BolaSkor.com - Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, mengapresiasi sikap tegas Persebaya Surabaya yang melakukan penutupan Tribun Utara Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) sampai akhir musim.
Langkah itu diambil Persebaya karena maraknya ujaran kebencian dan penyalaan petasan di Tribun Utara GBT pada saat pertandingan kontra Persib Bandung, Senin (2/2).
Baca Juga:
Hasil Super League 2025/2026: Francisco Rivera Selamatkan Persebaya dari Kekalahan atas Persib
Persib Imbang Lawan Persebaya, Marc Klok: Wasit Sangat Jelek
Eksperimen Bernardo Tavares Terhadap Toni Firmansyah Jadi Kunci Sukses Persebaya Redam Persib
Arya Sinulingga menilai langkah Persebaya itu patut diapresiasi. Menurutnya, ujaran kebencian hingga rasisme adalah perilaku yang bertentangan dengan semangat sepak bola.
"Saya rasa klub seperti Persebaya jadi sebuah ini, bagi kita bahwa respons positif mereka itu sangat bagus," kata Arya Sinulingga.
"Jadi, kami respect betul dengan Persebaya yang membuat langkah seperti itu," ujar Arya.
Berharap Langkah Persebaya Diikuti Klub Lain
Arya berharap langkah berani Persebaya ini bisa menjadi inspirasi untuk klub-klub lain.
Menurut Arya, pesan yang disampaikan Persebaya dalam hal ini tegas bahwa mereka menolak keras ujaran kebencian hingga rasisme dalam sepak bola.
"Sehingga, gerakan ini jadi gerakan di tempat yang lain juga untuk menolak rasisme. Jadi, Persebaya sudah membuat gerakan, saya harap semua melakukan hal yang sama dan juga suporter pun juga melakukan hal yang sama," tuturnya menambahkan.
PSSI Menyayangkan Aksi Rasisme dan Ujaran Kebencian di Super League
Arya menyayangkan masih adanya suporter yang melakukan tindakan seperti rasisme dan ujaran kebencian terhadap pemain.
Kasus ini mencuat setelah Kakang Rudianto dari Persib Bandung dan Mikael Tata dari Persebaya Surabaya menjadi korbannya.
"Itu yang kita cukup sedih. Sebenarnya di dunia ini sepak bola fairplay-nya kuat. Sepak bola itu fair play. Dan, anti-rasisme itu sudah jadi gerakan di sepak bola."
"Jadi, sampai kenapa kita terlalu gampang tangan kita untuk menulis ataupun omongan kita terlalu gampang untuk rasis," tutur Arya.