Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 (football-italia)
Serie A sebagai kompetisi terbaik dunia pada medio 1990-an hingga awal 2000-an sirna. Para pemain bintang dunia lebih baik bermain di Premier League, yang kini disebut sebagai kompetisi terbaik dunia.
Klub-klub kehilangan pendapatan besar dari segi iklan hingga hak siar televisi, yang tadinya besar menjadi kecil. Klub pun memiliki hutang, pembinaan tersendat.
Peran klub melahirkan talenta berbakat hilang. Tidak ada peran AC Milan, Juventus, dan Inter Milan dalam membangun Gli Azzurri seperti dulu kala.
Klub hanya ingin prestasi instan. Tidak memikirkan bagaimana merawat pembinaan.
Pada laporan 2025, dikutip Football Italia, Baggio juga mengungkapkan dua penyebab kemunduran sepak bola Italia ada dalam kompetisi.
"Klub tidak berani menurunkan pemain muda asal Italia, dan lebih mempercayai pemain asing," ujar Baggio.
Nama-nama pengganti dari Francesco Totti, Alessandro Del Piero, Fabio Cannavaro, Andrea Pirlo, Gianluigi Buffon, hingga Genaro Gattuso, yang merupakan juara dunia 2006, nyaris tidak ada untuk melampaui para legenda tersebut.
Identitas Italia dengan Catenaccio atau pertahanan terbaik hilang. Warisan Karl Rappan yang disempurnakan Nereo Rocco, pun hilang.
Italia bermain tanpa identitas, bahkan transformasi "Catenaccio Era Modern" pun tidak pernah lahir sampai detik ini.
Sebuah identitas Timnas Italia tidak dapat dirawat seperti layaknya Das Reboot milik Jerman, Total Football milik Belanda, hingga Tango ala Argentina.
Jika tidak berbenah dari tubuh FIGC sampai klub, mungkin kedigdayaan sepak bola Italia akan menghilang seperti Hungaria dan Bulgaria, raksasa dunia tahun 1980 an sampai 1990-an awal. Dan kita tidak pernah melihat lagi Timnas Italia berlaga di panggung dunia.
FIGC harus berbenah agar Timnas Italia kembali ke panggung dunia pada tahun 2030. Lagu Fratelli d'Italia yang selalu dinyanyikan penuh teriakan dan semangat berapi-api oleh para pemain, bisa disaksikan kembali.
Timnas Italia (football-italia)
“Fratelli d'Italia," (Hai Para pemuda Itali)
"Stringiamoci a coorte," (Mari bersatu)
Tulisan ini merupakan Kolom Redaksi yang ditulis Tengku Sufiyanto berdasarkan fakta, opini, dan analisis.