BolaSkor.com - Kesuksesan gelaran Piala Presiden 2025 tak datang begitu saja. Di baliknya, ada kerja kolektif lintas sektor yang solid, mulai dari sponsor, media, hingga auditor independen, yang memastikan turnamen berjalan transparan dan profesional.
Ketua Steering Committee Piala Presiden 2025, Maruarar Sirait, menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hasil kerja individu. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem sepak bola nasional yang sehat.
"Tidak ada superman, yang ada adalah superteam. Ini keberhasilan bersama dari seluruh panitia dan ekosistem yang terlibat," ujar Maruarar di SCTV Tower, Senayan, Jakarta, Minggu (12/4).
Menurutnya, kepercayaan dari Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menjadi salah satu fondasi utama kelancaran turnamen. Dukungan penuh tersebut dinilai mampu menjaga arah penyelenggaraan tetap profesional.
Tak hanya itu, Maruarar juga menyoroti peran penting media dan penyiar dalam membangun eksposur turnamen. Baginya, profesionalisme media menjadi salah satu faktor yang menjaga antusiasme publik tetap tinggi sepanjang kompetisi.
Baca Juga:
Kalahkan Oxford United, Port FC dari Thailand Cetak Sejarah Juara Piala Presiden 2025
Daftar Penghargaan Piala Presiden 2025: Mark Harris Top Skorer, Bordin Phala Pemain Terbaik
Lihat postingan ini di Instagram
Di sisi lain, langkah panitia menggandeng PwC Indonesia sebagai auditor independen menjadi bukti keseriusan dalam menjaga transparansi keuangan. Maruarar menyebut, evaluasi dari pihak eksternal sangat penting untuk perbaikan berkelanjutan.
"Kita tidak bisa menilai diri sendiri. Harus ada auditor terpercaya agar setiap kekurangan bisa diperbaiki ke depannya," jelasnya.
Kepercayaan Sponsor
Dukungan sponsor juga menjadi elemen krusial. Sejumlah nama besar seperti Astra International, Indofood, hingga Gojek ikut berkontribusi dalam menyukseskan turnamen.
Maruarar menekankan bahwa menjaga hubungan jangka panjang dengan mitra adalah kunci keberlanjutan industri olahraga.
Piala Presiden 2025 menghasilkan keuntungan yang cukup besar. Setelah diaudit oleh PwC, turnamen edisi kedelapan itu menghasilkan laba bersih Rp16 miliar.
"Kepercayaan itu sangat sulit didapat, tetapi sangat mudah hilang. Karena itu harus terus dijaga dan dirawat,” tegasnya.