Dengan tanggal yang sama pertandingan berlangsung di Stade de Gerland, Lyon dan dihadiri sekitar 40.000 penonton. Wasit laga dipimpin oleh wasit asal Norwegia, Rude Pedersen.
Kroasia tak pernah menang di empat pertemuan sebelumnya melawan Jerman dan berstatus tim debutan. Dua tahun sebelumnya Kroasia sudah memperlihatkan sekilas kekuatan mereka saat kalah 1-2 melawan Jerman di Piala Eropa 1996.
Memiliki catatan 14 gol dan kebobolan tiga gol sebelum berjumpa dengan Kroasia wajar jika Jerman diunggulkan. Tetapi faktanya dalam pertandingan tim besutan Berti Vogts tak berdaya melawan determinasi bermain Kroasia arahan Miroslav Blazevic.
Jerman kalah 0-3 dari gol yang dicetak Robert Jarni (45+3'), Goran Vlaovic (80'), dan Davor Suker (85').
Jarni mencetak gol usai menerima umpan brilian dari Mario Stanic, sedangkan gol Vlaovic dan Suker menyelesaikan serangan balik Kroasia memanfaatkan Jerman yang frustrasi.
"Kroasia buat Jerman angkat koper. Jerman memainkan gaya sepak bola yang sudah basi dan terkubur," begitulah judul di media Italia, Gazzetta dello Sport.
"Jerman yang menua berpikir mentalitas bulldog sudah cukup, tapi mereka salah. Permainan atraktif Kroasia mengunci takdir mereka," tambah media Republik Ceko, Nedelni Blesk.
Penamaan judul dari Nedelni Blesk tidak salah. Vogts membawa pemain-pemain veteran Jerman seperti Lothar Matthaus (37 tahun), Andreas Kopke (36 tahun), Jurgen Klinsmann (34 tahun), dan Jurgen Kohler (33 tahun) serta delapan pemain lain di atas 30 tahun.
Vogts yang memimpin laga ke-100 Jerman bermain ofensif di babak kedua namun itu tak cukup meredam agresivitas Kroasia.
Kemenangan itu dirayakan bak meraih trofi: gambar Davor Suker berada di antara bendera Kroasia dan ia membentangkan bendera di lapangan, Franjo Tudjman (Presiden Kroasia kala itu) berdansa di ruang VIP.
"Ini momen bersejarah dalam sejarah sepak bola Kroasia," ucap Blazevic. "Kemenangan ini sangat memuaskan untuk negeri kecil kami; kami bermain dengan passion dan komitmen," imbuh Davor Suker.