BolaSkor.com - PSBS Biak tengah mengalami masalah internal akibat finansial. Klub kebanggaan masayarakat Biak, Papua itu sampai harus turun alias degradasi ke Championship Indonesia musim depan.
Banyak spekulasi yang berkembang soal PSBS dalam menjalani 3 laga sisa di Super League 2025/2026. Sampai ada kabar yang menyebutkan para pemain dan pelatih mogok bermain.
Pelatih PSBS, Marian Mihail, meluruskan spekulasi yang liar di media sosial. Marian Mihail berkomitmen untuk bekerja secara profesional.
"Dalam beberapa hari terakhir, banyak hal telah disampaikan secara publik mengenai posisi saya, tim, dan situasi yang sedang terjadi di PSBS Biak. Menjelang pertandingan berikutnya, saya merasa penting untuk menyampaikan hal-hal ini secara langsung dan dengan penuh rasa hormat kepada publik, para suporter, dan sepak bola Indonesia," kata Mihail, dalam keterangan resminya yang didapat BolaSkor.com.
Baca Juga:
Apalagi, kontraknya masih bersama PSBS baru berakhir hingga musim 2027. Tak ada satu niat pun untuk mogok bermain bersama PSBS.
"Pertama-tama, saya ingin memperjelas posisi saya. Saya memiliki kontrak yang sah dengan PSBS Biak hingga akhir musim 2027, dan saya sepenuhnya berniat untuk menghormati serta menjalankan kontrak tersebut secara profesional. Segala berita atau rumor lain yang beredar di media mengenai posisi saya hanyalah asumsi atau spekulasi dan tidak mencerminkan situasi resmi saya,"
"Saya datang ke Klub ini pada saat terjadi penurunan performa dan hasil pertandingan, serta ketika struktur kepelatihan membutuhkan kehadiran pelatih berlisensi UEFA Pro guna memenuhi Regulasi Kompetisi yang berlaku. Sejak kedatangan saya, saya selalu menjalankan tanggung jawab saya dengan profesionalisme, keseriusan, dan komitmen terhadap Klub serta tim,"
"Saya mewarisi skuad yang telah dibentuk sebelum kedatangan saya, termasuk pemain-pemain yang direkrut di bawah staf pelatih sebelumnya, dan saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja dengan struktur dan sumber daya yang tersedia. Namun, gangguan internal yang terus berlangsung, intervensi dari pihak luar, serta permasalahan disiplin yang belum terselesaikan telah secara signifikan memengaruhi lingkungan kerja dan pada akhirnya berdampak terhadap hasil kerja kami di lapangan,"
Degradasi Bukan Akhir Segalanya
Marian Mihail mengatakan, degradasi bukanlah akhir dari sebuah klub. Menurutnya, degradasi harus dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki klub dan bertahap bangkit dari keterpurukan.
"Terkait situasi finansial. Kesulitan finansial dalam sepak bola sayangnya bukan
hal yang jarang terjadi, dan saya memahami bahwa klub-klub lain juga menghadapi tantangan sepanjang musim ini,"
PSBS Berkomitmen Menyelesaikan Hak Pemain dan Pelatih

Marian Mihail. (LIB)
Marian Mihail juga mengungkapkan, PSBS sudah berkomitmen untuk menyelesaikan situasi ini. Apalagi, PSSI pun mengawasi hal ini bahwa terdapat
mekanisme dan jaminan dalam kerangka kompetisi untuk melindungi kewajiban finansial yang masih tertunda terhadap pemain, pelatih, dan staf.
"Untuk alasan tersebut, saya tidak mendukung eskalasi masalah internal ke ranah publik, penolakan untuk bermain, aksi mogok, ataupun tindakan apa pun yang dapat merusak citra Klub, Papua, maupun sepak bola Indonesia secara keseluruhan," ujar Mihail.
"Bahkan dalam situasi yang sulit, kita semua, termasuk pemain, pelatih, staf, dan
manajemen, memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik dan integritas klub, serta sepak bola Indonesia,"
Fokus di 3 Laga Tersisa

Aksi Ryuji Utomo saat Persita menghadapi PSBS Biak di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Kamis (6/11). (Media Persita)
Untuk itu, Marian Mihail menegaskan, seluruh pemain fokus menghadapi 3 laga tersisa untuk bisa meraih kemenangan, guna mengobati luka terdegradasi.
"Terkait pertandingan besok dan sisa pertandingan musim ini. Kami akan
berusaha menurunkan komposisi terbaik yang kami miliki, dengan perhatian khusus kepada para pemain yang menunjukkan profesionalisme, komitmen, dan mentalitas yang dibutuhkan untuk menjadi bagian dari proyek masa depan Klub,"
"Pada saat yang sama, kami akan terus mengamati, mengevaluasi, dan menilai kualitas yang dibutuhkan untuk proses restrukturisasi dan pengembangan Klub ke depan,"
Terlepas dari segala hal yang telah terjadi, saya tetap berkomitmen untuk bertindak secara profesional, menjaga integritas pekerjaan saya, serta menunjukkan rasa hormat kepada para suporter, Klub, dan seluruh komunitas sepak bola di Indonesia," tutupnya.