Maracanazo adalah tema yang merangkum keseluruhan pertandingan di final Piala Dunia 1950, yang jika diartikan secara harafiah bermakna pukulan telak di Maracana, yang notabene nama stadion final yang berlokasi di Ibu Kota Brasil, Rio de Janeiro. Apa yang terjadi kala itu?
Merangkum sekilas perjalanan Brasil dan Uruguay hingga mencapai fase final, Brasil lolos dari putaran pertama grup 1 yang berisikan Yugoslavia, Swiss, dan Meksiko sebagai pemuncak klasemen.
Uruguay juga lolos sebagai pemuncak klasemen grup 4 di atas Bolivia (belum banyak negara berpatisipasi kala itu).
Uruguay dan Brasil dipersatukan di putaran terakhir dengan format grup bersama Swedia dan Spanyol. Uruguay imbang lawan Spanyol dan menang lawan Swedia, sementara Brasil menang dua kali beruntun lawan Swedia dan Spanyol.
Pertemuan final pun terjadi di Estadio do Maracana, Rio de Janeiro, antara Brasil melawan Uruguay.
Tim tuan rumah dan melaju ke final, sudah dapat dibayangkan bagaimana atmosfer - serta build up - final. Masyarakat Brasil sudah sangat yakin tim mereka juara dan sebanyak 200.000 fans memadati stadion, membanjiri jalanan Ibu Kota.
Media setempat sudah membuat cetakan edisi khusus dengan judul "Champions of the World" atau "Juara Dunia", bahkan sudah ada band samba berdiri di sisi lapangan bersiap menyanyikan lagu baru kala Brasil juara.
Dengan fakta Brasil mencetak 13 gol di dua laga sebelum melawan Uruguay, wajar jika fans melihat Uruguay akan jadi korban lainnya untuk Augusto dkk.
Kemenangan pun jadi harga mati karena Pemerintah setempat berharap sepak bola dapat menyatukan negara dan juga Brasil dikenang sebagai kekuatan internasional.
"Suasana yang fantastis. Pendukung mereka melompat kegirangan seolah-olah mereka sudah memenangkan Piala Dunia," kenang Alcides Ghiggia, winger timnas Uruguay kala itu.
"Semua orang mengatakan mereka akan mengalahkan kami tiga atau empat kosong. Saya mencoba untuk tidak melihat ke arah penonton dan hanya melanjutkan pertandingan."
Atmosfer final benar-benar menguji mental Uruguay dan lapangan terlebih dahulu dibersihkan dari taburan bunga dari fans sebelum dimulai.
Laga dimulai dan selama 45 menit pertama kedua tim menciptakan peluang, tetapi laga berakhir imbang tanpa gol di paruh pertama.
Memasuki babak kedua dan baru berjalan dua menit, Brasil unggul dari gol Albino Friaca Cardoso. Gol itu semakin membuat fans yakin Brasil akan jadi juara dunia untuk kali pertama, tetapi laga belum berakhir dan Uruguay tidak menyerah begitu saja.
"Kapten kami berkata, 'Lihat rekan-rekan, kami harus melakukannya', jadi kami mulai menyerang, menyerang, menyerang," tambah Ghiggia.
Momen comeback itu pun terjadi dengan gol penyama kedudukan di menit 66 yang dicetak Juan Alberto Schiaffino, ketika menerima umpan silang dari Ghiggia. Momentum ada di tangan Uruguay.
11 menit sebelum laga bubar Ghiggia mencetak gol yang membalikkan keunggulan. Dengan insting yang dimilikinya, Ghiggia melepaskan tendangan dari sudut sempit dan berbuah gol yang tidak dapat ditepis Moacir Barbosa.
Hening bak kuburan. Itulah yang terjadi di Maracana, dari suasana riuh seolah Brasil sudah jadi juara menjadi keheningan yang digambarkan Joao Luiz de Albuquerque bak ada berita duka. Albuquerque menonton final itu pada usia 11 tahun, anak sekolah.
"Rasanya seperti pergi ke rumah teman yang ayah atau ibunya sudah meninggal. Itu momen untuk menyemangati tim kami, tapi kami malah diam saja," ucap Albuquerque seperti dilansir dari BBC Sport.