"Saya tidak dapat bekerja. Sebanyak 900 halaman proyek saya pada dasarnya telah dipinggirkan," ujar legenda Timnas Italia, Roberto Baggio, dikutip dari Football Italia saat mengundurkan diri dari FIGC.

RobertoRoberto Baggio di final Piala Dunia 1994 (Foto: Football-Italia)

Baggio pernah menjadi Direktur Teknik FIGC (Federasi Sepak Bola Italia), namun dia keluar pada tahun 2013.

Mantan pemain yang pernah membela 3 klub besar Italia, AC Milan, Juventus, dan Inter Milan tersebut menganggap terlalu banyak politik dan korupsi di tubuh FIGC.

Sejatinya, berdasarkan fakta, justru Italia bisa memenangkan Piala Dunia (1982 dan 2006) ketika FIGC dilanda skandal Calciopoli atau pengaturan skor di Serie A. Namun, politik dan korupsi FIGC sampai saat ini terus mendarah daging.

FIGC lebih sibuk mengurusi skandal daripada memperbaiki kualitas kompetisinya.

Hal ini dilakukan agar FIGC yang selama ini menyimpan borok atas praktik-praktik kotor, jangan sampai terhendus ke publik.

Inter Milan diduga terlibat skandal keuangan besar (terparah sejak Calciopoli 2006) dengan menciptakan pendapatan fiktif senilai 300 juta Euro dari sponsor Asia (2016-2019) untuk menghindari sanksi Financial Fair Play (FFP) UEFA.

Tuduhan ini mencakup dugaan keterlibatan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dalam menutupi pelanggaran tersebut.

Skandal keuangan Juventus (dikenal sebagai kasus plusvalenza atau Prisma) melibatkan manipulasi laporan keuangan, penggelembungan nilai transfer pemain, dan pemalsuan pengurangan gaji pemain (termasuk kasus Cristiano Ronaldo) untuk menghindari aturan Financial Fair Play.

Lebih buruknya lagi, prinsip ekonomi FIGC dalam menjalankan organisasi masih tradisi tempo dulu. Mengandalkan sektor-sektor pemerintah dalam membangun sepak bola.

Tidak ada prinsip-prinsip modernisasi ekonomi yang dilakukan seperti FA Inggris yang dominan melibatkan swasta dalam membangun sepak bola Negeri Raja Charles tersebut.

GabrielePresiden FIGC, Gabriele Gravina (X/FabrizioRomano)

Ditambah lagi Presiden FIGC, Gabriele Gravina, merupakan sosok keras kepala. Gambarannya bisa dilihat ketika kegagalan kali ini, dia diminta mundur, tetapi tidak mau.

Sudah dua kali dia menolak mundur sejak gagalnya Timnas Italia dua kali ke Piala Dunia (2022 dan 2026).

"Ada yang namanya Dewan Federal, saya sudah memutuskan untuk mengadakan rapat pekan depan, dan saat itulah akan ada evaluasi," ujar Gravina, dikutip Football Italia.

"Saya mengerti bahwa orang-orang akan menuntut pengunduran diri saya, tetapi ini adalah situasi yang tepat untuk melakukannya.

"Pekan depan kami akan merenungkan situasi ini lebih dalam, karena pertanyaan yang Anda ajukan membutuhkan tempat yang tepat untuk menjawabnya."

"FIGC harus memutuskan bagaimana memilih dan membangun timnya. Kami hanya bisa melakukan apa yang kami miliki di liga ini," jelasnya.

FIGC jadi bukti kegagalan berjalannya organisasi pada semestinya. Kualitas kompetisi menurun, pembinaan usia muda jadi tersendat.

Pembinaan hingga Catenaccio Hilang