
Rosenior ditunjuk untuk melanjutkan pekerjaan Maresca, karena mengetahui cara bermain Chelsea, setelah menjadi bagian dari model multiklub mereka di klub Prancis Strasbourg.
Secara desain, kedua klub bermain hampir dengan cara yang sama.
Melawan Charlton, Chelsea bermain dengan formasi 4-2-3-1 yang sama seperti yang digunakan Maresca, tetapi membangun serangan dengan sistem 3-2-2-3 yang digunakan Rosenior di Strasbourg.
Dari laga pertama, Rosenior juga menjelaskan ada beberapa sektor yang harus dibenahi dari tim barunya.
Chelsea kesulitan mempertahankan keunggulan musim ini, kehilangan 15 poin dari posisi unggul di Premier League dan hanya memenangkan satu dari sembilan pertandingan liga terakhir mereka.
Menurut Rosenior, tim asuhannya memang harus membenahi sisi intensitas bermain.
"Saya pikir hal terbesar yang saya tantang para pemain adalah reaksi kami terhadap kemunduran, intensitas kami," kata sang pelatih.
Chelsea juga rentan dalam situasi bola mati dan kembali kebobolan ketika Miles Leaburn membuat skor menjadi 2-1 di babak kedua di The Valley.
"Kita perlu meningkatkan aspek itu juga, lemparan jauh, tendangan bebas dari sisi lapangan, tendangan sudut yang masuk ke kotak penalti kami. Itulah dasar-dasar yang saya bicarakan dalam sepak bola," jelas Rosenior.
Rosenior menyadari akan sulit jika dirinya menerapkan taktik atau sistem berbeda pada saat ini.
Sistem dan gaya bermain berada di urutan bawah daftar prioritas Rosenior, mengingat banyaknya pertandingan yang harus dihadapi dan waktu persiapan yang sangat terbatas.