Liga Champions: Tahan Bayer Leverkusen, Satu Kaki Arsenal di Perempat Final

Arsenal belum menjadi juara Premier League, tetapi di masa lalu Arsenal pernah menjadi salah satu tim terburuk yang juga memenangi titel liga.

Sepak bola negatif, ilmu hitam dalam sepak bola bukan hal baru, acapkali disorot oleh lawan-lawan tapi fans tidak memedulikannya selama timnya terus menang bahkan mengakhiri trofi.

Berikut lima tim juara dengan gaya bermain yang dibenci, termasuk Arsenal di masa lalu:

1. Arsenal

Arsenal era George Graham (Foto: Laman Resmi Arsenal)

Arsenal-nya George Graham menjuarai First Division (format lama Premier League) pada 1989 dan 1991, tetapi sindiran 'Arsenal yang membosankan' terus bermunculan kala itu.

Kala itu, Arsenal sudah bermain dengan banyak jebakan offside, skor akhir yang tipis, dan bahkan Parma kehabisan ide melawan Arsenal di final Winners' Cup 1994 - karena Arsenal lebih banyak bertahan, seolah tidak ingin menyerang.

Bahkan melalui situs Sports Interactive, Arsenal kala itu dikenal dengan permainan yang pragmatis, sangat disiplin, dan filosofi kuat di lini belakang yang dikenal dengan istilah '1-0 untuk Arsenal'.

2. Leeds United

Leeds United arahan Don Revie (Foto: Yorkshire Evening Post)

Dua kali juara First Division (1969 dan 1974), Leeds United arahan Don Revie disegani tapi juga dikritik dengan cara mereka bermain.

Gaya main yang pragmatis, banyak dibenci lawan, hingga pemain-pemain berbakat di dalam tim tapi tak bermain lepas atau bebas dalam memaksimalkannya, semua ada di dalam skuad Leeds yang juga dilatih pelatih kontroversial.

Bahkan media kala itu tak segan melabeli Leeds dengan 'Leeds yang Kotor' karena cara mereka bermain dengan agresif, tak segan menghalalkan segala cara untuk menang.

3. Liverpool

Liverpool arahan Gerard Houllier (Foto: Getty Images)

Eks pelatih Liverpool, Gerard Houllier, menangani The Reds pada medio 1998-2004 dan sukses meraih sejumlah trofi seperti Piala FA, UEFA Cup (Liga Europa), dan dua Piala Liga.

2001 menjadi puncak kesuksesan dengan total tiga trofi yang diraih Houllier di Liverpool.

Akan tapi, Liverpool arahannya bermain dengan cara yang mudah diprediksi: bertahan kuat, ketat, dan mengandalkan serangan balik dengan harapan Michael Owen terus mendulang gol di lini depan.

Houllier bahkan disinyalir mendepak Robbie Fowler demi merekrut Emile Heskey agar ia bisa memaksimalkan potensi Owen.

Permainan Liverpool efektif, tetapi dengan taktik satu dimensi itu justru mengecilkan peran pemain berbakat seperti El Hadji Diouf.

4. Yunani

Timnas Yunani di Euro 2004 (Foto: Laman Resmi UEFA)

Menurut tulisan dari Barry Glendenning di Guardian, Yunani merupakan satu-satunya tim non-unggulan dalam sejarah yang ingin dilihat publik kalah.

Alasannya sederhana, karena gaya main timnas Yunani arahan Otto Rehhagel kala mengandalkan penjagaan satu pemain, serta ketergantungan pada situasi bola mati di Euro 2004.

Keberhasilan mereka menjadi juara akan selalu adalam sejarah sepak bola Eropa dan dunia, kisah cinderella yang bagus, tetapi tidak dengan gaya main mereka.

Pasca mengalahkan Spanyol di fase grup, Yunani mengalahkan Prancis, Republik Ceko, dan Portugal kala memenangi Euro 2004.

5. Wimbledon

Wimbledon asuhan Bobby Gould (Foto: Mirror/Getty Images)

"Banyak pemain memiliki masalah pribadi yang termanifestasi dalam cara mereka berperilaku dan bermain di lapangan."

Kutipan itu datang dari Bobby Gould, pelatih Wimbledon pada periode 1987-1990. Wimbledon asuhannya dikenal dengan istilah "Crazy Gang" atau "Geng Gila".

Gaya permainan bola panjang dan juga kasar membuat Wimbledon hanya memiliki sedikit pendukung netral, tapi taktik mereka sukses memenangi Piala FA pada 1988 dengan mengalahkan Liverpool di final.

Baca Artikel Asli