Pemecatan itu juga menjadi bukti inkonsistensi hierarki Man United yang tidak memercayai proses, mengingat Amorim baru melatih 14 bulan lalu (November 2024).

Di kala skuad tengah menyerap sistem tiga bek yang coba diterapkannya, juga dengan filosofi sepak bola yang dibawanya, proses itu terhenti dengan pemecatan tersebut.

Thomas Frank, pelatih Tottenham Hotspur, mengomentari pemecatan Amorim dan melihatnya sebagai contoh betapa susahnya klub untuk stabil meraih sukses jika terus mengganti personil, seperti pelatih.

Ruben Amorim dan Thomas Frank (The Athletic)

"Ini hanyalah contoh lain, dari sudut pandang saya, bahwa sangat sulit untuk mencapai kesuksesan berkelanjutan jika Anda mengganti personel kunci seperti pelatih kepala, direktur olahraga," tutur Frank dikutip dari Athletic.

"Jika Anda merasa memiliki orang yang tepat dan selaras, Anda perlu melakukannya dalam jangka waktu yang lama."

"Di dunia yang fantastis dan indah ini, Anda menang suatu hari dan Anda berada di surga; Anda kalah dan Anda berada di neraka."

"Klub-klub terbaik selaras - kepemilikan, kepemimpinan, dan pelatih - Liverpool, Man City, dan Arsenal."

Nuno Espirito Santo, pelatih West Ham United, juga mengomentari pemecatan Amorim dan memberi saran kepadanya.

"Seperti orang lain, (saya) terkejut. Saya sedih — dia (Amorim) orang Portugal, seorang manajer muda. Tapi begitulah adanya. Kita tahu bagaimana industri ini bekerja," imbuh Santo.

"Pulanglah, atur ulang pikiran, dan bersiaplah untuk tantangan berikutnya. Inilah hidup," urainya.