"Sedari awal, Xabi merasa sendiri," tulis Balague dalam kolom tulisan di BBC Sport.
Alonso, 44 tahun, sudah berusaha bersabar mengatur skuad Madrid sejak awal datang dari Leverkusen.
Eranya diwarnai banyak drama mulai dari isu keributan dengan Vinicius Junior, kekalahan di final Piala Super Spanyol, hingga kurangnya dukungan dari klub.
Alonso menginginkan gelandang baru setelah Luka Modric pergi dan manajemen tak memberikannya.
Klimaksnya, pasca kalah dari Barcelona di Piala Super Spanyol, Kylian Mbappe bertolak dengan Alonso soal pemberian guard of honour dan para pemain memilih mengikutinya ketimbang Alonso.
Itu sudah memperlihatkan pengaruh Alonso yang tidak didengar para pemain Madrid, meyakinkannya untuk pergi sebagai pelatih klub.
"Kylian Mbappe memberi isyarat kepada rekan-rekan setimnya untuk meninggalkan lapangan. Xabi Alonso memintanya untuk tetap tinggal. Mbappe bersikeras. Dan Xabi, akhirnya, berpaling dan melakukan apa yang diminta oleh bintangnya," tambah Balague.
"Bagi banyak orang, itu tampak seperti kurangnya keanggunan sportif, sesuatu yang tidak pernah dikaitkan dengan Xabi Alonso. Itu juga menunjukkan sesuatu yang sama sekali berbeda, bahwa tim, bukan manajer, yang memegang kendali."
Xabi Alonso dan Florentino Perez (Laman Resmi Real Madrid)
Sudah tak dapat mengontrol ruang ganti Madrid, Alonso juga tak sepenuhnya didukung manajemen.
"Lebih dari sekadar krisis, ini adalah konfirmasi bahwa Florentino Perez tidak pernah benar-benar percaya pada manajernya," tambah Balague.
"Xabi Alonso disarankan kepadanya dan disetujui sebagai pelatih baru klub, tetapi tanpa keyakinan."
"Di klub sebelumnya, Bayer Leverkusen, tidak semua orang langsung menerima Xabi sejak hari pertama."
"Hasil pun datang, dan skuad pun berbalik mendukungnya. Di Madrid, bahkan dengan hasil yang cukup baik, hal itu tidak pernah terjadi. Sejak awal, Xabi merasa sendirian."