Football

Sport

Feature

Result

Show

Ragam Feature Inggris Berita

5 Kejutan yang Berpotensi Terjadi Jelang Akhir Musim 2025/2026 di Premier League

Arief Hadi - Senin, 16 Februari 2026

BolaSkor.com - Premier League 2025/2026 berjalan sengit sampai pekan 26 (saat artikel ini dibuat) dengan persaingan yang merebutkan titel liga, zona Eropa, dan menjauh dari zona degradasi.

Kejutan-kejutan masih dapat terjadi seiring ketatnya persaingan di rimba Premier League yang ketat: setiap tim dapat saling mengalahkan.

Baca Juga:

Perburuan Titel Premier League: Hati-hati Arsenal, Manchester City Mengejar

Hasil Super League 2025/2026: Mauro Zijlstra Debut, Persija Menang di Kandang Bali United

Link Streaming Super League 2025/2026, Bali United vs Persija, Minggu 15 Februari, Live Sebentar Lagi

Kecuali Wolverhampton Wanderers yang sudah hampir dipastikan degradasi dengan sembilan poin dari 26 laga, hal lainnya masih dapat terjadi. Apa saja?

1. Arsenal Gagal Juara

Brentford
Brentford vs Arsenal (X/PremierLeague)

Tidak ada yang meragukan Arsenal sebagai salah satu tim terbaik di Eropa saat ini, juga konsisten bermain dengan kedalaman skuad yang bagus.

Akan tapi, sedikit saja melakukan kesalahan dan gagal meraih poin penuh dapat merugikan Arsenal di Premier League.

Manchester City, yang sudah berpengalaman, mengejar kini dengan jarak empat poin dan kepercayaan tim membaik usai menang atas Liverpool.

Sebaliknya, Arsenal tertahan di markas Brentford dan mengubah jarak menjadi empat poin. Jarak itu relatif dekat.

Jika Arsenal gagal meraih poin penuh di dua laga, sedangkan Man City menang, maka posisi akan berbalik dengan cepat. Terlebih, Arsenal tak pernah jadi juara liga sejak 2004.

2. Manchester United Tempati Urutan Tiga

Manchester
Manchester United (Laman resmi Premier League)

Posisi tiga saat ini ditempati Aston Villa dengan jarak lima poin atas Manchester United, yang berada di peringkat empat.

Aston Villa dan Man United sama-sama fokus di Premier League, tetapi momentum bermain belakangan dimiliki Red Devils.

Tim arahan Michael Carrick tak terkalahkan di lima laga sejak Michael Carrick melatih, dan dengan pemain-pemain berkualitas di dalam skuad, posisi tiga masih dapat diraih Man United sekaligus mengamankan tempat di zona Liga Champions.

3. Tottenham Hotspur Degradasi

Tottenham
Tottenham Hotspur 0-1 Arsenal musim lalu (Foto: Laman Resmi Arsenal)

1976/1977, itulah musim terakhir Tottenham Hotspur degradasi dengan Keith Burkinshaw sebagai pelatih.

Kini, mimpi buruk itu dapat kembali menghantui Tottenham yang terpaut lima poin dari zona degradasi, dari West Ham United yang mulai menampilkan performa bagus.

Terlebih, fokus Tottenham kini juga terbagi ke Liga Champions selain Premier League. Dan klub berganti pelatih menjadi Igor Tudor setelah memecat Thomas Frank.

Jika Tudor tak dapat mengangkat performa Tottenham dan West Ham meraih cukup poin, situasi dapat berbalik dan mimpi buruk 1977 terulang kembali.

4. Brighton Pecat Fabian Hurzeler

Fabian
Fabian Hurzeler (ig/fabian.huerzeler)

Pemecatan pelatih sudah marak terjadi pada awal 2026 yang menimpa Enzo Maresca, Ruben Amorim, Xabi Alonso, Thomas Frank, dan Sean Dyche.

Nasib serupa berpotensi terjadi kepada pelatih Brighton & Hove Albion, Fabian Hurzeler.

Manajemen mendukung Hurzeler dengan pembelian total 300 juta poundsterling, namun musim ini Brighton tak membaik dengan permainan inkonsisten, dan berkutat di papan bawah klasemen.

Padahal, Brighton sempat bersaing merebutkan zona Liga Champions pada November lalu dan kini Hurzeler terancam dipecat.

5. Nottingham Forest Pecat Pelatih Lagi

Sean
Sean Dyche (x/NFFC)

Pemilik Nottingham Forest asal Yunani, Evangelos Marinakis, sekilas mengingatkan akan sosok mantan Presiden Palermo, Maurizio Zamparini, yang meninggal dunia pada 2022 lalu pada usia 80 tahun.

Kesamaan keduanya adalah hobi berganti pelatih dan tidak segan memecat pelatih meski itu dalam waktu dekat.

Musim ini, Forest sudah dilatih empat pelatih permanen berbeda dan kursi panas teranyar itu ditempati Vitor Pereira, eks pelatih Wolves.

Sebelumnya, Ange Postecoglou menggantikan Nuno Espirito Santo dan ia digantikan oleh Sean Dyche, yang kini digantikan Pereira.

Keputusan Marinakis kontroversial karena Forest tidak bermain buruk dengan Santo, bahkan menembus zona Eropa, sebelum keputusannya menjadi blunder besar dan kini Forest bertarung menjauh dari zona degradasi.

Baca Artikel Asli