Alcides Ghiggia (Foto: FIFA)

"Tiga orang telah membungkam Maracana - Frank Sinatra, Paus dan saya," kata Ghiggia.

Pasca peluit panjang berbunyi tragedi Maracazano terjadi. Tangisan pecah: tangis sedih kekecewaan fans Brasil dan para pemain, di kubu berbeda tangis haru atas keberhasilan Uruguay jadi juara dunia di tanah Brasil.

"Saya ingat kami tidak bergerak selama 10 atau 15 menit. Saya tidak ingat Piala Dunia keluar atau apa. Saya hanya berpikir hal terburuk di dunia telah terjadi pada saya," tutur Albuquerque.

Dampaknya sangat besar untuk Brasil. Banyak bar dan restoran tutup seharian di Rio de Janeiro karena mereka tidak sedang dalam mood bagus setelah kekalahan tersebut. "Drama, Tragedi, dan Lelucon." Demikian headline surat kabar di Brasil.

Bahkan legenda sepak bola Brasil yang saat itu belum tenar namanya, Pele, mendengarkan kekalahan itu di radio di rumahnya selalu mengingatnya karena di momen itu ia melihat ayahnya menangis.

"Sepak bola seharusnya menjadi ekspresi hebat dari sisi Brasil," kata Alex Bellos, penulis Futebol: the Brazilian Way of Life. "Kekalahan itu memperkuat perasaan bahwa sebenarnya orang Brasil ditakdirkan untuk gagal di ujung dunia."

Pada akhirnya jauh setelahnya Brasil memang memenangi Piala Dunia lima kali, tetapi ketika mengungkit Maracana dan final melawan Uruguay, sebisa mungkin mereka tak ingin lagi melawan Uruguay di tempat yang sama.

Sebagai pengingat dari laga final tersebut, berikut susunan pemain kedua tim:

Brasil (2-3-4-1): Moacir Barbosa; Juvenal, Augusto; Bigode, Danilo, Bauer; Chico, Jair, Zizinho, Friaca; Ademir

Pelatih: Flavio Costa

Uruguay (2-3-4-1): Roque Maspoli; Matias Gonzalez, Eusebio Tejera; Victor Rodriguez Andrade, Obdulio Varela, Schubert Gambetta; Ruben Moran, Juan Alberto Schiaffino, Julio Perez, Alcide Ghiggia; Oscar Miguez

Pelatih: Juan Lopez Fontana