Momen pertama yang dimaksud pelatih asal Portugal itu terjadi di akhir babak pertama. Alfan Suaib terjatuh saat berduel memperebutkan bola. Tetapi wasit justru melanjutkan laga tanpa melihat VAR.
Momen kedua terjadi di babak kedua tatkala Diogo Brito menahan tandukan Gustavo Fernandes. Wasit sempat melihat VAR dan akhirnya mengubah keputusannya menjadi No Penalty.
Satu-satunya hadiah penalti yang diberikan wasit terjadi di penghujung laga. Setelah protes keras dari Gali Freitas, wasit akhirnya mengecek VAR. Bruno Moreira pun mencetak gol hiburan dari titik putih.
"Saya sudah melihat pemain dengan lengan seperti itu. Saya sudah melihat banyak penalti tetapi oke, keputusannya bukan penalti. Setelah itu, saya merasa kami kurang baik dalam mengontrol emosi karena kami berharap mendapat penalti," keluhnya.
Kontrol emosi yang buruk pada akhirnya berbuah kartu merah untuk Persebaya. Rachmat Irianto kedapatan VAR melayangkan tinjunya ke bagian wajah Gustavo Franca.
"Kami perlu lebih baik dalam mengendalikan emosi karena aku baru saja berada di sini. Ini kartu merah pertama selama jadi pelatih di Persebaya, tapi sebelumnya tim sudah punya enam. Jadi saat ini sudah dapat tujuh kartu merah. Terlalu banyak. Terlalu banyak," ucapnya.
"Saya pikir kami perlu bertanggung jawab. Ini membuat saya frustasi, Persebaya adalah tim terbanyak mendapatkan kartu merah, tujuh kartu merah. Kami harus mengubahnya" imbuh Tavares.
Selanjutnya, Persebaya akan bertemu PSM Makassar di Gelora Bung Tomo, Surabaya Rabu (25/2) malam WIB. Ini akan jadi kali pertama Bernardo Tavares menghadapi mantan tim yang dibesarkannya. (Laporan Kontributor Arjuna Pratama)