Pecat Enzo Maresca, Chelsea Ramai Disindir di Medsos
BolaSkor.com - Kepemilikan Chelsea telah berganti dari Roman Abramovich ke pengusaha asal Amerika Serikat, Todd Boehly, dengan kepemilikan bersama Clearlake Capital.
Akan tapi ada satu siklus yang sama, mirip terjadi: pergantian pelatih.
Bukan rahasia umum apabila Chelsea era Abramovich kerapkali memecat dan menunjuk pelatih baru, dan kini itu terjadi kembali.
Baca Juga:
Ini Calon Pengganti Enzo Maresca di Chelsea?
Berpisah dengan Chelsea, Enzo Maresca Disebut Menuju Manchester United
Breaking News! Chelsea Pecat Enzo Maresca Tepat di Hari Pertama Tahun 2026
Enzo Maresca dipecat meski baru melatih Chelsea dua tahun dan eranya tidak buruk, dengan keberhasilan memenangi UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub.
Selaih itu, saat ini Chelsea dalam posisi bagus bersaing di empat besar Premier League juga masih berpatisipasi di Piala Liga, Piala FA, dan Liga Champions.
Dikritik di Media Sosial
Todd Boehly (pria yang mengenakan syal Chelsea) mengamati laga Chelsea (Getty Images)
Seiring pemecatan Maresca, Chelsea memicu reaksi dari media sosial (medsos) yang kebanyakan mengkritik keputusan konyol manajemen.
"Kembali jadi klub banter (ejekan) dan kami akan ada di sana," papar @DarrylRMFC.
"Chelsea di bawah Clearlake menjadi klub paling parah yang ditangani dalam sejarah olahraga," imbuh @ClinicalKai.
"Keputusan yang buruk, Direktur Olahraga yang seharusnya pergi. Obsesi ini, untuk merekrut pemain-pemain muda tak akan membawa kami ke mana-mana. Ini bukan Chelsea!" tambah @Wizard_Season.
Chelsea Ingin Pelatih yang Bisa Diatur

Enzo Maresca (x/ChelseaFC)
Ditambahkan oleh mantan pemain Chelsea, Pat Nevin, ia melihat petinggi Chelsea saat ini mencari pelatih yang dapat diatur, menjadi 'boneka' setelah memecat Maresca.
"Chelsea membutuhkan seseorang yang akan mengikuti metodologi tersebut. Dengan kata lain, mereka membutuhkan boneka," tambah Nevin di BBC Sport.
"Seseorang yang melakukan persis apa yang diperintahkan dari atas."
"Chelsea menginginkan kesuksesan. Mereka menginginkan poin untuk masuk empat atau lima besar dan lolos ke Liga Champions setiap musim."
"Tetapi mereka menginginkan sesuatu yang lain. Mereka menginginkan seseorang yang akan melakukan apa yang mereka perintahkan. Kedua hal itu mungkin tidak kompatibel," urai Nevin.