Amali juga menyoroti fenomena rivalitas di sepak bola modern. Ia berpesan agar tensi tinggi yang terjadi di lapangan hijau tidak merembet menjadi perpecahan di kehidupan sosial. Baginya, esensi dari lahirnya PSSI adalah persaudaraan.

"Jadi maknanya adalah kita sebagai masyarakat sepak bola ya harus bersatu. Istilah Pak Sekjen, pertarungan dan pertandingan itu hanya 2x45 menit. Setelah itu, ya kembali 'guyub' lagi, bersatu lagi sebagai keluarga sepak bola, sebagai warga Indonesia," tambahnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konflik yang berkepanjangan akibat sepak bola justru mencederai filosofi dasar federasi. Esensi 'persatuan' di balik berdirinya PSSI.

"Jangan sampai terpecah belah gara-gara sepak bola. Itu sudah melukai prinsip dari lahirnya PSSI," pungkasnya.

Di usia yang hampir mencapai satu abad ini, PSSI juga menegaskan komitmennya untuk melakukan pembenahan. Mulai dari kualitas kompetisi domestik hingga prestasi Timnas Indonesia.

PSSI bertekad membangun tim yang solid untuk menembus Piala Dunia 2030. Hal ini merupakan tujuan besar terdekat yang disasar oleh seluruh elemen pengurus sepak bola Tanah Air. (Arjuna Pratama)